Story Without Title (Chapter 2)

Story Without Title©Sweet Devil

Seohyun x Kyuhyun
Genre: Sad Romance, Tragedy.
~Hope u like it~
Note: Biasanya rumah tradisional baik Korea maupun Jepang itu punya kebiasaan lantai kamarnya dilapisi tatami. Semacam tikar anyaman dari bambu.
Chapter 2
.
.
.

“Tunggu dulu, Kyuhyun-sshi! Seharusnya kau menempati kamar apartemen yang sudah disiapkan, anda tidak boleh tinggal disembarang tempat.”

Kyuhyun tersenyum tipis, sebelah telinganya yang memakai earphone menangkap dengan jelas suara panggilan dari ponselnya.

“Ne, tapi aku sudah memutuskan tempat mana yang akan kutinggali sementara disini. Kau tidak perlu khawatir, tempat itu nyaman dan yang pasti aman untukku.” Kyuhyun berkata kalem pada sang manajer lewat sambungan telepon dari ponselnya.

“Tapi Kyu-“

Click~

Kyuhyun mematikan sambungan telpon diponselnya secara sepihak, ia melepaskan earphone kecil yang menjadi alat bantu pendengarannya. Menyimpannya didalam saku mantel bersama ponselnya yang segera ia nonaktifkan. Kyuhyun menghela nafas panjang, uap gas mengepul dari mulutnya. Ia mendongak, menatap satu-persatu hiruk-pikuk keramaian stasiun kereta bawah tanah Jeju. Meski begitu, tak ada satupun suara yang dapat didengarnya dari keramaian tersebut.

Suhu semakin dingin, hari semakin gelap. Kyuhyun melirik arloji ditangannya. Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Musim gugur telah tiba, bersama angin sejuk khas musim gugur yang menerpa kulit Kyuhyun yang tak terlapisi oleh mantel. Dari kejauhan terlihat sosok seorang gadis yang berjalan kearahnya yang tengah duduk. Blus merah sederhana dengan rok krim, terlapisi oleh mantel tebal berwarna coklat. Gadis dengan rambut hitam panjang tergerai itu memakai bendana hitam dikepalanya, dengan sepatu putih tanpa hak, ia berjalan menuju tempat Kyuhyun duduk dengan dua gelas kopi hangat mengepul ditangannya.

Melihat kedatangan gadis itu, Seohyun namanya. Kyuhyun tergerak untuk segera berdiri dari posisi duduk nyamannya menontoni setiap keramian stasiun, menyambut kedatangan gadis itu dengan senyuman. Seohyun tersenyum manis, nafasnya sedikit terengah, dengan segumpal tipis uap gas yang mengepul didepan mulutnya. Gadis itu menyerahkan segelas kopi hangat yang masih mengeluarkan uap kepada Kyuhyun tanpa suara. Kyuhyun menerimanya dengan senang hati, kemudian mempersilahkan gadis itu agar segera duduk ditempatnya.

Seohyun kemudian duduk dengan tenang, Kyuhyun ikut duduk disebelah gadis itu. Keduanya terdiam dalam suasana hening, menyesap cairan pekat hangat dari dalam gelas masing-masing, liquid manis kepahitan itu membasahi lidah, masuk ketenggorokan dan kemudian tertelan. Tak ada satupun yang memecahkan keheningan diantara mereka, masing-masing sibuk mengamati satu-persatu orang-orang yang hilir mudik melintas di stasiun.

Hiruk-pikuk pergantian kereta. Kedatangan kereta yang membawa penumpang, keberangkatan kereta yang pergi bersama penumpang, barisan rapi didepan mesin loket masuk, kerumbungan ramai penumpang yang menunggu kereta, atau penumpang yang membeli minuman kaleng dan makanan ringan dari mesin terdekat.

“Ramai ya?”

Kyuhyun tiba-tiba bersuara ditengah keheningan diantara mereka yang sibuk mengamati keramaian disekeliling mereka. Seohyun tertegun sesaat, ia menjauhkan bibir gelas kopi dari mulutnya. Balik menahan pijakan sang gelas diatas kedua pahanya. Ia mengangguk kecil, membenarkan pertanyaan Kyuhyun barusan.

“Sayang sekali aku tak dapat mendengarnya.” Kyuhyun bergumam pelan usai melihat anggukan kecil dari Seohyun. Ia tersenyum hambar menatap lampu atas kereta yang menyala-menyala akan berangkat. Seohyun lekas menoleh pada Kyuhyun, menatap penuh tanda tanya pada pemuda itu. Kyuhyun balas menoleh menatap gadis itu.

“Ne, mungkin tidak terlihat dari penampilan luar. Tapi asal kau tahu saja, aku seorang tunanetra. Sama sepertimu, aku menderita ketulian.” Kyuhyun tersenyum tipis. Menggaruk pipinya perlahan salah tingkah, sementara gadis disebelahnya. Seohyun benar-benar shock mendengar pernyataan pemuda itu. Ia benar-benar tak mengira kalau pemuda baik-baik yang baru saja ditemuinya sore tadi adalah seorang penderita tuli, tunanetra sepertinya.

Padahal pemuda itu mampu berkomunikasi dengan baik, dan pemuda itu pulalah yang menolongnya sore tadi. Tapi, mengapa bisa?

“Kau pasti bertanya-tanya, tapi aku mampu membaca gerakan bibir seseorang. Jadi aku mengerti apa yang akan dibicarakannya. Aneh sekali bukan?” Kyuhyun tertawa kecil menjelaskan, ia kembali menyesap cairan kopi didalam gelasnya, liquid hitam pekat itu menyentuh indra pengecapnya.

Seohyun spontan menggeleng, ia kemudian merogoh saku mantelnya. Mengambil sebuah notebook kecil dan pulpen, lalu menuliskan sesuatu disana. Setelahnya, gadis itu merobek kertas tersebut, menunjukkan isi tulisannya pada Kyuhyun yang tengah meminum kopinya dengan tenang.

Kyuhyun tertegun, ia menghentikan sejenak kegiatan minumnya. Menatap kembali sebaris kalimat yang ditulis Seohyun diatas secarik kertas yang ia terima. Kyuhyun menatap dalam Seohyun, kemudian tersenyum tulus.

“Tentu saja.” Kyuhyun berkata dengan tulus, menyimpan dengan hati-hati kertas yang ia terima dari Seohyun tersebut. Pemuda itu kembali menyesap kopinya, menatap penuh perhatian pada Seohyun yang balas mengangguk dan tersenyum manis dengan pipi bersemu kearahnya, gadis itu kemudian juga ikut menyesap cairan kopi dari dalam gelasnya, melirik sedikit pemuda disebelahnya masih dengan wajah kemerahan.

