Midnight Summer Dream (Oneshoot)

Author: CrimsonEmerald
Title: “Midnight Summer Dream”
Genre: Fantasy, Angst, Romance.
Disclaimer: Sebelumnya ini adalah fict cast SasuSaku, tapi saya ubah menjadi SeoKyu. Jadi, fict versi SasuSaku ataupun versi SeoKyu-nya tetap MILIK SAYA. Ini bukan fict plagiat. Jika tidak percaya silakan buka akun ffn saya dengan pen name author yang sama.
.
.
Setting: Tokyo, Japan. Jadi ada percakapan yang menggunakan kata bahasa Jepang.

Okaa-san: Ibu
Gomen: Maaf
Sayonara: Selamat tinggal
Ittekimasu: Ucapan saat seseorang hendak pergi (Aku pergi~)
Itterashai: Sahutan dari kalimat ‘ittekimasu’ (Bisa berarti ‘selamat jalan~’)
Omake: cerita tambahan (sekuel singkat)
Kami-sama: Dewa
/Maaf jika ada kesalahan, karena author hanyalah seorang manusia yang tak luput dari salah dan khilaf/
Kalimat yang di italic merupakan flashback.

Midnight Summer Dream_Oneshoot_Very Long Chapter…
Enjoy~
.
.
“Wah! Anak anjingnya banyak sekali!”

Tuan Seo dan Nyonya Seo tersenyum, menoleh pada putri semata wayang mereka yang tengah menatap penuh kagum pada sekumpulan anak anjing yang berkumpul dipinggir kandang. Gonggongan kecil mereka membuat suasana Yunho’s Petshop itu agak ramai dari biasanya. Sepertinya kedatangan Seo Joo Hyun membangkitkan semangat para anak anjing yang akhir-akhir ini sepi pengunjung.

“Seo, pilihlah pelan-pelan. Karena mulai sekarang dia akan selalu bersamamu sampai seterusnya.”

Tuan Seo menyentuh pelan pundak istrinya, Nyonya Seo yang tengah tersenyum tipis menatap raut antusiasme putri mereka. Seohyun menoleh pelan pada sang Ayah. Manik kelam nya menatap setiap wajah anak anjing yang tertangkap netranya. Senyumnya terkembang lebih lebar, ketika mengamati tingkah lucu anak-anak anjing yang dengan semangat mendatanginya hingga berebutan saling menjulurkan kepala diantara celah kandang besi.

“Waktunya camilan…” Yunho, sang pemilik pet shop datang dengan dua buah wadah besar berisi camilan anak anjing. Yang dengan segera diserbu oleh mereka, meninggalkan Seohyun yang terdiam memandanginya dari luar kandang. Seohyun mendengus pelan, masih merasa geli dengan tingkah lucu mereka yang kemudian menjauh darinya. Berlarian menyerbu wadah camilan, tak peduli mereka saling bertabrakan.

“Guk! Guk!”

Seohyun dikejutkan dengan suara gonggongan anjing yang terdengar lebih keras dan lebih tegas dari suara anak-anak anjing yang diperhatikannya. Lantas gadis berambut hitam itu menolehkan kepalanya kearah asal suara. Manik kelam Seohyun melebar, saat menemukan sang pemilik suara yang barusan menggonggong kearahnya.

Itu seekor anjing jenis golden retriever yang ukurannya cukup besar. Sepertinya usia anjing itu sudah cukup tua, tengah menjulur-julurkan lidah diantara kedua belahan bibirnya. Mata hitam-nya menatap Seohyun berbinar, seakan menyerukan sebuah ajakan yang tak dimengerti oleh Seohyun. Sang anjing mendekati Seohyun, begitu pula dengan Seohyun yang mendekatkan wajahnya dengan sang anjing yang kemudian mengendus-ngendusnya.

“Ah… geli!”

Seohyun memekik saat hidung sang anjing mengendus bawah dagunya, sementara sang pemilik petshop yang sudah selesai dengan pekerjaan memberi camilannya pada anak-anak anjing kemudian mendekat kearah Seohyun yang tengah berjongkok menikmati endusan lembut si golden retriever yang terasa menggelitik kulit wajahnya.

“Itu Kyu. Umurnya sudah 10 tahun, dia sudah dalam usia senja untuk anjing sejenisnya. Apa kau menyukainya?”

Seohyun menolehkan wajahnya, menatap Yunho yang sedang tersenyum tipis kearahnya. Ia mengangguk antusias, kemudian balas menggaruk leher sang anjing yang sudah terbaring nyaman diatas lantai marmer petshop.

Entahlah, tapi Seohyun rasa ia akan cepat akrab dengan sang golden retriever. Lagipula, Seohyun juga mulai menyukai endusan dan tatapan mata hitamnya yang penuh dengan binar penasaran.

Sepertinya pertemuan mereka memang sudah ditakdirkan.

“Kau suka, Seo?”

Tuan Seo berjongkok disebelah putrinya. Melihat anggukan antusias anaknya, tak tanggung-tanggung Tuan Seo membeli anjing jenis golden retriever yang kemudian dengan semangat menjilati anaknya. Seakan sang anjing juga antusias karena mendapat majikan baru seorang gadis secantik Seohyun.

“Nah, dengan ini dia adalah hadiah untuk ulang tahunmu yang ke-14, Seo.”

Tuan Seo tersenyum menatap Seohyun yang terbaring dengan anjing baru diatas tubuhnya, mengendus dengan semangat seluruh wajahnya. Tuan Seo merapatkan tubuhnya dengan sang istri, sembari bergumam.

“Kuharap Kyu akan menemaninya dalam bahagia maupun duka.”

“Guk! Guk!”

“Ah, Kyu! Geli! Hihihi… Geli!”

Seohyun terkikik, ia bangkit dari posisi berbaringnya diatas lantai marmer petshop. Yunho dengan segera memasangkan sebuah kalung rantai dileher Kyu, anjing barunya. Kemudian menyerahkan ujung talinya kepada Seohyun. Sekali lagi Seohyun menoleh menatap wajah anjing barunya yang berjenis kelamin jantan itu. Ada secercah senyum yang tertoreh dibibirnya, tertutupi juluran lidahnya.

Kyu menatap sepasang manik kelam indah milik majikannya, menggoyang-goyangkan ekor berbulu lembutnya.

“Ne, Kyu. Berjanjilah padaku kalau kau akan bersamaku sampai akhir.”

Seohyun bergumam pelan pada dirinya dan Kyu, kemudian mengangkat telapak tangannya didepan dada. Senyum manis menghias wajah cantiknya. Kyu menggonggong sekali, kemudian tanpa terduga mengangkat kaki depannya. Menyentuhkan telapaknya dengan telapak tangan Seohyun. Membuat gadis bersurai hitam itu melebarkan pupilnya, sekaligus terpana.

“Guk! Guk!”

Gonggongan Kyu selanjutnya seakan menyahut janji Seohyun. Manik kelam-nya menatap mata Seohyun. Membuat gadis itu sekali lagi mematung ditempatnya.

Setelah menempelkan telapaknya dengan telapak tangan Seohyun, dengan cepat Kyu kembali menerjang tubuh sang gadis majikan. Kemudian menjilati wajahnya dengan sayang, seakan mereka sudah lama saling memiliki satu sama lain. Bukannya baru bertemu beberapa menit yang lalu seperti pada kenyataannya.

Sepertinya Seohyun baru saja bertemu dengan hewan peliharaan paling ajaib dalam hidupnya.

..

