Night Accident (Chapter 3)

“Malam itu memang terjadi kesalahan, tapi cinta hari ini bukan sebuah kebetulan.”

Chapter 3~

11050173_441067059382812_2656362094117753438_n

11050173_441067059382812_2656362094117753438_n

“Malam itu memang terjadi kesalahan, tapi cinta hari ini bukan sebuah kebetulan.”

.

.

.

(Kyuhyun POV)

 

Seohyun jatuh dalam pelukanku. Demi Tuhan! Setelah berhasil dicampakkan oleh kekasihku beberapa bulan yang lalu, kupikir aku tak akan pernah merangkul wanita lain lagi dalam kondisi sadar seperti ini—pengecualian untuk insiden yang terjadi beberapa minggu yang lalu. Tubuh mungilnya bersandar penuh di dadaku, dan aku sempat menahan nafas beberapa kali untuk menenangkan pikiranku.

Sial, tubuhnya wangi sekali.

Aku menggeleng dengan keras, berusaha untuk fokus dan tidak berpikir tentang hal-hal lain. Setelah memastikan tak ada seorangpun di sana yang bisa kumintai bantuan, tanpa ragu aku menggendong tubuh wanita itu. Berat badan Seohyun sama sekali tidak menghambatku. Kulitnya begitu mulus ketika bersentuhan dengan tanganku. Mungkin karena aku mabuk malam itu, aku jadi tak ingat bagaimana mulusnya tubuh wanita ini.

Aku akan membuka pintu atap dengan kakiku, sebelum kemudian seorang pria membukankannya untukku—lengkap dengan seringai khasnya.

Ah, itu Young Bi si paparazzi.

Aku mendengus keras, kupikir ucapan terima kasih terlalu mahal untuknya—setelah aku ingat apa saja yang sudah diberitakannya tentang kami selama beberapa minggu ini. Kulihat ia mengambil beberapa gambar dari kameranya, dan ia tak berhenti mengawasiku yang tengah menggendong tubuh Seohyun.

Aku yakin besok pagi skandal kami akan merebak lebih luas lagi, haruskah aku menghajarnya nanti?

Aku bertemu dengan staff agensi di lantai bawah, mereka segera menelpon sebuah ambulan untuk membawa Seohyun bersamanya. Aku akan masuk ke dalam mobil juga, ketika kemudian Young Min mencegahku dan menyuruhku untuk segera mengikutinya. Aku tak bisa menolak, dengan berat hati kutinggalkan Seohyun untuk dibawa ambulan bersama seorang staff wanita.

Entahlah, kurasa satu sisi rasionalku membuatku merasa harus melindungi gadis itu. Mengabaikan fakta bahwa aku baru saja ‘memerkosanya’ tanpa sengaja malam itu, dan mungkin ketidak sadarannya hari ini juga dikarenakan aku.

Aku mulai berpikir betapa aku membawa pengaruh buruk baginya.

.

.

.

.

.

.

Author: CrimsonEmerald

Title: “Night Accident”

Genre: Romance, Drama, Marriage Life.

Cover Credit: Genevra Design @CF

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ch.3

 

 

“Jadi bisa kau jelaskan apa yang sedang terjadi di sini? Bagaimana Seohyun bisa berada di pelukanmu ‘lagi’, huh?” Entah mengapa aku merasa tersinggung ketika Young Min menekankan kata lagi dalam kalimatnya—itu terdengar mengejekku.

“Apa kalian sudah memutuskan untuk menjalin hubungan sungguhan. Katakan ‘ya’ dan aku bisa meluruskan skandal kalian segera.” Young Min menumpahkan bir ke dalam gelas besarnya, wajahnya berkerut frustasi. Aku bertanya-tanya apa ia juga depresi seperti kami? Maksudku, aku dan Seohyun lah yang paling wajar merasa putus asa di sini. Mungkin Young Min ikut frustasi karena skandal ini menimpa kami—artis yang bernaung di bawah nama agensinya.

Meski aku sama sekali tak terharu dengan perasaannya, Young Min punya beribu rencana licik di balik kepalanya. Sejak awal aku tak bisa memercayainya, sepenuh aku percaya pada Soo Man.

“Oh, Tuhan. Aku sudah banyak merontokkan rambutku akhir-akhir ini karena kalian berdua. Apa kau tahu hal itu?” Young Min mendesah frustasi, ia segera menenggak isi gelasnya dengan cepat.