Kyuhyun tersenyum geli, pikirannya berkecamuk. Ia yakin gadis itu menuliskannya dengan tulus, entah apakah wajah bersemu Seohyun karna gadis itu kedinginan atau jangan-jangan karna malu dengannya. Tapi satu yang pasti, kalimat yang digores diatas kertas yang barusan diterimanya itu, sedikit menghangatkan perasaannya ditengah suasana malam musim gugur yang dingin ini. Hanya secarik kertas biasa, yang berisikan sebaris kalimat istimewa.

‘Itu menakjubkan, bukankah kita akan saling melengkapi?’

Seohyun menggeser pintu rumahnya. Lebih tepatnya sebuah mansion, berarsitektur tradisional dengan gaya istana pada masa Joseon kuno. Kyuhyun melepaskan alas kakinya, menapaki lantai kayu mengkilap rumah besar tersebut.

“Kupikir mansion mu lebih cocok disebut istana Joseon.” Kyuhyun berkata spontan saat ia mengamati satu-persatu arsitektur serta interior rumah yang masih terkesan tradisional. Seohyun tak berkata apa-apa, namun tersenyum dalam diam. Gadis itu menuntun Kyuhyun untuk melewati koridor rumah yang dipenuhi dengan lukisan-lukisan alam. Serta foto-foto perkamen kuno berisikan sajak puisi tradisional yang terkenal masa kerajaan Joseon dulu. Keduaya tiba didepan sebuah pintu geser besar, namun Seohyun terlebih dahulu berhenti didepan sebuah meja merah yang terletak disisi kanan pintu.

Seohyun menyalakan kemanyen yang berada diatas meja tersebut, menepukkan kedua telapak tangannya dua kali. Gadis itu kemudian menutup matanya, berdoa dalam hati. Kyuhyun yang mengamatinya kemudian menunggu gadis itu hingga selesai.

Seohyun mengusap penuh sayang pada satu-satunya pigura foto yang ada disana. Seorang wanita cantik, dengan rambut hitam panjang yang persis seperti milik Seohyun, tersenyum manis dengan kedua mata bulatnya yang menyipit.

“Siapa dia?” Kyuhyun bertanya, Seohyun menoleh. Ia kemudian menuliskan sesuatu diatas kertas notebooknya, kemudian menunjukkannya pada Kyuhyun.

‘Dia oemmaku.’

“Oemma? Sejak kapan dia meninggal?” Kyuhyun ikut menatap pigura foto wanita tersebut sementara Seohyun kembali menuliskan sesuatu dilembar kertas notebooknya yang lain.

‘Tepat 10 tahun yang lalu, hari yang sama saat aku menjadi bisu.’

Kyuhyun mengamati raut wajah sendu yang tiba-tiba menyelemuti Seohyun usai ia membaca kertas tersebut. Seohyun kembali menyimpan notebook dan pulpennya kedalam saku blus merahnya, sementara Kyuhyun bungkam ditempat. Mata pemuda itu kemudian menemukan sebuah benda kecil berbentuk panjang, tertancap tepat disamping bilah kemanyen yang menyala dengan segaris asap tipis.

“Kuas apa ini?” Kyuhyun kembali melontarkan pertanyaan, meski ia sendiri tak dapat mendengar apa yang dikatakannya. Pemuda itu menunjuk bilah kayu berwarna kuning pudar tersebut, dengan ujung kuasnya yang telah kusut dan tipis. Kyuhyun kembali menatap Seohyun, meminta penjelasan gadis itu. Menahan keinginannya untuk segera menyetuh dan memeriksa kuas tua itu.

Seohyun tersenyum sendu, ia membuat sebuah gerakan isyarat. Tangan kanan dengan lima jari yang dirapatkan. Diletakkan dibahu sebelah kiri dekat telinga. Setelah selesai, kelima jari kedua telapak tangannya dirapatkan, membuat gerakan membulat dengan telapak tangan ditekukkan. Tangan kanan diatas, lalu tangan kiri dibagian bawah. Kemudian kedua telapak tangannya ditangkupkan didepan dada, Seohyun menunduk sedikit. Sebuah gerakan untuk bahasa isyarat yang dapat dimengerti oleh Kyuhyun.

‘Benda itu berharga bagiku.’

Kyuhyun kembali tertegun, entah mengapa ia merasa jemarinya gemetar perlahan. Kyuhyun tak dapat mengontrol detak jantungnya yang naik secara konstan, ia sendiri tak mengerti mengapa arti dari gerakan isyarat gadis itu mampu menariknya sehebat ini. Dan senyum sendu yang tergambar diwajah gadis itu, memikatnya tanpa akhir. Padahal akal sehatnya telah mengatakan bahwa ia sama sekali tak ada hubungannya dengan benda itu.

Tapi, benarkah? Benarkah ia memang tak ada hubungannya dengan benda itu? Mengapa perasaannya untuk menyentuh dan memeriksa kuas tua yang sangat berarti bagi Seohyun itu semakin kuat? Seakan-akan ia bisa memecahkan seluruh misteri peristiwa 10 tahun lalu, peristiwa yang membuatnya kembali ke pulau ini, pulau Jeju, pulau penuh kenangan.

Apakah ini takdir? Atau semacam kebetulan?

Kyuhyun menggeser tutup pintu salah satu kamar rumah Seohyun yang sengaja ia sewa sementara ia tinggal di pulau ini. Lelaki itu menatap sekeliling ruangan berukuran empat tatami itu. Salah satu dindingnya menjadi lemari pintu geser dua tingkat. Lalu ada rak kecil bertingkat disudut ruangan, dengan meja kecil yang diatasnya terdapat televisi berukuran 21 inch. Lantai tatami yang terbuat dari bambu berwarna kuning cerah, dengan beberapa serat kehijauan yang berkilau. Terdapat satu jendela di dinding kamar yang lain, dengan gorden rendah geser berwarna putih tanpa motif.

Kyuhyun menyukainya. Ia rasa akan menikmati hari-hari ia akan meninggali kamar bernuansa tradisional yang nyaman dan bersih ini. Lelaki itu kemudian membuka pintu lemari geser bagian atasnya, lalu membuka resleting koper ditangannya. Satu persatu ia memasukkan lembaran pakaiannya yang terlipat rapi. Selesai, Kyuhyun meninggalkan barang-barang pribadinya tetap didalam koper yang diletakkan disisi tumpukan lipatan pakaiannya disudut lemari besar tersebut. Ia memeriksa isi lemari bagian bawah, menemukan peralatan tidur lengkap yang terlipat rapi disana. Sepasang bantal dan sebuah futon berwarna putih, dengan selembar selimut tipis berwarna hijau toska dan selimut tebal berwarna biru malam. Selesai memeriksa seluruh isi lemari, Kyuhyun menggeser pintu lemari tersebut, bermaksud menutupnya.