Kyu menjadi hadiah ulang tahun terakhir bagi Seohyun. Karena tak lama kemudian, Tuan Seo meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil dalam perjalanan dinasnya keluar kota. Meninggalkan Seohyun bersama Nyonya Seo berdua.

Namun Kyu menepati harapan sang kepala keluarga yang sudah tiada. Dengan setia Kyu selalu menemani Seohyun baik dalam masa bahagia, maupun dukanya. Dikala gadis itu tersenyum dan tertawa, ataupun saat ia menangis didalam kamarnya.

Kyu selalu menemani dan menghibur Seohyun dengan endusannya. Juga meringkuk dipelukan Seohyun, seakan Kyu ingin Seohyun merasakan kelembutan bulu dan kehangatan tubuhnya.

Kehangatan yang juga terpancar dari sepasang mata hitam-nya.
.
.
.
Musim panas 3 tahun yang lalu, aku bertemu.
Musim gugur 3 tahun kemudian, dia meninggalkan aku.
Kyu, apa kau mendengarku?
Disini aku sangat merindukanmu.
.
.
.
Mendung menutupi langit malam, cahaya bulan menyusup dibalik awan. Tak ada cahaya dari kerlip bintang, hanya ada angin malam yang menusuk kulit. Diantara rumah penduduk, sebuah kamar gelap dilantai nomor dua. Seorang gadis berhelaian hitam berbaring diatas kasurnya. Ia tertidur, kelopak matanya menutup. Namun wajahnya nampak cemas , alisnya mengerut halus. Tubuhnya sesekali bergerak gelisah, tampak tak nyaman dengan sesuatu dalam bunga tidurnya.

“Kyu, nanti aku ingin jadi dokter hewan. Biar aku bisa merawatmu hingga berumur panjang, kau mau terus bersamaku, kan?”

“Guk! Guk!”

“Hihihi… Kyu memang anak pintar, karena itu jaga kamar sementara aku les, ya.”

Seo Joo Hyun, memalingkan wajahnya berulang-ulang. Masih dengan kelopak mata yang menutup. Bibir bawahnya digigit dengan keras, hingga tampak memerah.

“Seohyun~ Kau mau ikut double date bersama kami, tidak?”

“Hah? Tidak, Yoona. Ini jadwalku membawa Kyu jalan-jalan. Sudah seminggu ini kami tidak jalan bersama.”

“Cih, kau ini pantas saja menjomblo terus! Habis lengket sekali sih dengan Kyu, susah dilepasin kayak perangko. Cowok-cowok ntar males deket dengamu lho, kau mau nanti pacaran terus nikah sama Kyu?!”

“Biarin wekk~ Kyu lebih berharga daripada cowok. Lagian aku emang males pacaran.”

Yoona menatap jengah pada Seohyun yang terlihat berjongkok didepan anjing jenis golden retriever-nya. Memutar kedua bola matanya dengan bosan, karena ini sudah bukan kali pertama Seohyun menolak ajakan double date yang ditawarkannya. Sudah sering Seohyun menolaknya, hanya karena jadwalnya berbenturan dengan acara jalan Seohyun dengan si Kyu. Anjing besar peliharaan sahabatnya itu.

“Guk! Guk!”

Kyu menggonggong dengan semangat, menerjang tubuh Seohyun. Kemudian menjilati wajahnya, tak sengaja terjilat bagian bibir mungil gadis berhelaian hitam itu. Seohyun terdiam, Yoona membelalakkan matanya. Tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Kyu kepada Seohyun.

“Seohyun?!”

Seohyun tak merespon panggilan Yoona, gadis itu sibuk dengan pikirannya. Ia menunduk, mengusap bibirnya dengan telapak tangan. Perlahan Seohyun mendongak, menatap Kyu yang balas memandanginya dengan sepasang mata hitam-nya yang berkilau, mata hitam yang entah mengapa selalu berhasil mempesona Seohyun sejak pertama kali memandanginya. Tanpa sadar Seohyun melengkungkan sebuah senyum lebar, dengan antusias gadis berambut hitam sepinggang itu memeluk sang anjing. Sementara Kyu balas mengendus-ngendus Seohyun lebih semangat dari sebelumnya. Membuat sang gadis majikan terkikik olehnya. Sementara Yoona yang memperhatikan keduanya mendengus, kemudian tersenyum kecil sembari menggaruk pipinya dan berjalan menjauh.

“Dasar.. Mereka bahkan lebih romantis dari pasangan kekasih.”

Seohyun masih begerak-gerak gelisah, kedua tangannya mencengkram bedcover-nya hingga lusuh. Memori kebersamaannya bersama Kyu, kembali berputar dalam mimpinya. Memaksa Seohyun teringat dengan setiap kenangan manis berujung pahit bersama sang anjing yang sudah sangat disayanginya.

“Kyu…”

Seohyun bergumam dalam tidurnya, dalam mimpinya terbayang sosok sang anjing. Bulu coklat keemasan yang lembut saat Seohyun mengusapnya, gonggongan keras saat Kyu melihatnya, endusan sayang Kyu saat menerjangnya, jilatan manis dibibirnya, hingga mata hitam Kyu yang selalu membuatnya terpana saat memandanginya.

Seohyun benar-benar kembali mengingat semuanya, disaat ia ingin melupakannya.

“Kyu sudah jadi anjing kakek-kakek, ya?”

Seohyun tersenyum tipis menatap Kyu yang balas memandanginya. Mata hitam anjing itu kembali menenggelamkannya. Kyu menggonggong pelan, sudah tak sekeras dulu lagi mengingat usianya yang sudah cukup tua untuk ukuran seekor anjing. Namun caranya menjulurkan lidah dan menjilat, masih sama semangatnya seperti saat pertama kali Seohyun bertemu dengannya.

“Kyu harus tetap sehat dan hidup dengan umur panjang, ya? Biar kita bisa bersama sampai seterusnya.”

Seohyun bergumam agak sedih, ia mengangkat telapak tangannya sebatas dada. Pose janji yang biasa ia lakukan dengan Kyu. Namun Kyu tak meresponnya, anjing itu justru mengendus telapak tangan Seohyun. Membuat Seohyun semakin sedih melihatnya, karena tak seperti biasanya. Kyu tak balas berjanji padanya. Seohyun menunduk, hendak menggaruk bawah leher Kyu. Namun kemudian anjing itu mengendus sudut bibirnya. Membuat Seohyun terdiam seketika.

“Kaing~ kaing~”

Seohyun berusaha untuk tak berpikir, bahwa anjing lebih cepat menua daripada manusia. Sehingga ia tak pernah menyadarinya, Kyu tak pernah membalas janjinya lagi ketika Seohyun meminta Kyu untuk terus hidup dan berumur panjang.

Karena tak lama setelah itu, kejadian yang terjadi di musim gugur setelahnya adalah akhir hidup dari Kyu yang begitu disayanginya. Kyu benar-benar tak balas berjanji pada Seohyun karena tak bisa menepatinya. Sepertinya anjing itu menyadari kematiannya yang semakin dekat. Berusaha membuat Seohyun agar berhenti berharap.

“Hiks.. Kyu~ Kyu~”

Setelahnya Seohyun kembali bergumam dalam tidurnya, bahkan setitik air mata jatuh dari kelopak matanya yang tertutup. Mimpi itu kembali mengingatkannya dengan segala kenangan bersama Kyu. Membuka kembali luka lama yang mati-matian ditutupinya.