“Tidak, dan sayangnya aku juga tidak berpacaran dengan Seohyun. Kau tahu, yang terjadi malam itu murni secara keseluruhan adalah kecelakaan. Kami berdua mabuk, dan tidak sadar saat melakukannya.”

“Jadi kau sudah melupakan tubuhnya, malang sekali nasibmu, nak” Young Min menyela bermaksud mengejek, aku tahu itu hanya sarkasme semata, jadi aku mengabaikannya.

“Ya, aku memang tak ingat apapun tentang melakukan ‘itu’. Yang kuingat kami hanya bertemu, kemudian bercumbu dan berakhir di kamarku. Kau tentu tak menduga hal-hal yang kau kira hanya akan terjadi di drama-drama benar-benar terjadi pada kami berdua, kan?! Aku juga tak mengira, dan aku hampir frustasi saat memikirkannya, Pak Tua!” Aku kehilangan kesopanan saat bicara padanya, menyinggung masalah tentang malam ‘itu’ membuat emosi hampir memenuhi ubun-ubunku. Percayalah, aku yakin Young Min sama sekali tak masalah dengan panggilan ‘Pak Tua’ yang kusematkan padanya.

Mengobrol bersamanya saat berdua saja memberi beberapa keuntungan, dan salah satunya adalah aku tak perlu memperhatikan tata krama saat mengumpat di depannya. Karena ia salah satu pimpinan yang tolerir dengan ke’kurang ajaran’—kecuali jika kau melakukannya di hadapan media. Kurasa ia tak bisa menolerir yang satu itu.

“Minum?” Aku mengangguk menerima segelas bir yang ia tuang untukku. “Aku tak tahu kau suka minum-minum.” gumamku sebelum menenggak isi gelas dalam satu nafas.

“Seorang pria perlu minuman untuk mendinginkan kepalanya, Nak.” sahutnya dengan suara kebapakan, aku yakin dia mulai mabuk sekarang.

“Fuwahh—hebat sekali kau, Pak Tua! Ini alkoholnya sangat tinggi, kau yakin tak menyetir setelah ini?” Aku meringis sebentar setelah merasakan panas menggigit ketika bir melewati kerongkongan. Seketika kepalaku terasa pening, namun aku masih kuat untuk tetap duduk dengan tegak. Kuseka sudut bibirku sembari melirik Young Min yang terkekeh di hadapanku.

“Jangan khawatirkan aku, Nak. Malam ini aku akan menginap di kantor.” jawabnya terdengar akrab, aku menggumam tak jelas. Melirik jendela kantornya, kutemukan warna kuning berbias pink dan jingga menggantung di cakrawala. Tanda sore telat lewat, dan malam akan segera tiba. Kupikir aku sudah cukup lama mengobrol bersama Young Min setelah kepergian ambulan Seohyun.

Percakapan kami terus bergulir, dan sepanjang itu kami bergantian menuangkan bir. Young Min yang mabuk adalah teman bicara yang kau idamkan. Sikap memerintahnya yang terkadang menyebalkan berubah menjadi sosok pria dewasa yang pengertian dan perhatian. Ia mendengarkan dengan seksama kronologis ‘kecelakaan’ yang kuingat dengan Seohyun malam itu. Bahkan ia mendengarkan dengan penuh perhatian penyebab aku mabuk malam itu. Ini cerita yang belum kukisahkan pada siapapun, ini cukup membebaniku. Karena itu, menceritakannya pada Young Min yang mabuk mungkin akan memberikan sebuah pilihan. Lagipula pak tua itu akan segera melupakan ceritaku ketika ia sadar dari mabuknya esok pagi.

Young Min yang seperti ini benar-benar terlihat seperti sosok seorang ‘hyung’ di mataku.

“Baiklah, Nak. Kurasa aku mulai mengantuk sekarang, mungkin aku akan….”

BRUK—

Kepalanya terjatuh dengan cepat sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Aku hanya tersenyum sekilas, kemudian menuang bir ke gelas terakhir dan bersulang dengan gelas kosongnya yang tergeletak di dekat kepala.

“Terima kasih untuk waktu dan bir mu, Pak Tua.” Aku kemudian menenggak isi gelas dengan cepat, sebelum menyeka bibirku dan berdiri dari kursi sofa. Young Min telah mendengkur keras di atas meja kerjanya, ia tampak begitu kacau. Namun wajahnya berhenti berkerut dan terlihat lebih damai daripada saat ia sadar. Aku meninggalkan kekacauan di sana dengan meraih mantelku.