Kyuhyun kemudian duduk diatas lantai tatami kamar, menyandarkan punggung letihnya di dinding kamar. Lelaki itu merenung, menatap langit-langit kamar tempat bergantung satu-satunya lampu disana. Kyuhyun sadar, keputusannya untuk menolak tinggal dikamar apartemen yang telah disiapkan manajernya terlalu mendadak. Entahlah, tapi tiba-tiba saja saat gadis itu, Seohyun. Menawarinya untuk tinggal disalah satu kamar rumah gadis itu yang tak terpakai, ia segera terpikat untuk menyewanya dan tinggal disana. Seperti ada semacam tali takdir yang mengikatnya agar terus berusaha bersama gadis itu. Dan ia tak mengerti mengapa.

Tok… Tok… Tok…

Kyuhyun terkesiap dari lamunannya saat menemukan dinding kamarnya diketuk tiga kali dari luar, Kyuhyun dapat melihatnya. Dari balik kertas kayu buram yang melapisi pintu geser kamarnya, duduk seorang gadis yang diyakininya sebagai Seohyun. Tak membuang waktu lama, Kyuhyun menggeser pintu kayu kamarnya. Menemukan Seohyun yang tersenyum bersimpuh didepannya. Kyuhyun terkaget, tak terbiasa diperlakukan seformal ini. Mungkin ia biasa saat menghadapi orang-orang yang membungkukkan badan mereka dengan hormat, tapi melihat seorang gadis duduk bersimpuh dengan sebuah senyuman manis tepat didepan ambang pintu kamarnya tidaklah biasa. Ia seperti bernostalgia dengan salah satu scene film kolosal Korea pada jaman dinasti Joseon, dimana saat itu kehormatan dijunjung tinggi.

“Ne, Seohyun. Tidak usah terlalu formal kepadaku, aku hanya seorang penyewa kamar biasa. Lagipula kita seumuran, bukan?” Kyuhyun berbicara, mengenali sendiri apa yang tengah dibicarakannya dari gerakan bibir yang ia rasakan. Seohyun kemudian berdiri, ia kembali tersenyum. Meletakkan tangannya didepan dada gadis itu memimpin langkah mereka, membuat Kyuhyun mengikuti satu-persatu langkah gadis itu.

“Kita mau kemana?” Kyuhyun bertanya, meski ia tak dapat mendengar suara yang dikeluarkannya sendiri.

Seohyun tersenyum kecil, meletakkan satu tangannya didepan bibirnya. Sebuah gerakan isyarat.

‘Rahasia.’

Kyuhyun menatap takjub pada ruangan besar berdinding bambu tersebut. Disampingnya Seohyun berseri-seri. Lelaki itu mendekati pinggiran kolam, menyentuhkan ujung jemari kakinya pada air kolam yang hangat.

Sebuah pemandian air panas.

“Kupikir di Korea tak ada satupun tempat yang seperti ini lagi.” Kyuhyun bergumam. Ia dapat melihat mata air yang keluar dari pipa batang bambu, begerak naik ketika air habis, lalu turun saat air terisi penuh lalu menumpahkan limpahan air hangatnya kedalam kolam. Terus bergerak teratur seperti itu dengan kecepatan konstan. Kyuhyun menoleh, menatap Seohyun.

Seohyun membuat gerakan isyarat lain, dan Kyuhyun memahaminya.

‘Keluargaku terus menjaga tradisi ditengah peradaban teknologi, kau pasti mengerti bukan?’

Kyuhyun mengangguk begitu berhasil menerjemahkan gerakan isyarat yang cukup rumit itu. Ia membalasnya dengan gerakan isyarat yang lain.

‘Terima kasih sudah memberitahuku tentang tempat ini.’

Seohyun tersenyum kecil, ia berdehem tak bersuara. Bibirnya komat-kamit, dan Kyuhyun seperti biasa menerjemahkan gerakan bibir gadis itu. Meski Kyuhyun tak dapat mendengar, ia yakin gadis itu menggerakkan bibirnya tanpa suara.

‘Cheonma.’

Seohyun hendak berbalik, sebelum gumaman suara Kyuhyun yang pelan memecah bunyi gemericik air yang jatuh dari batang bambu disudut kolam pemandian. Indra pendengaran Seohyun berfungsi dengan sangat baik, kehilangan salah satu indranya membuat keempat indra lain yang dimilikinya jauh lebih peka dari manusia normal yang sempurna.

“Andai telingaku berfungsi, pasti terasa tenang bisa mendengar suara gemericik air kolam.”

Gadis itu merogoh saku depan bajunya, menuliskan sesuatu diatas kertas notebooknya. Kemudian menyelipkan potongan kertas tersebut diantara dinding bambu pemandian. Gadis itu beranjak keluar, menutup tirai rapat yang berfungsi sebagai pintu tersebut.

Kyuhyun meraih kertas yang terselip diantara dinding batang bambu tersebut, membaca kalimat yang digoreskan Seohyun diatasnya. Selesai, lelaki itu menyimpan kertas tersebut dalam saku celananya. Melangkah menuju pinggiran kolam dengan hati lebih ringan. Sekali lagi, detak jantungnya bertalu dua kali lebih cepat karna gadis itu. Seohyun, meski tanpa bunyi suara. Ia berhasil membuatnya terpesona oleh goresan kalimat diatas kertas yang dibuatnya. Ingin tahu apa yang dituliskan gadis itu?

‘Dan andai aku dapat bersuara, aku pasti akan berteriak sepuasnya kalau aku sempurna. Tanpa kekurangan satu fungsi indra manapun. Bukankah Tuhan adil ne, Kyuhyun? Kupikir tak ada satupun manusia yang merasa cukup, yang tak sempurna bahkan yang sempurna. Hanya tinggal bagaimana masing-masing menikmati hidupnya. Meski kekurangan, aku menikmati hidupku. Bagaimana denganmu?’

Kyuhyun menggulung handuk basah hangat diatas kepalanya, ia membiarkan punggungnya terus diguyur oleh air hangat yang keluar dari pipa bambu. Seluruh tubuhnya segar, letihnya seakan sirna. Air kolam yang hangat membasuh tubuhnya dengan nyaman. Lelaki itu kemudian menyandarkan punggungnya kesisi kolam. Ia kembali teringat dengan rencana liburannya di pulau ini yang diperuntukkan baginya untuk menyiapkan pameran lukisan tahun depan. Memejamkan matanya sejenak, Kyuhyun perlahan-lahan menyusun kepingan memorinya selama berada di Jeju seharian ini.

Menjalani kehidupan sebagai tunanetra. Lalu tak sengaja bertemu dengan gadis tunanetra sepertinya dan menyelamatkannya. Tanpa ia sadari ia semakin tertarik dengan gadis itu dan seakan tak ingin berpisah dengannya.

Kyuhyun terkesiap, ia mendadak mendapat ide cemerlang. Satu-persatu rencana pelukisan untuk pameran tahun depannya tersusun rapi dalam pikirannya. Ya ia tak akan ragu lagi. Ia akan membuat suatu inovasi terbaru dalam lukisannya.