Tepat musim gugur tahun lalu Kyu menutup usianya karena terserang penyakit, dokter hewan yang menangani Kyu saat itupun mengatakan bahwa Kyu memang sudah mencapai batas usianya sebagai seekor anjing.

Sejak saat itupula Seohyun jadi suka mengurung diri dalam kamarnya, ia jadi kehilangan nafsu makan. Tak sarapan, makan sedikit bekal makan siang, dan hanya menyetuh sedikit makan malamnya. Bahkan Yoona sahabatnya pun tak bisa membuat Seohyun menjadi ceria lagi.

Seohyun juga jadi sering memimpikan Kyu di tiap tidurnya, bahkan kemunculan Kyu dalam mimpi semakin intens setiap malamnya. Membuat Seohyun kembali sedih ketika mengingatnya.

Sama seperti malam ini dan malam sebelum-sebelumnya, ia kembali memimpikan Kyu dalam lelapnya. Dan karena itu pula Seohyun menangis dalam tidurnya.

Karena kepergian Kyu pulalah, Seohyun sampai melupakan cita-citanya dulu. Cita-cita yang diucapkannya didepan Kyu. Cita-cita menjadi seorang dokter hewan. Padahal Ibunya, Nyonya Seo . Sudah mendaftarkan Seohyun ke salah satu fakultas Tokyo. Berharap putri semata wayangnya itu bisa meraih cita-cita yang dijanjikannya pada Kyu dulu. Dan ujian masuk fakultasnya diadakan akhir musim panas ini. Tapi Seohyun sama sekali tak meperdulikan cita-cita sejak kecilnya itu lagi.

“Kyu~ Kyu~ Kyu!!”

Seohyun terbangun dari mimpinya, kelopak matanya segera terbuka. Menampakkan manik kelam-nya yang berkaca-kaca. Gadis itu kemudian mengusap pipinya yang basah oleh jejak air mata. Perlahan Seohyun duduk diatas ranjangnya, menatap kaca jendela yang memvisual cahaya bulan yang menerobos dari balik awan. Mendung perlahan-lahan menghilang. Bersama dengan kerlip bintang yang mulai menghias langit malam.

Di Tokyo, ini sudah masuk akhir musim semi, malam pertama musim panas. Seharusnya temperatur kota sudah menghangat, tapi awal musim panas tahun ini. Angin malam yang menusuk kulit bahkan masih terasa. Malam musim panas tahun ini tidak seperti biasanya.

Malam kelam awal musim panas kota Tokyo, benar-benar menggambarkan suasana hati Seohyun. Suasana kesedihan yang membuatnya terpuruk sepanjang musim gugur sampai akhir musim semi dan awal musim panas, perasaannya sesuram langit malam.

Tak ada kembang api musim panas di langit Tokyo, tak seperti biasanya.

Seohyun menegakkan diri, ia menjejakkan kakinya di lantai marmer kamarnya yang dingin. Kemudian melangkah menuju lemari berpintu ganda, meninggalkan ranjang beserta selimut yang baru saja digunakannya.

Seohyun memasang jaket merah marun dibalik piyama tidurnya, kemudian melilitkan syal merah muda favoritnya. Ia membuka kenop pintu kamarnya, berjalan berjingkit. Berusaha tak membuat suara, gadis berhelaian hitam itu melangkah keluar dari rumahnya. Perlahan-lahan membuka pintu rumahnya yang terkunci, kemudian menutupnya kembali ketika ia sudah berada diluar.

Angin malam menabrak kulit wajahnya, sepertinya awal musim panas tahun ini agak berbeda, mungkin karena globalisasi yang mulai mengacaukan cuaca. Seohyun melangkah keluar dari pagar rumahnya, kemudian berjalan seorang diri menuju ke sebuah tempat.

Tempat yang selalu didatanginya ketika merindukan Kyu. Taman komplek rumahnya. Tempat Kyu dikuburkan.

Bahkan Seohyun sudah tak peduli lagi pada sepinya jalan yang dilaluinya, syahdunya suara hewan malam ketika melirik kearahnya, hingga waktu yang sudah mencapai tengah malam. Sama sekali tak menakuti Seohyun, keinginannya untuk bertemu dengan nisan Kyu sama sekali tak surut.

Kerinduan itu terus menuntunnya.

..

“Seo, bukannya kau sudah berjanji pada Kyu untuk menjadi dokter hewan?”

Seohyun memandang kaca jendela. Manik kelamnya menyorot hampa. Sementara Ibunya, Nyonya Seo. Menghela nafas panjang melihatnya. Sejak kematian Kyu, Seohyun jadi kehilangan semangat hidupnya. Padahal Nyonya Seo pikir Kyu tak lebih dari sekedar anjing peliharaan yang selalu menemani Seohyun. Tapi Seohyun sudah menganggap Kyu lebih dari itu semua. Panggilan kesayangan orang tuanya.

Seo.

Hanya segelintir keluarganya yang memanggil Seohyun dengan sebutan kesayangan itu.

“Aku ingin jadi dokter hewan agar Kyu hidup berumur panjang. Kalau dia tak ada lagi, cita-cita itu sudah tak ada artinya bagiku Ibu.”

“Ne, Kyu. Kenapa kau pergi sebelum kucapai cita-citaku?”

Seohyun bergumam sedih, Manik kelam-nya menumpahkan air mata. Ketika ujung jemarinya menyentuh nisan Kyu yang tak bernama. Gundukan kecil dibawah pohon sakura itu adalah makam Kyu yang dibuatnya bersama sang Ibu musim gugur yang lalu. Angin kembali berhembus, menerbangkan untaian surai Seohyun sepanjang pinggang. Sementara sang pohon yang merindanginya dan makam Kyu, hanya tinggal batang pohon yang kering. Kelopak pink-nya sudah rontok beberapa hari yang lalu. Salah satunya menghiasi gundukan tanah makam Kyu.

Seohyun menyingkirkan beberapa helai kelopak bunga sakura yang menutupi nisan Kyu, kemudian menangkupkan kedua tangannya didepan wajah. Berdoa didepan makam sang anjing yang begitu disayanginya. Memejamkan matanya, Seohyun merapalkan satu permohonan. Berharap semoga kami-sama yang tak tertidur diatas sana mendengar permintaan sederhananya.

‘Kyu… aku merindukanmu. Bagaimana kabarmu disana? Kau pasti baik-baik saja, ne? Jujur saja, sampai sekarang aku masih tak merelakan kepergianmu. Bolehkan aku meminta hal ini padamu..? Hanya sebuah permohonan sederhana agar kita kembali bertemu… karena aku tak sempat mengucapkan ‘selamat tinggal’ padamu. Ne Kyu, aku selalu menyayangimu…’

Angin bertiup lebih kencang dari sebelumnya. Menerbangkan kumpulan kelopak bunga sakura diatas makam Kyu, mengibarkan ujung jaket gadis itu.

Angin malam yang seakan mengisyaratkan sesuatu…

Seohyun merapikan rambutnya, yang menutupi penglihatannya ketika sang angin menerbangkannya. Seohyun bertanya-tanya dalam hati. Penasaran dengan sang angin yang bertiup kencang secara tiba-tiba. Apalagi angin yang membelai kulitnya terasa lebih hangat dari angin yang berhembus sebelumnya.

“Seo…”

Seohyun mematung ditempatnya. Ia mendengarnya. Nama panggilan kesayangan dari orang tuanya. Ada sebuah suara baritone yang memanggil nama itu.

Seo.