Kupikir aku ingin melihat wajah Seohyun dulu malam ini sebelum kembali ke dorm. Entah kenapa, tiba-tiba aku mulai merindukan wanita itu—aneh memang.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku memasukkan kunci mobil dengan susah payah, kepalaku agak berkunang-kunang dan sekelilingku terasa melayang. Nafasku terasa menyengat dan hal itu sama sekali tak mencegahku untuk menemui Seohyun malam ini. Demi Tuhan! Apa yang sudah terjadi padaku hingga terobsesi untuk menemuinya sekarang juga? Aku menggaruk belakang kepalaku meski tak terasa gatal sama sekali di sana.

Tanganku beberapa kali lolos saat hendak memegang pegangan pintu. Brengsek. Bir Young Min berhasil membuatku mabuk separah ini, terakhir kali aku mabuk parah sampai tak sadarkan diri adalah malam ‘itu’. Dan kupikir sejak saat itu ketahananku terhadap alkohol semakin tinggi. Aku tak ingin mabuk dengan mudah dan tertimpa kecelakaan seperti malam itu lagi.

“Oi, kau tak bisa menyetir dalam keadaan mabuk begitu!” Seseorang berteriak di belakangku.Aku berbalik untuk melihat seorang lelaki berseragam supir taksi, melongokkan kepala dari jendela dan berteriak ke arahku.

Oh, dia sedang menegurku rupanya.

Aku terseyum ke arahnya, dan ia menggelengkan kepala saat melihat kekacauanku.

“Kau akan tambah terkenal jika seorang wartawan mengambil gambarmu sekarang, Tuan.” Aku tertawa renyah mendengar sarkasme-nya, ia keluar dari mobil taksi dan membopongku ke dalam mobilnya. Meski mabuk, pendengaranku masih berfungsi dengan sangat normal. Pria itu mengernyit ketika mencium aroma alkohol yang sangat menyengat dari tubuhku. Mungkin aku harus mandi sebelum memutuskan untuk menemui Seohyun.

“Nah, sekarang kau mau pergi ke mana?” Ia bertanya sesaat ia menutup pintu taksi.

“Kembali ke dorm saja, hyung. Aku ingin membersihkan diri terlebih dahulu.”

Lelaki supir yang kupanggil hyung tadi mengangguk paham, aku memanggilnya begitu bukan karena tanpa alasan. Umur kami hanya terpaut beberapa tahun, selain itu aku cukup dekat dengannya karena sering menumpang di taksinya. Terus terang saja, taksi ini adalah taksi yang disewa khusus oleh Young Min untuk mengantarkan artis-artis SM ke mana saja. Taksi ini disediakan agar para paparazzi tidak mudah melacak kami ketika kami bepergian. Tentu saja supir-supir-nya—termasuk hyung-ku ini. Tak akan mempan untuk disuap atau disogok untuk membocorkan tujuan artis yang diantarnya. Young Min sudah mengatur sedemikian rupa hingga tak seorangpun membuka mulut dan membongkar rahasia.

Kuakui kerja Pak Tua itu memang brilliant, melupakan sikap memerintahnya yang terkadang menyebalkan. Tapi, hei! Aku cukup suka dengan sosok Young Min yang mabuk. Mabuk melunturkan sikap menyebalkannya kurasa.

Perjalanan terasa begitu panjang ketika hyung tak membuka obrolan seperti biasa. Mungkin ia merasa cukup waras untuk tak mengajak mengobrol orang yang sedang mabuk sepertiku. Aku sama sekali tak keberatan, empat jam yang kulewati bersama Young Min untuk mengobrol sudah lebih dari cukup untuk mengeringkan mulutku—meski bir juga tak berhenti membasahi kerongkonganku.

Aku mendesah pelan setelah berhasil menyandarkan kepalaku yang terasa berputar ke punggung kursi. Volume kendaraan di Seoul berkurang dengan cepat ketika malam menjelang. Sehingga taksi melaju lancar di sepanjang jalanan yang lengang.

Ada banyak hal yang harus kupikirkan akhir-akhir ini. Ini adalah bulan-bulan tersibuk sekaligus yang terkacau sepanjang karier-ku. Mabuk membuatku melupakan banyak hal, terlebih di saat sunyi seperti ini. Deru mesin taksi memutar balik kenangan sepanjang hari ini. Hari yang begitu panjang dan melelahkan—kedua bahuku melemas saat memori itu terputar semakin nyata.