Lukisan bersambung. Dimana setiap kanvas yang dilukisnya memuat potongan-potongan cerita yang runtut, dan ia akan memamerkan seluruh lukisan yang memuat cerita bersambung itu dalam pamerannya. Sumber inspirasinya ada disini, tepat berada disisinya sekarang. Kyuhyun dapat membayangkan tiap lukisan yang akan dibuatnya dalam kanvas-kanvas kosong yang masih bersih. Dimana kisah bermula pada dua tokoh utama dalam lukisan yang bercerita tentang lelaki tuli dan gadis bisu yang tak sengaja dipertemukan oleh benang takdir yang mengikat keduanya.

Kyuhyun memalingkan pandangannya, menatap satu-persatu bambu tua yang diikat membentuk dinding sekeliling kolam. Sebuah pemandian air panas tradisional, dengan mata air berasal dari bebatuan gunung.

Kyuhyun mendapatkan ide lagi. Tambahan karakter untuk dua tokoh utama dalam cerita yang akan dilukiskannya. Setting lukisan yang akan diambilnya adalah setting waktu pada masa dinasti Joseon. Dimana saat itu kerajaan dipimpin oleh seorang Raja.

Sang lelaki bangsawan yang tuli, jatuh cinta pada putri Raja yang bisu. Keduanya saling bersama, namun saling menyembunyikan jati diri. Pada kenyataannya mereka adalah keturunan bangsawan yang terabaikan karna tak sempurna, namun masing-masing saling mengaku bahwa mereka adalah rakyat jelata biasa. Sang lelaki yang menolak bergelut dalam dunia politik yang licik dan dipenuhi trik, mencintai seni lukis yang bertentangan dengan tradisi keluarganya. Sementara sang putri yang dituntut cerdik dan cakap, mencintai kesendiriannya dalam diam sembari menulis sebait puisi.

Kyuhyun tersenyum kecil, ia kembali memejamkan matanya saat membayangkan bagaimana masing-masing karakter tokoh lukisan yang akan dibuatnya. Kisahnya bersama Seohyun menjadi sumber inspirasinya, dan rumah ini juga. Rumah penuh dengan budaya tradisional yang masih belum tersentuh oleh peradaban teknologi itu juga membuatnya mampu membayangkan bagaimana kedua sejoli itu akan tumbuh dalam lingkungan kerajaan pada masa dinasti Joseon. Masa setiap orang dijunjung berdarah ksatria. Menjunjung kesetiaan, keberanian, dan kehormatan yang berada diatas segalanya.

Lelaki itu tak sabar, untuk menyetuh kulit kayu kuasnya yang selalu terasa nyaman dalam genggamannya.

Kyuhyun mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk bilasan terakhirnya, sebelum kemudian melilitkan handuk disepanjang pinggangnya. Lelaki itu meraih celana training dan kaus sederhana lalu mengenakannya. Segera ia keluar dari ruang kolam pemandian, rambutnya yang lepek karna basah masih meneteskan air.

Selesai makan malam, Kyuhyun kembali ke kamar. Dengan segera ia mencari peralatan melukisnya yang ia simpan didalam koper, tepat dipojok lemari geser berdampingan dengan futon dan selimut tidurnya.

Lelaki itu menggenggam pensil untuk membuat sketsa dasar diatas kanvas bersihnya. Satu-persatu garis beraturan digoreskannya, merangkai perlahan sketsa kasarnya. Kerutan halus menghiasi wajahnya yang serius. Gambaran objek yang akan segera ia buat tercetak jelas dalam memorinya. Malam yang dingin, tak ada satupun yang dapat didengar oleh Kyuhyun. Bahkan meski itu suara goresan pensilnya yang bergulir halus, ia tak menyadari bahwa ada langkah perlahan yang mendekati kamarnya.

Seohyun, berdiri diluar kamar Kyuhyun. Ia mengintip dari kertas pintu geser kamar lelaki itu, menemukan Kyuhyun yang bertampang serius tengah mengerjakan lukisannya dalam diam. Gadis itu tersenyum tipis, setelahnya melangkah menjauhi kamar itu.

‘Sudah kuduga. Cho Kyuhyun si pelukis itu, bukan?’ Seohyun bergumam dalam hati.

Rupanya tebakannya selama ini benar. Ketika lelaki itu memperkenalkan diri sebagai Kyuhyun, bayangan lelaki pelukis muda yang baru-baru ini menjadi terkenal berkat lukisan-lukisannya yang menakjubkan memenuhi pikiran Seohyun. Karna ia adalah salah satu pengagum lelaki itu. Lebih tepatnya karna sang haraboji, adalah seorang kolektor langganan Kyuhyun.

Goresan cat air yang halus, serta paduan warna yang natural dan tak mencolok. Objek yang terlihat nyata dan penyampaian makna lukisan yang tegas merupakan satu dari sekian banyak keunggulan lukisan pemuda itu. Seohyun memang tak bisa mengomentarinya, namun ia suka mengamatinya. Meneliti bagaimana halusnya kualitas lukisan yang sempurna, dan Seohyun yakin Kyuhyun pastilah mengerjakan setiap kanvasnya dengan tulus. Dan ia ingin menjadi seperti pemuda itu. Yang meskipun tunanetra tetap dapat berkarya dan berprestasi.

Terlebih ia ingin lebih menghayati tiap kalimat narasi yang dituangkannya dalam bentuk cerita. Agar novel yang dihasilkannya dapat maksimal dan mampu mempesona siapa saja yang membacanya, sama seperti pesona lukisan yang dibuat oleh Kyuhyun.

Seohyun tersenyum kecil, ia menggeser pintu kamarnya. Tiba-tiba saja gadis itu merindukan pena dan lembaran kertasnya. Melirik meja kerjanya yang berisi berbagai macam alat tulis, gadis itu menatap bingkai foto yang terletak disudut meja tersebut. Itu gambarnya, dengan seorang gadis lagi yang lebih tua beberapa tahun darinya. Im Yoona, sahabat dan editornya yang selalu bersemangat untuk mendukungnya selama ini. Seohyun sadar, ia tak akan pernah bisa membalas segala kebaikan dan motivasi Yoona untuknya selama ini hanya dengan terima kasih saja.

‘Ne, aku juga akan berjuang keras, Yonna-ya.’ Ungkap Seohyun dalam hati dan perlahan mendekati meja kerjanya.
.
.
.
Yoona merapikan benda-bendanya, kemudian menjejalkannya dengan asal kedalam tas selempangnya. Rambut hitamnya tergerai bergelombang, dengan poni diangkat keatas menggunakan sebuah penjepit rambut. Sweater tipis berwarna pinknya dipadu dengan celana berwarna coklat muda. Gadis itu mematut penampilannya didepan cermin, alisnya berkerut halus. Memastikan hal apa lagi yang kurang darinya. Ia menjentikkan jarinya, kemudian berbalik dari cermin. Meraih sebuah scraft berwarna pink keunguan, kemudian melingkarkannya dileher.