Nama yang tak sembarang orang mengetahuinya, kecuali orang tua dan mungkin segelintir keluarga yang cukup dekat dengannya.

Srek~

Tap… tap… tap…

Seohyun masih tak berani menoleh kearah asal suara, tiba-tiba tengkuknya meremang. Jika logikanya masih berjalan, rasanya tak mungkin ada orang selain dirinya di taman selarut ini. Dan tak mungkin Ibunya yang datang sekarang, mengingat suara itu memanggilnya dengan nama ‘Seo’. Suara itu terdengar berat, seperti suara seorang laki-laki yang sudah masuk usia puber. Bunyi gemerisik halus kelopak bunga sakura yang terinjak terdengar sangat keras ditelinga Seohyun, menyusul suara langkah kaki yang mendekat kearahnya. Seohyun seakan kehilangan fungsi gerak tubuhnya. Instingnya mengatakan untuk segera lari dan kabur dari sumber suara yang mendekatinya. Tapi hati menahan tubuhnya. Membuatnya terdiam begitu saja ketika kemudian sosok pemuda berkemeja putih dan celana hitam berjongkok disebelahnya.

Cukup leluasa bagi Seohyun untuk memastikan wajah sang pemilik suara. Wajah tampan, lengkungan tipis dibibir sensual, kulit pucat, rambut berwarna kecoklatan, dan mata hitam yang memikat. Membuat Seohyun terpana saat melirik sosoknya. Seingat Seohyun, ia tak pernah bertemu dengan pemuda itu, apalagi mengenalnya.

Lantas mengapa pemuda itu tahu nama panggilan kesayangan yang hanya diketahui orang tuanya?

“Seo, ayo ikut aku…”

Pemuda itu tersenyum tipis, mengulurkan sebelah tangan kanannya pada Seohyun yang terdiam selama beberapa saat. Gadis itu kebingungan, mengikuti kata hatinya ia menerima tangan itu begitu saja. Meletakkan tangannya diatas tangan sang pemuda. Lelaki itu tersenyum tampan, kemudian menegakkan diri dan mulai berjalan dengan langkah lebarnya. Membawa Seohyun untuk kemudian mengikuti langkahnya setengah berlari, mengimbangi lelaki yang menarik tangannya menuju jalan setapak berbatu mengkilap yang baru pertama kali Seohyun lihat di taman itu.

Padahal Seohyun sudah sering berkeliling di taman tersebut, namun tak pernah sekalipun menjumpai jalan setapak yang bercahaya seindah itu.

Cahaya bulan menerobos dibalik awan, menerangi dua insan yang berjalan sambil bergandengan. Sang lelaki yang menuntun Seohyun yang bingung, tak sadar ia dibawa ke jalan setapak ajaib yang tersembunyi dari manusia. Kecuali manusia spesial seperti Seo Joo Hyun.

Lelaki itu kembali menoleh, menatap manik kelam Seohyun yang kemudian tertegun memandangi mata hitamnya. Masih terus berjalan dituntun sang lelaki, melintasi jalan setapak yang samar-samar terlihat ujungnya. Jalan setapak dengan jejeran pohon sakura, kelopak merah mudanya bergoyang oleh angin malam. Tak merontokkan diri dari yang seharusnya, mengingat ini sudah masuk akhir musim semi dan awal musim panas. Mustahil masih ada pohon sakura yang mempertahankan kelopaknya.

Namun Seohyun mengabaikannya, ketika mata hitam itu akhirnya mengalihkan pandangannya. Seohyun menatap terpana pada punggung tegap sang pemuda, serta rambut kecoklatannya. Tinggi badan Seohyun hanya mencapai bahu lelaki itu, dan tangannya yang besar dan hangat menggenggam lembut tangan Seohyun.

Seohyun sadar, mata hitam itu seakan mengingatkannya… tentang hal yang begitu dirindukannya.

“Kyu…”

Seohyun bergumam pelan, sangat pelan hingga hanya terdengar oleh telinganya. Tak sadar dengan sang pemuda yang sudah menuntunnya hingga keujung jalan setapak. Jalan setapak bercahaya itu, membawa mereka ke sebuah taman terindah yang mungkin belum ada di dunia manusia sebelumnya. Taman misterius dengan langit siang bercahaya matahari terik.

Apa hanya dengan melintasi jalan setapak dengan panjang tak seberapa, langsung membawa Seohyun ke bagian bumi yang lain?

Bagian bumi yang mempunyai waktu berbeda dengan kediaman Seohyun, Tokyo. Mengingat tempat ini masih siang hari, sementara Seohyun sebelumnya berada di tempat dengan waktu malam hari.

Atau jalan itu membawanya ke sebuah tempat misterius yang tersembunyi dari mata manusia?

Tempat ajaib apa ini?

..
Ada satu bagian di dunia yang tersembunyi dari mata manusia.
..

Dan disinilah kemudian Seohyun berada. Berdiri disamping pemuda yang menuntunnya ke tempat ini sebelumnya. Lelaki berambut kecoklatan itu terlihat memeriksa seseorang yang berbaring diatas kasur. Memakai piyama biru khas pasien, lengkap dengan selang infus yang tertancap ditangannya.

Apa kalian masih bingung? Baik, mari Seohyun jelaskan.

Barusan, beberapa menit yang lalu. Seohyun sampai diujung jalan setapak bersama sang pemuda, sebuah taman. Taman indah berpayung cuaca cerah. Matahari terik diatas langit memantul dipermukaan daun tanaman taman yang berkilauan. Ada banyak tumbuhan yang belum pernah Seohyun temui sebelumnya. Mulai dari pohon sakura berkelopak biru, bukannya merah muda seperti yang seharusnya. Pohon berbatang merah dengan garis-garis putih besar yang melintang, semak-semak berdaun perak, buah beri berwarna pelangi, hingga pohon maple berdaun emas. Menjatuhkan helaian daun keringnya bersama dengan kelopak-kelopak biru bunga sakura yang tumbuh disebelahnya.

Bukan hanya tumbuhan, Seohyun juga dikejutkan dengan banyaknya orang yang berkumpul di taman itu. Oh, mereka bukan manusia biasa tentu saja. Ada banyak gadis dan pemuda disana, punya postur tubuh yang serupa dengan manusia biasa. Persis seperti Seohyun. Hanya saja mereka punya telinga kucing, serigala atau anjing, beserta dengan ekor panjang yang bergoyang dibokong mereka. Beberapa orang punya tiga kumis dipipinya, seperti seorang pemuda berambut kuning jabrik yang punya telinga panjang serigala dan ekor jingga berloreng. Juga seperti gadis disebelahnya, yang punya ekor kelinci diantara helaian pirangnya, serta tangan menggembung seperti tangan kelinci pada umumnya. Yang pasti, Seohyun banyak menemukan manusia-manusia tak biasa berkumpul disini.

Mereka terlihat menjalani berbagai aktifitas seperti manusia pada umumnya, hanya saja penampilan setengah manusia setengah hewan mereka membuat Seohyun tak bisa menutup mulutnya. Terakhir, Seohyun berjengit ketika suara kepakan sayap mengejutkannya dari atas kepala. Lekas saja gadis berambut hitam itu berjalan lebih merapat pada sang pemuda yang menuntunnya, ketika ia melirik manusia bersayap elang terbang diatas tubuhnya. Tak ada yang terlihat cemas atau waspada seperti Seohyun, semua orang-orang tak biasa ini sepertinya tak mempermasalahkan hal itu. Sama sekali tak takut jika tiba-tiba si manusia elang jatuh diatas tubuh mereka? Atau mungkin si manusia elang menyerang mereka dari atas sana?