Mabuk membuatku melayang dengan mudah begitu saja.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mandi memang pilihan yang tepat. Air dingin dari shower mengucuri seluruh tubuhku dengan cepat. Membawa serta kesadaranku yang kini telah pulih sepenuhnya. Lain kali akan kucatat, mandi dengan air dingin akan menyadarkanmu dari mabuk dengan cepat.

Sementara aku membersihkan sisa-sisa busa di seluruh tubuh, mataku terpejam. Tetes air yang tajam jatuh satu-satu di atas kulitku. Aku menggosok sekeliling leherku, sembari memutar kembali memori dalam kepalaku.

 

‘Aku terlambat.’

 

Kalimat terakhir Seohyun sebelum pingsan terngiang-ngiang di telingaku.

“Aku terlambat?—“ Tanpa sadar aku mendesah frustasi. “Apa maksudnya?”

Aku mengerang pelan, mengacak rambut basahku yang terus dikucur air dingin. Kedua tanganku menopang dinding, menumpukan berat badanku di sana. Aku menundukkan wajahku, merenungkan berbagai kejadian pasca Seohyun jatuh dalam pelukanku.

BRAK—kupukul dinding kaca terdekat.

Sial, tak satupun yang kumengerti dari kalimat wanita itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kamar Seohyun dirawat berada di gedung yang terpisah dengan gedung utama rumah sakit. Gedung di sebelah barat daya ini berisi belasan kamar VVIP untuk orang-orang dari kalangan khusus—artis misalnya. Aku yakin ini bukan keinginan Seohyun untuk dirawat di sana, mungkin seseorang dari agensi atau Young Min sendiri yang ingin artisnya dirawat di sana agar tak terganggu oleh media. Karena wartawan dan kawanannya dilarang masuk ke dalam gedung itu, hanya orang-orang berkepentingan yang boleh menjenguk ke sana—seperti aku misalnya.

Setelah menanyakan nomor kamar Seohyun, aku segera menuju ke sana. Lantai 2 kamar nomor 11. Ketika sampai di sana, kutemukan pintu kamar yang tak tertutup rapat. Aku menoleh untuk mengawasi koridor, tak satupun perawat yang kutemui di sana. Mungkin ini adalah gedung rumah sakit tersepi yang pernah kutemui. Aku mengetuk pintu kamar beberapa kali, sebelum membuka kenop pintu dan menemukan Seohyun yang telah duduk di atas kasurnya.

Aku mengamati seluruh kamar. Ruang ini terlalu besar untuk disebut kamar rawat inap. Wanita cantik itu telah sadar sepenuhnya, ia duduk dengan tegak—seperti tak terjadi apa-apa. Tapi kekacauan di sekitarnya menyiratkan sebaliknya.

Ada banyak pecahan kaca, meja pasien terbalik, kursi terguling, hingga vas bunga yang hancur berkeping-keping bersama bunga segar yang telah rontok kelopaknya. Mulutku ternganga ketika menemukan kamar yang telah ‘porak-poranda’, kecuali seorang wanita cantik yang duduk manis di atas ranjangnya. Bersikap seperti tak ada satupun hal yang mengganggu di sekitarnya.

Ada apa dengan wanita ini, apa ia mulai gila?

“Seohyun….” Meski aku takut saat mendekatinya, meski hatiku ragu untuk menghampirinya, dan meski suaraku bergetar saat melirihkan namanya. Sesuatu yang lebih kuat mampu menghempaskan raguku dan mendorongku untuk bertanya tentang keadaannya yang jelas jauh dari kata ‘baik-baik’ saja.

Demi Tuhan, apa yang sudah membentur kepalaku!

“Seohyun….”

“Pergi.” Ia menjawab tegas panggilanku.

“Seo Joo Hyun, ada apa ini—“

“Kubilang pergi.”

“Jelaskan dulu apa—“

“Tolong pergi.”

“Seohyun?”

“AKU BILANG PERGI!!”

Seohyun mengusirku dengan nada tinggi, matanya tak sekalipun sudi untuk menatapku.

‘Lari.’

Itu yang digumamkan oleh hatiku. Aku ingin berlari, menjauh dan pergi dari sini. Wanita itu tampak berbahaya, Seohyun yang ada di depanku sekarang… aku sama sekali tak mengenalnya.