“Hm, sempurna.” Gumamnya lebih pada diri sendiri, ia mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja. Kemudian melangkah keluar dari kamar apartemen yang ditempatinya sendirian. Meraih kunci mobil, kemudian menutup pintu apartemennya tanpa dikunci. Karna memang pintu terkunci otomatis ketika ditutup dari luar oleh password yang terpasang pada handle pintu.

Gadis itu bergerak menuju lift, menekan tombol buka. Seketika pula pintu lift terbuka otomatis, gadis itu melangkah masuk. Dan mematut bayangan dirinya yang buram dari dinding baja lift yang memantulkan bayangannya. Yoona melirik layar ponselnya, menemukan wallpaper disana adalah gambar dirinya bersama seorang gadis lainnya. Seo Joo Hyun. Gadis lebih muda darinya dua tahun itu tersenyum manis didepan kamera saat mereka berfoto.

Yoona tersenyum hangat dibuatnya, perasaannya membaik ketika melihat foto kenang-kenangan mereka berdua tersebut. Meskipun Yoona adalah editor Seohyun, mengingat Seohyun adalah seorang penulis berbakat yang baru saja sukses dengan novel perdananya. Sebenarnya Yoona telah mengenal Seohyun sejak sekolah dasar, waktu itu mereka memang tak terlalu berteman. Tapi semenjak mereka memasuki sekolah menengah pertama yang sama, atau sekitar berumur 13 tahun. Tepatnya setelah Seohyun mengalami sebuah kecelakaan dan ditabrak oleh orang tak dikenal, sehingga gadis itu kehilangan suaranya. Semenjak itu pula Yoona bersahabat dengan Seohyun. Awalnya memang berasal dari rasa empati kepada gadis yang baru saja harus kehilangan orang tuanya lalu tiba-tiba saja terkena cobaan lain dengan menjadi bisu, tapi lama-kelamaan rasa empati yang diberikannya pada Seohyun membuat Yoona sadar. Bahwa semuanya lebih dari sekedar perasaan itu. Ada rasa mengasihi yang terkandung dalam, ia ingin melindungi gadis itu. Ia ingin bersama gadis itu dan memelihara senyumnya yang semenjak kecelakaan itu berubah menjadi senyum palsu belaka, dan Yoona menyadarinya. Karna itu ia ingin menolongnya, menolong agar gadis itu kembali ceria seperti sedia kala. Menolong agar gadis itu kembali tersenyum dengan tulus, bukannya memasang senyum palsu yang menyedihkan itu. Karna itu Yoona ingin menjadi sahabat Seohyun, yang akan selalu ada untuk gadis itu. Karna Yoona juga ingin melindungi Seohyun, sama seperti gadis itu dulu melindunginya.

Peristiwa itu sudah lama sekali, jauh sebelum kecelakaan dan kematian kedua orang tua Seohyun terjadi. Bahkan mungkin Seohyun telah lama melupakannya, tapi Yoona tidak. Yoona tak akan pernah bisa melupakannya, melupakan bagaimana saat itu Seohyun untuk pertama kalinya mereka bertemu menolongnya saat itu. Disaat ia sudah merasa putus asa dan menyerah dengan hidupnya.

Flashback

Saat itu Yoona masih berada dikelas 3 sekolah dasar. Ia baru pertama kali berkenalan dengan Seohyun, tentu saja saat itu ia masih belum akrab. Sejak awal, teman-teman sekelasnya memang sudah seperti menjauhi dan malas berteman dengannya. Tapi Yoona kecil hanya diam dan tak mempermasalahkan hal itu. Jika anak-anak lain mungkin akan mengatakan hal tersebut pada kedua orang tuanya, maka tidak dengan Yoona. Saat anak-anak seusianya bermanja-manja dengan kedua orang tuanya, ia justru dituntut untuk lebih mandiri dan bisa melakukan segala halnya sendirian. Karna saat itu, rumah tangga orang tuanya sedang berada diambang kehancuran.

Rumah kecil yang terlihat tentram dari luar itu dipenuhi dengan percekcokan panas, pertengkaran, dan adu mulut yang terdengar nyaring setiap harinya. Kedua orang tuanya tak bisa berhenti bertengkar, mereka kelihatan seperti tak akan pernah akur. Dan Yoona kecil saat itu hanya bisa meringkuk ketakutan dalam selimutnya. Rumah yang bagai neraka itu satu-satunya tempat kembalinya, dan ia tak punya tempat kembali yang lain.

Disaat anak-anak seusianya sibuk bermain dan belajar, ia justru sibuk menangis dan menangis. Disaat anak seusianya tidak mengenal apa itu amarah, maka Yoona kecil saat itu sudah sangat mengenalnya bahkan menontonnya hampir setiap hari.

Sampai pada hari yang naas itu, hari dimana kedua orang tuanya memutuskan bercerai. Ibunya ternyata tertangkap basah oleh Ayahnya tengah berselingkuh dengan lelaki tetangga rumah mereka, dan hal itu membuat Ayahnya marah besar. Yoona kecil hanya bisa mendengarkan dalam isak tangis dibalik pintu kamarnya yang terbuka dengan celah sempit.

Hari itu, Yoona menunggu salah satu dari kedua orang tuanya untuk segera menjemputnya. Ia duduk sendirian didepan gedung sekolah, sementara teman-temannya yang lain sudah pulang terlebih dahulu oleh jemputan orang tua mereka. Yoona kecil hanya mampu menatapnya penuh iri, hingga saat itu seorang gadis kecil mendekatinya dan menyapanya dengan sebuah senyuman ceria yang untuk pertama kalinya ia dapatkan setelah hari-hari suram yang selama ini dilaluinya.

Yoona tahu namanya Seohyun. Ia gadis kecil adik kelasnya yang populer. Ceria, menyenangkan, baik hati, pintar, dan murah senyum. Dan Yoona tak meragukan hal tersebut ketika mereka bertemu walau untuk pertama kalinya. Sejenak, percakapan ringan diantara mereka membuat Yoona kecil melupakan perihal kedua orang tuanya. Hingga saat itu Ayahnya datang menjemputnya. Wajah Ayahnya saat itu pucat, bahkan seperti tak berekpresi apapun lagi. Pria dewasa yang berstatus sebagai ayah kandungnya itu menyeretnya pulang tanpa perduli pada kehadiran Seohyun disana yang segera saja juga dijemput oleh Ibunya.

Yoona kecil hanya bisa menurut dan masuk ke mobil, sementara sang Ayah segera membawa mereka melaju menuju rumah. Disisi lain, Seohyun kecil justru mendapat firasat buruk, meyakinkan Ibunya. Akhirnya ia bersama Ibunya mengikuti kemana mobil yang membawa Yoona melaju.

Setibanya di rumah, Yoona dibuat kaget disana. Ia menemukan tubuh Ibunya tergeletak tak berdaya diatas lantai rumah dengan kepala berdarah. Dengan tubuh gemetar Yoona mencoba mengguncang tubuh Ibunya agar wanita itu segera sadar dan lekas bangun, namun yang didapatinya hanya keheningan. Dari pojok ruangan, Ayahnya justru datang dengan senyuman mengerikannya yang menjijikkan. Yoona tahu kalau hal itu adalah perbuatan Ayahnya, ia menatap Ayahnya dengan penuh rasa benci.