Semua hal tak biasa yang sejak tadi ditemui Seohyun, benar-benar mengagetkannya. Sekaligus mengagumkan disaat bersamaan.

Setelahnya, pemuda bermata hitam itu membawa Seohyun ke sebuah bangunan besar bernuansa putih. Melewati koridor panjang beraroma obat-obatan. Sejak awal masuk Seohyun sering kali mendapati pemuda itu disapa oleh orang-orang berfisik manusia setengah hewan yang tak kalah anehnya dengan yang ditemui Seohyun saat di taman. Mereka yang berseragam putih itu terlihat beberapa kali membungkukkan badannya ketika bertatap muka dengan Kyuhyun. Begitulah nama sang pemuda dari yang Seohyun dengarkan sepanjang jalan tadi.

Kyuhyun, si pemuda berkemeja putih itu kemudian meninggalkan Seohyun didepan sebuah pintu kamar kayu. Sementara Seohyun tertenung, meneliti sepanjang koridor yang ramai oleh manusia-manusia setengah hewan, lalu lalang dengan beberapa dari mereka membawa barang. Beberapa orang lagi mendorong kasur roda kosong. Melihat itu, Seohyun mengerutkan alis. Ia sadar bahwa gedung bernuansa putih tempatnya berada itu adalah sebuah ‘rumah Sakit’. Lebih tepatnya rumah sakit bagi manusia-manusia setengah hewan itu.

Kyuhyun kemudian keluar dari ruangannya, tak berkata apa-apa menuntun Seohyun untuk mengikuti langkahnya. Kini pemuda itu sudah memakai jas dokter berwarna putih selutut, lengkap dengan stetoskop yang menggantung dilehernya. Melihat itu, Seohyun dapat menyimpulkan satu hal.

Bahwa Kyuhyun adalah seorang dokter di rumah sakit manusia setengah hewan ini.

Ngomong-ngomong masalah manusia setengah hewan, Seohyun baru menyadari fisik pemuda berambut kecoklatan didepannya itu. Kyuhyun sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda punya telinga ataupun ekor hewan. Lelaki itu terlihat normal saja. Seperti manusia biasa, layaknya Seohyun. Lantas, apa Kyuhyun satu-satunya manusia normal disini? Apa lelaki itu tinggal disini? Sebab Kyuhyun-lah yang menuntunnya ke tempat aneh ini, tempat yang dipenuhi dengan err- keajaiban, mungkin? Walau Seohyun mengakui bahwa ia sebelumnya sama sekali tak menolak pemuda itu akan membawanya kemana hanya setelah menatap mata hitam-nya yang mengingatkan Seohyun akan anjing kesayangannya. Anjing jenis golden retriever, Kyu.

Tanpa sadar, Seohyun berbelok dan masuk ke sebuah kamar beserta Kyuhyun. Mereka disambut oleh seorang pasien setengah beruang yang tangan bercakarnya tertancap selang infus. Si manusia setengah beruang itu mendongak menatap kedatangan Kyuhyun dan Seohyun, kemudian tersenyum cerah setelah mendapati dokter Kyuhyun yang sejak tadi ditunggunya. Tanpa banyak bertanya tentang keberadaan Seohyun, manusia setengah beruang itu kemudian diperiksa oleh Kyuhyun.

Gadis itu tak terlalu mengerti, tapi jelas Kyuhyun tengah membicarakan sesuatu dengan pasiennya.

“Terima kasih, dokter Kyuhyun.”

Dan setelah ucapan si manusia beruang itu, terlihat Kyuhyun menyunggingkan senyum tipis. Sebelum kemudian ia keluar dari kamar tersebut, dan Seohyun tetap mengekori langkahnya dibelakang. Kemana lagi ia akan pergi jika tak mengikutinya?

Mereka berjalan melintasi sepanjang koridor rumah sakit, bau khas obat-obatan itu tercium kembali. Seohyun diam saja, sembari memandang bahu tegap Kyuhyun yang mengingatkannya akan sesuatu.

Kyuhyun..

Kyu..

Kyuhyun.. Kyu..

Kyuhyun? Kyu?!

Tunggu dulu! Itu Kyu! Kependekan dari nama Kyuhyun! Apa ini semua ada kaitannya?! Apalagi mata hitam mereka yang sama!

Tapi kenapa Kyu bisa berubah menjadi seorang pemuda manusia seperti ini? Apa yang terjadi?

Seohyun berdebat dalam hati, tak menyadari Kyuhyun yang menoleh dari balik bahu kokohnya. Pemuda itu tersenyum tipis. Melihat raut wajah Seohyun yang sepertinya sudah mulai menyadari sesuatu.

“Kau sudah menyadarinya, Seo?”

Akhirnya setelah berlama-lama dalam keheningan, Kyuhyun kembali berkata. Suara baritone-nya mengalun halus ditelinga Seohyun. Gadis itu cepat-cepat mendongakkan wajahnya. Ketika kemudian Kyuhyun secara tiba-tiba berpaling dan menghadap Seohyun, sedikit menunduk untuk beradu dengan manik kelam-nya.

Kyuhyun menarik sudut bibirnya, raut rupawan pemuda itu menghipnotis Seohyun. Tapi mata hitam-nya lah yang membuat gadis itu terpana. Terdiam sembari mendongak untuk balas memandangi si pemuda.

Kyuhyun menundukkan wajahnya, mendekati wajah Seohyun. Hanya terpaut jarak beberapa senti, Kyuhyun kembali melirik manik kelam Seohyun yang kala itu melebar. Tak percaya pemuda yang baru saja ditemuinya itu akan bertindak senekat ini di tempat umum. Meski mereka berada diujung lorong rumah sakit dan belum terlihat satupun orang melintas disini. Tetap saja Seohyun tak bisa bayangkan bagaimana reaksi orang-orang jika menemukan salah satu dokter mereka kepergok hendak mencium seorang wanita.

Nafas Kyuhyun yang hangat menerpa kulit wajah Seohyun, membuat gadis itu harus menahan nafasnya. Ia masih bungkam, terdiam kaku ketika kemudian wajah Kyuhyun yang terpaut jarak tak seberapa. Namun hidung mereka sudah saling bersentuhan, Kyuhyun memiringkan wajahnya dan kemudian…

“Aku juga sangat merindukanmu, Seo… Guk! Guk!”

Kyuhyun berbisik didepan telinga Seohyun, pemuda itu bergumam dengan suara seraknya. Kemudian menggonggong pelan dengan suara manusianya, lalu menjilat Seohyun.

Ya, Kyuhyun menjilat kulit wajah Seohyun.

Jilatan yang sama, seperti saat Kyu dulu menjilatnya.

Jadi, Kyuhyun adalah Kyu? Tapi, bagaimana bisa?

..
Tengah malam musim panas adalah salah satu malam paling ajaib sepanjang tahun.

..

Seohyun masih terduduk kaku disalah satu bangku taman yang ia datangi tadi. Gadis itu masih saja bungkam setelah insiden ‘penjilatan’ Kyuhyun yang mengejutkannya. Bagaimana tidak? Jika ada seorang pemuda yang kemudian mengajakmu pergi, melintasi jalan setapak dan tiba-tiba saja sampai di dunia aneh yang dipenuhi hal-hal aneh pula, hal-hal yang terkesan kelewat ajaib jika sampai ditemukan terjadi di dunia manusia.