“Jangan menatapku tajam seperti itu, sayang.” Suara serak Ayahnya yang menyeramkan dan berbeda dari biasanya. Lelaki itu melangkah mendekati jasad istrinya yang tewas menggenaskan ditangannya sendiri. Sebuah senyum janggal terpatri diwajah pucatnya, Yoona berjengit menatapnya.

“Ini semua terjadi karna Ibumu sendiri. Dia yang bodoh meninggalkanku untuk berselingkuh dengan lelaki banjingan itu. Selanjutnya aku yang akan menghabisi laki-laki itu.” Jemari kurus Ayahnya menggenggam erat dagu tirus Ibunya yang telah terbujur kaku. Sepasang mata Ayahnya yang serupa dengannya itu melirik Yoona dengan tajam.

“Tapi sebelum itu harus kuhabisi seluruh saksi mata yang ada.” Ujarnya penuh penekanan, ia tertawa sinis bagai orang kesetanan. Lelaki itu membawa sebuah pisau dapur yang disiapkan untuk Yoona, anak kandungnya sendiri.

“MATI SAJA KA-“

BRAKK~

Lelaki keji yang merupakan Ayah kandungnya itu segera tumbang ditempat, ketika kepalanya dihajar benda tumpul oleh orang lain yang berada dibelakangnya. Pupil Yoona mengecil ketakutan, ia melotot tak percaya pada kenyataan yang harus dihadapinya pada usia dini. Ayahnya sendiri yang menghabisi Ibunya karna beselingkuh, dan kini lelaki itu juga mau menghabisinya. Namun beruntung, wanita yang ternyata Ibu Seohyun. Yang tadi dipaksa anaknya untuk mengikuti Yoona tadi lekas datang dan menghentikan aksi keji tersebut.

Yoona beringsut ketakutan, ia terbaring tak berdaya diatas lantai marmer rumahnya yang dingin. Keringat bercucuran deras dari wajah kecilnya, masih tergambar jelas raut ketakutan disana. Seohyun yang melihatnya segera menghampiri kakak kelasnya itu. Ia beruntung, firasat buruknya memang benar dan keputusannya untuk memaksa sang Ibunda agar mengikuti Ayah temannya itu tepat. Ibunya dengan cepat menghentikan aksi lelaki itu, tapi yang membuatnya sekarang khawatir adalah kondisi Yoona, teman baru yang dikenalnya pulang sekolah barusan.

Gadis kecil itu gemetar ketakutan dengan wajah memucat dan keringat bercucuran disekujur tubuhnya. Seohyun menghampiri tubuh Yoona dan berlutut disisinya. Dengan sebuah senyum hangat ia mengusap kening Yoona dengan lembut.

“Tenang saja, aku dan oemmaku sudah menolongmu. Semuanya akan baik-baik saja, kami akan melindungimu. Kau tak perlu khawatir lagi.”

Kepala Yoona serasa berdenyut, dan sekelilingnya terasa berputar. Kalimat Seohyun terus terngiang, mengiringi langkah kegelapan yang kian merengkuhnya. Sebelum kedua kelopak matanya yang terasa berat tertutup berat, ia dapat melihat. Segaris senyum Seohyun yang penuh kehangatan meyakinkannya, bahwa bersama gadis itu. Sejenak ia dapat melupakan seluruh masalahnya, dan ia yakin.

Ia akan baik-baik saja.

‘Gomawo’

Flashback End

Pintu lift terbuka, seiring dengan lamunannya yang terbuyarkan dari memori masa lalu. Yoona tiba di lantai dasar, ia hendak keluar. Berpapasan dengan seorang pria dewasa dengan setelan kemeja formal. Pria itu sama sekali tak nampak memperhatikan Yoona, ia tengah menelpon seseorang, terlihat dari android yang berada ditangan kirinya didekatkan ketelinga, seperti menunggu panggilan. Suara sambungan yang di speaker terdengar jelas hingga ke telinga Yoona, semula gadis itu mengacuhkannya saja, hingga sebuah nama yang tak asing mengusik pendengarannya.

“Cho Kyuhyun-sshi.”

Yoona seketika menoleh, wajahnya terkaget. Menatap pria itu dengan pandangan tak dapat diartikan, pria berkemeja putih itu juga terlihat bingung saat Yoona menatapnya serius. Yoona baru saja hendak mengucapkan sesuatu, ketika akhirnya pintu lift tertutup dan sosok pria itu segera tersembunyi dari balik boks lift yang segera bergerak naik menurut lantai yang dituju.

Yoona tertenung di tempat, tba-tiba saja sederet pertanyaan berseleweran dikepalanya.

‘Bagaimana bisa si ‘Cho Kyuhyun’ itu disebutkan disini? Di Jeju? Bukankah dia sudah menghilang?’

Kyuhyun menggeser pintu kamarnya, melangkah keluar dengan wajah lebih segar pagi itu dengan sepasang kanvas dan pensil sketsa. Salah satu kanvasnya masih kosong, sementara yang lainnya masih berupa sketsa setengah jadi. Lelaki itu berjalan disepanjang lantai koridor rumah tradisional tersebut. Mengamati satu-persatu lukisan dan sajak puisi kuno yang terpasang disepanjang dinding. Lukisan jejeran pohon Sakura yang terlihat hidup, dengan helaian kelopak pinknya yang rumit. Suasana musim semi yang kental dan sarat akan kesederhanaan itu menarik perhatian Kyuhyun. Ia mengamati lukisan itu lebih lama dibanding yang lainnya. Alisnya berkerut halus, dengan pensil sketsa tanpa sadar menjadi penyangga dagunya.

“Kau terpesona?”

Seorang pria tua mendekat dan berdiri tepat disisi Kyuhyun. Kyuhyun tak bergeming, lelaki itu tak menyadari dan tak dapat mendengar pertanyaannya.

‘Ah, jadi ini penyewa kamar baru yang dibicarakan cucuku? Tuli, ya?’

Lelaki tua itu meraih sebuah nota kecil dengan pulpen dari balik kantung hanbok tidurnya. Lalu menyodorkannya tepat didepan wajah Kyuhyun yang sedikit lebih tinggi dirinya. Kyuhyun terkesiap, ia sangat kaget begitu tiba-tiba sebuah kertas berisi beberapa kalimat disodorkan tiba-tiba secara langsung padanya. Mengatur rasa keterkejutannya, Kyuhyun kemudian menerima kertas itu dan membacanya, sejenak melirik bingung pada pria tua yang menatapnya dengan sepasang mata coklat tajam yang tak asing itu.

‘Kau terpesona pada lukisan itu, bukan? Menurutmu bagaimana?’

Kyuhyun melirik lelaki tua itu, menemukan wajah penuh garis menua itu tersenyum bersahabat padanya dengan mata coklat yang menyipit. Perasaannya jauh lebih ringan sekarang.

“Lukisannya indah, detail kelopak bunga sakuranya juga rumit dan mengagumkan, gradiasi warna dan perncahayaan objek yang sempurna membuat lukisan terlihat hidup, menyampaikan pesan seberapa indahnya musim semi saat lukisan tersebut dibuat.” Kyuhyun berkata lancar, meski suara yang diucapkannya sama sekali tak terdengar. Lelaki tua itu tak menyahut, ia menyodorkan sebuah kertas lain.

‘Apa kau hanya mampu menilai sebuah seni dari fisiknya belaka?’

Kyuhyun terdiam di tempat, ia kemudian berbalik. Menatap penuh tanda tanya pada lelaki tua itu. Lelaki itu mengucapkan sesuatu, Kyuhyun tak dapat mendengarnya. Namun ia mengerti apa yang diucapkan oleh pak tua itu dari gerakan bibirnya.

‘Kau harus mulai belajar menilai seni bukan hanya dari sudut fisiknya saja. Belajarlah memaknai karya. Kau punya dua mata tajam yang harus digunakan untuk mengamati, sama seperti sekarang. Saat kau tak mampu mendengar, kau akan memahami dari apa yang kau lihat. Matamu istimewa. Saat kau kehilangan arah dalam membuat sebuah karya, cobalah melihat dari sudut pandang yang lebih mendalam. Dan kau tak akan pernah tersesat.’

Kyuhyun cengo di tempat. Bertanya-tanya bagaimana lelaki tua itu mengetahui perihal ketuliannya, setidaknya begitulah yang dapat dipahaminya dari gerakan bibir tersebut atau memang ia yang mengalami kesalahan dalam menerjemahkannya.

“Dari mana anda tahu kalau saya… tuli?”

‘Cucuku sudah menceritakan banyak hal tentangmu. Terima kasih sudah menolongnya saat itu. Cobalah untuk melihat lebih luas apa yang ada disekitarmu.’

Kyuhyun terdiam, ia masih mencerna satu-persatu terjemahan gerakan bibir dari lelaki tua yang ternyata adalah kakeknya Seohyun. Ia masih berlum mengerti, sejujurnya. Sejak penjelasan tadi ia sama sekali tak dapat memproses apa maksud penjelasan yang sangat ambigu itu. Dan ia hanya bisa bertanya-tanya disepanjang langkahnya melewati koridor tersebut, meninggalkan lukisan jejeran pohon Sakura sebelumnya.

‘Melihat lebih luas? Apa maksudnya?’

Kyuhyun sampai di beranda belakang rumah tersebut. Papan kayu yang dijadikan lantai beranda terasa sejuk dengan hembusan angin musim gugur. Pepohonan rindang di halaman belakang yang menghadap langsung beranda tersebut membawa hawa keasrian tersendiri yang membuat siapa saja yang melihatnya merasa lebih tenang. Menelusuri sepanjang beranda, ia menemukan Seohyun. Gadis itu tengah duduk dipinggiran beranda menopang sebuah netbook ditangannya. Ia terlihat mengetikkan sesuatu, karna itu Kyuhyun mendekatinya tanpa membuat suara. Berusaha tak menganggu gadis itu.

‘Sibuk?’

Seohyun mencelos kaget tanpa suara ketika sebuah kertas tiba-tiba nangkring didepannya. Gadis itu melirik lelaki disebelahnya yang tersenyum tanpa dosa padanya. Cho Kyuhyun, tengah merapikan peralatan melukis disampingnya, padahal semenit yang lalu tempat itu masih kosong. Seohyun menatap penuh minat pada alat-alat lukis tersebut, terutama pada sebuah kanvas yang telah tergambar sebuah sketsa kasar diatasnya. Penuh dengan rasa keingin tahuan, Seohyun meraih kanvas tersebut dan menatapnya penuh kekaguman. Matanya berbinar meneliti bagaimana detail objek yang digambar Kyuhyun. Ia terpana, rupanya lelaki itu menyampaikan sebuah cerita melalui lukisan-lukisan yang dibuatnya.

Sketsa yang dipegangnya memakai dua objek manusia sebagai tokoh utama. Yaitu seorang lelaki berhanbok bangsawan, dengan garis tegas wajahnya yang tampan. Kyuhyun menggambarkan sang lelaki membawa sebuah kuas dan sebuah kanvas, dengan mimik wajahnya yang tersenyum sumringah seperti mengatakan sesuatu pada sang objek lain yang berhadapan dengannya. Yaitu seorang wanita berhanbok mewah dengan lambang keluarganya, yang dikenal Seohyun sebagai salah satu tanda keluarga Raja pada masa dinasti Joseon. Seohyun ingat bahwa salah satu tanda keluarga tersebut terpasang diatas langit-langit ruang pemandian air panas yang dipakai Kyuhyun semalam. Wanita berkepang itu digambarkan juga tersenyum namun tanpa gerakan bibir yang membuka, Seohyun sadar bahwa wanita itu digambarkan Kyuhyun sebagai wanita bisu yang memegang sebuah pena tinta dengan sebuah perkamen panjang penuh dengan hangul-hangul sajak puisi kuno.

Mulai dari sini, Seohyun mulai memahami satu-persatu kepingan cerita yang ingin disampaikan Kyuhyun melalui lukisannya. Disisi-sisi sketsa lelaki dan wanita itu digambarkan seorang lagi lelaki berhanbok pengawal yang digambarkan dengan mimik seperti memanggil sang lelaki bangsawan. Namun sepertinya lelaki bangsawan itu tak menghiraukannya, atau mungkin disini ia digambarkan sebagai lelaki tuli. Menilik dari kehidupan Kyuhyun, sepertinya ia memang ingin menggambarkan sang lelaki bangsawan sebagai seorang tuli yang mencintai kegiatannya melukis, sementara sang wanita digambarkan sebagai seorang putri bisu Raja yang mencintai kegiatan menulis bait-bait puisi kunonya.

Latar sketsa yang mengambil setting jembatan taman dan bangunan istana utama dibagian belakang, jejeran pohon sakura beserta kelopaknya yang berterbangan. Dibagian bawah jembatan digambarkan sebuah kolam dengan riak-riak kecil ikan yang hidup disana. Semak belukar disisi-sisinya beserta tanaman bunga yang lainnya.

Menggambarkan bahwa saat itu, sang lelaki bertemu dengan sang wanita di musim semi. Tepat disebuah jembatan diatas kolam taman istana yang dipenuhi pohon Sakura.

Pertemua dua sejoli tunanetra yang dilukiskan oleh Kyuhyun dalam jalinan benang merah takdir yang mengikat keduanya.

Tiba-tiba Seohyun tersadar, ia menatap penuh makna Kyuhyun yang tersenyum kecil padanya seakan isyarat matanya mengatakan.