Lalu tiba-tiba kau terseret ke gedung rumah sakit, berkeliling sepanjang kamar pasien, dan terakhir lelaki yang selama tadi kau ekori mendekat seakan hendak menciummu. Oh, tapi bukan itu yang dilakukan lelaki bernama Kyuhyun tadi pada Seohyun. Memang posisi mereka dari belakang terlihat seperti sedang berciuman, tapi bagi Seohyun apa yang baru saja Kyuhyun lakukan tadi padanya jauh lebih mengerikan daripada ciuman.

Laki-laki aneh itu,

Kyuhyun, sudah menjilat wajahnya. Jilatan yang entah mengapa mengingatkannya tentang Kyu, anjing peliharaan Seohyun yang sudah tiada musim gugur lalu.

Dan parahnya lagi, ada satu kenyataan yang hampir membuatnya sinting seketika. Oke, mungkin Seohyun sudah mulai sinting ketika menemukan ada banyak manusia setengah hewan disekelilingnya. Dan yang Kyuhyun katakan barusan adalah bagian yang terparah, hampir membuat rahang gadis berambut hitam itu jatuh ke tanah. Saking melongonya usai Kyuhyun mengatakan kenyataan termustahil yang pernah didengar Seohyun beberapa menit yang lalu sebelum mereka duduk-duduk disalah satu bangku taman seperti ini. Kyuhyun tentu saja duduk dengan santai, memandangi manusia-manusia aneh disekelilingnya. Sementara Seohyun duduk dengan bahu tegang, Manik kelamnya melirik dengan cemas dari kedua tangan putihnya yang mengepal ke wajah pucat Kyuhyun yang santai disebelahnya. Titik-titik keringat dingin menghiasi kening lebarnya, melengketkan beberapa anak rambut berwarna hitamnya.

“Aku Kyuhyun, anjing peliharaanmu Kyu. Ini adalah dunia tempat para hewan yang sudah meninggal dunia untuk hidup berbahagia. Kami semua berkumpul disini. Aku menyebutnya dunia ajaib. Dunia yang hanya bisa dikunjungi seperti saat tengah malam musim panas, salah satu malam paling ajaib sepanjang tahun.”

Seohyun masih ingat, bagaimana panjang lebarnya Kyuhyun menjelaskan tentang dunia ini. Juga tentang dirinya yang ternyata adalah Kyu.

‘Jadi Kyu dan Kyuhyun itu sama?’

Pertanyaan itu terus berputar-putar dalam benak Seohyun yang masih kelewat bingung dan kaget dengan pernyataan yang baru saja didengarkannya. Coba pikirkan bagaimana bisa seorang manusia bernama Kyuhyun, mengaku-ngaku adalah anjing peliharaan Seohyun, Kyu.

Benar-benar konyol bukan? Bahkan mustahil!

Ia ingin meneriakkan hal tersebut didepan lelaki berambut coklat itu, andai saja ia tak ingat bahwa sekarang dirinya berada di dunia yang sama mustahilnya dengan pernyataan Kyuhyun. Apalagi Seohyun duduk ditengah-tengah keanehan yang ajaib ini, memandangi banyaknya manusia setengah hewan dan tumbuh-tumbuhan tak biasa yang bisa membuat matamu melotot seketika saking tak percayanya.

“Apa kau tak menyadarinya, Seo? Tidakkah kau mengingatnya? Semua yang ada pada diriku, pasti kau terbayang Kyu saat melihatku, kan?”

Kyuhyun bertanya, yang tak dijawab oleh Seohyun. Karena gadis itu bungkam seketika di tempat duduknya. Lebih tertarik memandangi ujung sepatunya. Menghindari tatapan Kyuhyun, lebih tepatnya mata hitam Kyuhyun yang memang selalu mengingatkan Seohyun tentang Kyu.

Seohyun tak menyangkal. Bahwa ada beberapa hal dalam diri Kyuhyun, yang membuatnya selalu terbayang Kyu. Baik itu kehangatannya, jilatannya, sampai tatapan mata hitam-nya yang selalu membuat Seohyun terpana ketika memandanginya. Hal itu benar-benar mengacaukan pikirannya, mengingat betapa mustahilnya seekor anjing dapat berubah menjadi manusia ketika ia sudah mati.

Haruskah Seohyun percaya dengan kenyataan yang barusan didengarnya?

Atau menolaknya dengan berdasar pada logika, padahal sekelilingnya juga dipenuhi hal-hal yang menentang akal sehat manusia.

Seohyun benar-benar bingung dibuatnya, tak tahu harus melakukan apa. Entah harus mengatakan apa. Ada banyak hal yang tak mampu diungkapnya melalui kata-kata.

Disatu sisi ia menolak kenyataan, karena Kyu sudah meninggal. Tak mungkin ada yang menggantinya, apalagi dengan seorang manusia.

Tapi disisi lain Seohyun bahagia, karena mengetahui Kyu masih hidup. Walaupun wujudnya manusia, pemuda manusia yang masih punya tatapan yang sama dengan Kyu. Membuat Seohyun tak bisa melupakannya.

“Seo, tak usah dipikirkan lagi. Kau percaya atau tidak, aku tetap senang karena bisa kembali bertemu. Maaf ya jika aku pergi tiba-tiba saat itu. Aku sendiri juga kaget mengetahui usiaku yang tak akan lama lagi, karena itulah aku tak pernah membalas janjimu. Kau masih ingat pose janji kita?”

Kyuhyun bergumam sambil memandang lurus kedepan, Seohyun menoleh. Tertegun menatap siluet wajah lelaki tampan yang tengah berbicara serius itu, seakan tak ada kebohongan dalam kata-katanya. Apalagi Kyuhyun tahu betul mengenai seluk-beluk tiap kejadian yang hanya dialaminya dengan Kyu. Membuktikan bahwa Kyuhyun, si pemuda manusia itu memang anjing peliharaannya, Kyu.

Kyuhyun kemudian menoleh, menatap Seohyun yang balas memandanginya dengan manik kelam berkaca-kaca. Lelaki itu meletakkan satu tangannya didepan dada, menunggu Seohyun untuk balas menyentuhkan telapak tangan mereka. Pose janji yang biasa dilakukannya bersama Kyu, ketika anjing itu masih bersamanya.

“Perpisahan yang tiba-tiba membuatku tak sempat mengucapkan selamat tinggal padamu, karena itu maaf. Kau pasti sedih sekali disana. Makanya aku membawamu kesini supaya kau tidak bersedih lagi. Disini aku sudah jadi dokter, cita-cita yang sama dengan Seo. Karena itu Seo juga berjuanglah, jangan melupakan cita-citamu karena perpisahan kita. Aku akan selalu mengawasimu dari sini.”

Kyuhyun berkata panjang lebar, tersenyum tipis diakhir penjelasannya. Membuat Seohyun tak bisa menahan tumpahan air matanya. Dengan kepalan tangan agak gemetar, gadis bersurai hitam itu menyentuhkan telapak tangannya pada telapak tangan Kyuhyun yang besar. Terasa hangat dan lembut saat disentuhnya, perasaan yang sama saat ia bersama Kyu. Membuat rindu itu kembali tumpah begitu saja melalui air mata Seohyun.

“Hiks~ Aku tidak mengerti… Hiks~ Bagaimana bisa Kyu adalah kau?! Hiks~ Tapi kenapa saat itu kau meninggalkanku… bukannya kau sudah janji akan berumur panjang dan menemaniku hiks~”

Seohyun terisak ditengah kalimatnya, gadis itu segera memukul-mukul lengan Kyuhyun yang segera berbalik menghadapnya. Menarik kepala Seohyun dan membawa kedadanya, memeluk gadis bersurai hitam tersebut dalam rengkuhan tangannya. Sepasang tangan manusia yang kini sudah leluasa menyentuh Seohyun, gadis majikan yang selalu dicintainya.

“Gomen… gomen… gomen…”

Hanya kata-kata itu yang mampu digumamkan Kyuhyun untuk menenangkan Seohyun, tangannya sesekali mengelus puncak kepala gadis itu. Menunggunya selama beberapa saat agar Seohyun meredakan isak tangisnya. Tak peduli kemeja hitam dan jas dokternya basah oleh air mata. Menurutnya yang terpenting sekarang hanyalah Seohyun seorang.

Hanya Seohyun.

Kyuhyun mengelus pelan punggung Seohyun ketika gadis itu sudah agak tenang, ia mendongakkan wajahnya. Menatap langit biru tanpa awan diatasnya.

“Seo, kau pernah berjanji untuk menjadi seorang dokter hewan, kan? Aku disini menjadi dokter karena ingin sama denganmu, karena itu bisa tidak jangan kau lupakan cita-citamu?”

Seohyun menegang dalam pelukan Kyuhyun, dan pemuda itu menyadarinya. Mendorong pelan dada Kyuhyun, Seohyun melepaskan diri dari dekapan hangat Kyuhyun yang sedikit banyak mengingatkannya tentang Kyu. Ketika anjing itu suka sekali berada dipangkuannya, rasa hangat ketika Seohyun memeluk tubuh besarnya yang berbulu.

“Aku tidak bisa..” Seohyun bergumam getir, senyum terpaksa tertoreh dibibirnya. Wajahnya menunduk, menghindari tatapan Kyuhyun didepannya.

“Aku tidak bisa menjadi dokter hewan kalau sudah tidak ada Kyu.. Aku-“

“Seo…”

Panggilan tegas dari Kyuhyun membuat gadis itu mendongakkan wajahnya. Dengan cepat, Kyuhyun menangkup kedua sisi wajah Seohyun dengan tangan besarnya. Memaksa gadis itu untuk mendongak membalas tatapan mata hitam-nya. Mata hitam yang kembali menghipnotis Seohyun seketika.

“Aku mohon jangan lupakan cita-citamu… aku yakin ibumu, teman-temanmu, sahabatmu, bahkan aku disini akan kecewa jika kau hidup tak baik karena kehilanganku. Kumohon tetaplah kejar cita-citamu, karena aku selalu mengawasimu dari sini.”

Kyuhyun tersenyum diakhir kalimatnya, sementara Seohyun mengerjapkan matanya. Terpana. Tak berkutik ketika mata hitam itu memandangnya penuh makna.

“Kyu..hyun”

Sudut bibir Kyuhyun semakin melebar ketika mendengar gumaman Seohyun yang memanggil namanya, namanya baik saat menjadi anjing peliharaan Seohyun, atau namanya saat sudah menjadi manusia.

Mereka terdiam dalam posisi tersebut, masih saling berpandangan. Satu dorongan membuat Kyuhyun menundukkan wajahnya, mendekati wajah Seohyun yang lebih rendah darinya. Seohyun sendiri tak mengelak, diam saja ketika wajahnya dan Kyuhyun hanya terpaut beberapa senti. Gadis itu memejamkan mata, sementara Kyuhyun memiringkan kepalanya. Hidung mereka bersentuhan sampai..

Kyuhyun menjilat sudut bibir Seohyun, seperti yang dilakukan Kyu dulu. Baru kemudian menngecup lama bibir mungil Seohyun. Membawa gadis mantan majikannya itu kedalam ciuman lembut yang penuh warna. Ada kasih tak kasat mata yang mulai memerciki mereka.

Kyuhyun melepaskan pagutannya, menatap wajah Seohyun yang sudah memerah sepenuhnya. Pemuda itu mengusap sudut bibir Seohyun. Ada benang saliva yang kemudian terputus setelah jarak bibir mereka kian menjauh. Mereka saling berpandangan lama, sampai akhirnya Kyuhyun membuka suara.

“Seo, sudah saatnya…”

DEG~

Seohyun rasa ada perpisahan yang menunggu didepannya. Ya, setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Pertemuan singkatnya dengan Kyuhyun akan segera berakhir, dan ia akan segera berpisah dengan pemuda itu. Ada rasa tak rela yang menyusupi relung hatinya. Sesuatu yang melebihi rasa sayangnya pada Kyu, anjing peliharaannya. Pada Kyuhyun, ada rasa yang berbeda ketika menatap wajah pemuda itu.

Seohyun rasa bagian bawah tubuhnya mulai bercahaya, dan ia menghilang perlahan. Sosok Kyuhyun didepannya tersenyum, perpisahan yang dibicarakan sudah ada didepan mata. Seohyun tanpa sadar mengeratkan genggaman tangannya dilengan jas dokter Kyuhyun. Menatap Kyuhyun lama-lama, karena setelah ini tak akan ada pertemuan kedua. Seohyun baru teringat dengan permohonannya, permohonannya untuk bertemu kembali dengan Kyu yang sekarang adalah Kyuhyun. Ia ingin bertemu dengan Kyu untuk melepas rindu, juga mengucapkan selamat tinggal. Ingin mengatakan betapa waktu bersama mereka begitu berharga dalam hidup Seohyun.

“Kyu..hyun”

Kyuhyun menoleh ketika mendengar Seohyun memanggil namanya, dilihatnya manik kelam itu sudah kembali berkaca-kaca. Rasa tak rela yang selama ini ditahannya kuat-kuat hampir jebol pertahanannya ketika melihat tatapan gadis yang disayanginya itu.

Perlahan-lahan cahaya melingkupi tangan Seohyun yang menggenggam jas dokter Kyuhyun, tak ada lagi yang mencengkram jasnya. Tubuh gadis itu menghilang, menyisakan wajahnya yang tersenyum lebar dengan air mata jatuh disudut kelopaknya.

“Sayonara…”

Dan setelah kata itu, Seohyun menghilang. Bersama senyumnya yang meninggalkan bekas cahaya. Titik air mata itu melayang didepan mata Kyuhyun, kemudian berbunyi tik pelan dan ikut menghilang. Tak meninggalkan jejak pada Kyuhyun yang duduk dengan bahu lemas seketika.

Sejujurnya, Kyuhyun tak rela akan perpisahannya dengan Seohyun. Sekalipun ia tak pernah rela. Namun apa daya, takdir Tuhanlah yang mengatur hidup makhluk-Nya.

Kyuhyun menatap bekas bangku yang diduduki Seohyun, dengan satu senyuman lebar dipaksakan Kyuhyun balas berucap.

“Sayonara, Seo…”

Dan setitik air mata jatuh dari kelopak mata Kyuhyun, pemuda itu menepisnya dengan cepat. Namun tetesan-tetesan lain kembali berjatuhan setelahnya, tanpa bisa menahan air matanya Kyuhyun kemudian tertunduk. Memandangi bekas Seohyun yang menghilang tanpa jejak didepannya.

Whussh~

Angin berhembus, membawa aroma bunga sakura yang kembali mengingatkan Kyuhyun akan sosok gadis itu. Mendongak perlahan, Kyuhyun menatap kelopak bunga sakura yang berwarna biru berkilauan. Sembari menepis lagi air mata yang jatuh dari sudut kelopaknya.