‘Aku terinspirasi dari kisah kita.’

Dan Seohyun hanya bisa menutup mulutnya penuh haru, ia tak pernah menyangka. Secuil kehidupannya mampu dijadikan inspirasi dalam sebuah lukisan seindah karya Kyuhyun. Dan Seohyun sangat menghargainya, bahkan lebih dari itu. Seohyun mengaguminya, mengagumi bagaimana tiap goresan pensil Kyuhyun diatas kanvas itu memberi makna tersendiri setiap bagiannya.

Seohyun kemudian meletakkan kanvas tersebut, menatap pada Kyuhyun yang kini sudah sedia dengan kanvas kosongnya yang lain. Punggung tegapnya tersandar di dinding, tangannya menggenggam pensil untuk membuat sketsa lukisan yang lain. Seohyun bangkit dari duduknya, perlahan beringsut dan duduk menghadap lelaki itu, mendekat kearahnya. Seohyun membuat gerakan isyarat, Kyuhyun menerjemahkannya.

‘Cerita dalam lukisanmu. Bolehkah juga aku membuatkannya dalam bentuk tulisan, aku seorang novelis. Kupikir akan menarik jika aku membuat rangkaian ceritanya dan kau membuat ilustrasinya dalam bentuk lukisan.’

Kyuhyun mengagguk yakin, ia tersenyum kecil. Menandakan bahwa pemuda itu setuju, bahkan sangat setuju. Sebenarnya ia tak menyangka bahwa Seohyun adalah novelis, dan kebetulan yang sangat tepat gadis itu mampu merangkai cerita dalam benaknya nanti.

“Ayo kita bekerja keras sama-sama, ne?” Kyuhyun mengucapkannya dengan tulus, Seohyun mengangguk dalam. Keduanya saling melemparkan senyum. Menyandarkan punggungnya ke dinding samping Kyuhyun, keduanya kemudian larut dalam kegiatan masing-masing.

Sementara Kyuhyun membuat ilustrasi lukisan untuk potongan cerita kedua, Seohyun menuliskan kalimat-demi kalimat potongan cerita sketsa lukisan Kyuhyun yang pertama.

Seohyun baru saja menyelesaikan potongan cerita pertama, ketika ia menoleh untuk menatap Kyuhyun. Gadis itu menemukan Kyuhyun tengah duduk bersandar dengan pensil sketsa masih dalam genggamannya, hanya saja matanya terpejam dan lelaki itu tertidur lelap. Seohyun terkekeh tanpa suara, menatap wajah lucu Kyuhyun yang terlelap karna letih.

Ia melirik sketsa lukisan Kyuhyun yang kedua, masih belum selesai. Namun sudah ada gambar lelaki bangsawan tuli dilukisan sebelumnya bersama putri Raja yang bisu. Digambarkan keduanya bertautan tangan, atau tepatnya bergandengan tangan. Mimik wajahnya yang digambarkan tertawa bahagia dengan kedua mata menyipit. Saat itu hanbok yang digambar Kyuhyun untuk keduanya jauh lebih sederhana dan tak semewah dalam lukisan sebelumnya yang berada di kawasan istana. Keduanya justru terlihat seperti sepasang kekasih dimadu cinta yang berasal dari kaum rakyat jelata, bukan seperti pada kenyataan bahwa mereka adalah seorang bangsawan kerajaan. Setting yang digambar disana masih belum selesai, namun terlihat dari goresan-goresan pensil disana bahwa Kyuhyun ingin memakai setting pasar rakyat jelata pada masa dinasti Joseon lalu.

Seohyun tersenyum kecil, ia mengerti. Rupanya lelaki itu ingin membuat sebuah cerita rumit yang penuh intrik dan lika-liku.

Sadar bahwa tubuhnya juga mulai lelah. Seohyun menyandarkan punggungnya ke dinding kemudian memejamkan mata. Tak lama ia terlelap, dan perlahan bahunya jatuh kebahu Kyuhyun. Dalam posisi ini keduanya tidur berduduk seperti saling berdampingan.

Dari kejauhan, terlihat seorang gadis mendatangi mereka dari halaman depan. Im Yoona tertegun ditempatnya, saat menyadari siapa sosok disamping Seohyun yang duduk dengan tenang disebelah gadis itu.

Yoona mengenalnya. Dulu ketika Seohyun jatuh koma selama beberapa hari, ia mengetahui bahwa salah satu penabrak Seohyun adalah orang yang bernama Cho Kyuhyun. Yoona pernah menemuinya sekali, dan ia tak pernah melupakan garis wajahnya yang tegas yang tak berubah sampai sekarangpun. Hanya ditambahi beberapa garis kedewasaan saja.

Tangan gadis itu terkepal, ia tak habis pikir. Bagaimana pemuda itu tanpa rasa bersalah tidur dengan damai disebelah gadis yang pernah ditabraknya dulu. Kejamnya saat itu Seohyun tak pernah tahu siapa nama dan bagaimana rupa orang-orang yang menabraknya dan berhasil merenggut kebisaannya berbicara dulu.

“Cho Kyuhyun…”

Suara Yoona yang menggeram tertahan oleh amarah, wanita itu menatap penuh benci pada Kyuhyun. Ia telah bersumpah tak akan memaafkan orang yang telah menabrak Seohyun, padahal ia telah berjanji akan melindunginya saat itu.

Kyuhyun rupanya kembali kehadapan Yoona, namun ingatan pemuda itu akan kecelakaan di masa lalu telah buram dan mengabur. Sehingga ia melupakan faktanya sedikit-demi sedikit, bagaikan terkikis oleh erosi dipadang pasir.
.
.
.
Continue~

Sebelumnya maaf kalau banyak typo karna nggak sempet cek ulang.  selain itu maaf lama lanjutnya karna bulan ini adalah bulan tersibuk author. Mulai dari pra-UN, UAS, sampai UAMBN. Buku bacaan yang menumpuk bikin author baru tersentuh netbook buat ngetik fict ini lagi. Untuk Lucky Guy nanti menyusul ya, nggak tahu apa masih ada yang mau nunggu ntuh fict ‘_’. Chingu, please coment dan like kalian ya, saya tahu chapter ini membosankan dan panjang. Tapi dibagian ini adalah pengembangan cerita untuk ke tahap selanjutnya, dan author sengaja bikn panjang-panjang karna takut nanti lanjutannya bakal lama. Hehe

Tolong sekali kepada readers yang udah baca semua harap meninggalkan koment dan like kalian ya? 1483430_592288527527223_618858744_n

Iklan

3 thoughts on “Story Without Title (Chapter 2)

  1. Ya Allah sumpah ini ceritanya bagus BANGET author-nim :’)
    Aku suka karena disini SeoKyu adem ayem malah so sweet banget dan.. Dipihak lain ada yg gak suka bukan karena orang ketiga tapi emang punya alasan lain.

    Berharap sekali author-nim mau ngelanjutin ff ini :*
    Good fiction author-nim ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s