“Ne, kenapa aku tak bisa berhenti menangis?”

..

..

..

“Eungh~”

Seohyun duduk diatas kasurnya setelah mengerjapkan mata. Ia memegangi sebelah kepalanya yang agak berdenyut. Baru saja ia terbaring, padahal sesaat yang lalu Seohyun rasa ia masih berada di taman tengah malam tadi, lalu bertemu dengan pemuda bernama Kyuhyun yang ternyata adalah Kyu, yang membawanya kesebuah dunia ajaib tempat hewan-hewan yang sudah meninggal dunia hidup bahagia disana.

Ada banyak kejadian yang membuat Seohyun tak ingin perpisahan itu datang.

Tapi sekarang, ia sudah kembali. Terbaring dikasurnya dengan cahaya mentari pagi yang masuk melalui celah tirai jendelanya. Seohyun tersenyum lebar mengingat pertemuannya dengan Kyuhyun, ia mengusap kedua pipinya yang agak basah oleh jejak air mata. Sepertinya Seohyun masih menitikkan air mata sepanjang ia terbaring diatas kasurnya.

Mengingat kejadian barusan yang tadi dialaminya, rasanya Seohyun seperti bermimpi. Mimpi yang terasa amat nyata, mimpi yang tak akan pernah dilupakannya.

Tringg~

Seohyun berjengit pelan saat kemudian sebuah surat muncul dari udara. Meraih surat beramplop putih besar tanpa perangko tersebut, Seohyun menemukan segel kepala anjing ditengahnya. Membuat Seohyun tersenyum menatapnya, segera ia membaca isi surat tersebut.

Untuk Seohyun, majikanku yang tercinta.

Maaf ya, padahal sudah berjanji padamu akan terus bersama. Tapi nyatanya aku sudah pergi meninggalkanmu. Aku benar-benar minta maaf, karena sudah mengingkari janjiku untuk berumur panjang, padahal Seo sudah bertekad untuk menjadi dokter hewan terhebat. Maafkan aku..

Bagaimana tempatku tinggal? Apa kau menyukainya? Tempat yang indahkan? Seperti yang Seo tahu, disini aku menjadi dokter, cita-cita yang sama denganmu meski sudah tidak bersama. Karena itu, Seo. Kumohon jangan berputus asa. Aku tak ingin Seo melupakan janji kita, tetap kejar impianmu untuk menjadi dokter hewan terhebat. Aku akan selalu mengawasi Seo dari sini, hingga bisa menjadi dokter hewan yang paling hebat. Tetaplah berusaha!

Aku merindukanmu disini, sangat-sangat merindukanmu. Sangat sepi tanpa Seo disini.

Tapi, setiap melihat kelopak bunga sakura disini, aku selalu teringat dengan Seo. Walaupun kelopak bunga sakura disini warnanya biru –tertawa-

Karena itulah, jika Seo juga merindukanku. Pandangilah kelopak bunga sakura didekatmu, karena aku juga akan selalu memikirkan Seo dari tempat ini. Bahkan meski tak ada kelopak bunganya, hanya perlu tangkai pohon sakura. Kita sudah saling terhubung, Seo. Jadi jangan sedih meski kita berpisah, karena aku juga akan ikut sedih memikirkannya.

Kyu sangat bahagia bisa bertemu dengan Seo, dan semoga kita bisa bertemu lagi.

Dari Kyu, yang paling mencintai Seo.

Seohyun mencengkram kertas surat dari Kyu ditangannya, tangisnya pecah seketika. Air mata kembali jatuh dari kelopaknya, terisak Seohyun berkata. Berharap Kyu disana dapat mendengarnya.

“Aku juga mencintaimu Kyu, aku janji. Aku akan jadi dokter yang bisa dibanggakan Kyu.”

Dalam bayangannya, ada wajah Kyuhyun dan Kyu yang tersenyum padanya.

Mata hitam itu, tak bisa berhenti mempesonanya.

Baik Kyuhyun ataupun Kyu, benar-benar sudah menjatuhkan hati Seo Joo Hyun. Dua orang paling berharga dalam hidup Seohyun.

Ia mencintai Kyuhyun,

-selalu…

.

.

.

…FIN…

.

.

.

Akhirnya end juga, tapi ini ada sedikit cerita tambahan ya~ 😉

.

.

.

…OMAKE…

“Okaa-san, Seo berangkat dulu!”

Cup~

“Ittekimasu..~”

“Itterashai..”

Nyonya Seo, tersenyum lembut usai sang putri, Seo Joo Hyun memberikan kecupan singkat dipipinya. Hingga kemudian Seohyun berangkat untuk pendaftaran kuliahnya di fakultas kedokteran. Ya, sejak beberapa minggu terakhir ini. Seohyun sudah mulai bersemangat, ia tak lagi semurung sebelumnya. Sepertinya Seohyun sedikit demi-sedikit melupakan kesedihannya atas kepergian Kyu. Dan Nyonya Seo tentu saja bahagia mendapati anaknya sudah ceria seperti sedia kala, meski ia menemui Seohyun beberapa kali termenung diatas ranjangnya. Sepertinya masih memikirkan Kyu.

Nyonya Seo menyelesaikan kegiatan mencuci piringnya, wanita itu kemudian meletakkan piring terakhir disamping bak westafel. Setelah kemudian mematikan kerannya. Wanita itu mendongak, menatap kaca jendela kecil yang langsung berhadapan dengannya. Memvisual taman komplek rumahnya yang tak seberapa jauh. Disalah satu jejeran pohon sakura, dibalik batang kayunya. Nyonya Seo menyipitkan mata, menyadari ada siluet sosok pemuda berambut kecoklatan tengah mencuri pandang kearahnya. Sebelah matanya yang mengerjap kemudian menghilang kembali dibalik batang pohon sakura. Ia menghilang seketika. Hingga ketika Nyonya Seo melongok kembali, siluet seorang pemuda berjas dokter, rambut berwarna kecoklatan, berjalan menjauh dari rumahnya. Hanya terlihat punggung tegapnya yang mungkin usia sebenarnya tak terpaut jauh dari usia Seohyun.

Nyonya Seo mengerjapkan matanya, rasanya ia mengenal mata hitam itu.

“Eh, apa itu Kyu? Kok jadi manusia?”

.

.

.

…FIN…

Haiii~ ketemu lagi ama author yang udah lama ngilang ini :3 Ini sebenarnya fict anime yang kubuat dengan cast SasuSaku, tapi kemudian kuganti castnya dengan SeoKyu. Gimana menurut kalian? Jelek ya ceritanya? Maaf ya, tapi aku nggak tahan pengen post fict ini dengan cast SeoKyu. Karena menurutku karakter SasuSaku dan SeoKyu agak cocok, meski Kyu ama Sasuke sifatnya bertolak belakang XD Jadi ini bukan fict plagiat ya, kalau gak percaya bisa buka akun fanfiction net ku dengan pen name yang sama 😀

Terakhir, selalu seperti biasa. Setelah baca, tolong tinggalkan komentarnya ya~ Menurutmu bagaimana dengan fict fantasiku yang ini? Menurutmu author cocok nggak nulis fict dengan genre fantasi? Cocokan mana dengan genre yang lain?

Sign out,
CrimsonEmerald

Iklan

5 thoughts on “Midnight Summer Dream (Oneshoot)

  1. iih lucu deh..
    awalnya kirain Kyu bakal jadi manusia keke~
    tapi kasian seo yaa, Kyu udah ga ada disamping diaa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s