Ah, sial.

Satu dorongan aneh lagi-lagi menahanku. Memaksaku untuk terus melangkah mendekat, ini gila. Aku tidak mengerti bagaimana tungkai kakiku bisa perlahan menghampirinya. Seohyun tampak mengerutkan alisnya dan melirikku dari sudut mata.

“Jangan mendekat!” potong Seohyun berusaha mencegat. Ia meremas surai panjangnya yang tampak kusut dari yang biasa. Kedua kakinya ditarik merapat, ditekuk di dalam selimut.

“Kenapa ka—“

“Aku bilang pergi—” Seohyun menyela kalimatku sebelum aku sempat menyelesaikannya.

Aku terpaku—setelah hanya satu langkah jarak yang memisahkan kami berdua. Aku berhasil melangkah hati-hati di antara kepingan kaca yang tajam dan berkilau oleh cahaya lampu di atas sana. Seohyun menatapku benci—sorot matanya membuatku tersentak seketika.

‘Seohyun membenciku.’

Aku behasil menyimpulkan satu hal dari tatapannya padaku. Tiba-tiba kerongkonganku terasa kering, sorot benci itu seakan menamparku pada kenyataan.

Siapa wanita yang tak benci pada pria yang ‘memperkosanya?’ Apalagi kami berdua sama-sama dalam keadaan mabuk dan tak sadarkan diri. Ia pasti mengira aku mencuri-curi kesempatan di malam itu.

Fakta Seohyun telah membenciku membuat tubuhku mati rasa, padahal kami tak pernah dekat sebelumnya—ini aneh.

“Aku ingin minta maaf—“

“Tidak.”

“Aku benar-benar tidak sadar melakukannya.”

“TIDAK!” Suaranya naik satu oktaf, namun aku sama sekali tak terpengaruh olehnya.

“Kumohon biarkan aku menebus kesalahanku!”

“Jangan—“

“Aku ingin memperbaiki masalah ini!”

“Kumohon jangan—“

“Tolong biarkan aku melakukannya untukmu.” Suaraku bergetar dan terdengar akan menangis, namun aku tahu tak ada air mata yang jatuh dari sana.

“Aku sudah membencimu—“ akunya jujur. Dan kuakui aku ‘hampir’ putus asa. Namun,

GREP

dengan cepat kudekap tubuh mungilnya. Aku baru sadar betapa rapuh Seohyun saat aku memeluknya dari belakang, ini seperti satu sentuhan kasar akan segera meremukkannya. Wajahku tanpa sadar bergerak menuju perpotongan lehernya. Menyesap aroma ‘wangi khas’ miliknya—aroma manis yang segar dan menenangkan.

“Aku akan menikahimu” bisikku penuh tekad, aku mendekapnya semakin erat. “Aku akan bertanggung jawab dengan penuh dan aku berjanji.” Tak kuhiraukan Seohyun yang bergerak mencoba melepaskan tanganku, aku malah menempelkan pipi kami berdua. Merasakan sendiri bagaimana kulit halus wanita itu terasa dingin saat bersentuhan dengan pipiku. Tanganku mencari-cari tangannya—kemudian menggenggamnya.

“Akan kubuat kau bahagia.” bisikku penuh makna, terselip janji dan tekad di dalamnya.

Ini tidak rasional. Jika aku masih waras, seharusnya aku meninggalkan gadis itu, menyerah dengan skandal kami, dan membiarkannya terlarut begitu saja sampai media tak memberitakan berita tentang kami lagi. Namun bersama dengan wanita ini—Seohyun, kurasa aku telah kehilangan kewarasan hanya untuk melindunginya.

Aku takkan pernah memaafkan diriku jika meninggalkannya—aku ingin ia bahagia.

Entah dari mana dorongan itu berasal, namun aku ingin melihat wajah cantiknya berhiaskan senyum di ‘satu hari mendatang’ yang akan kusongsong bersamanya nanti.

‘Tuhan, tolong beri aku kekuatan untuk mengembalikan kebahagiaannya.’—aku berdoa dalam hati.

Kata ‘terlambat’ yang dimaksudkannya itu, mungkin aku sudah mengerti apa maknanya. Aku akan menjaga dan membahagiankan mereka berdua—Seohyun dan buah hati kami yang tengah dikandungnya.

.

.

.

.

.

.

.

Night Accident (Ch.3) ~

To Be Continue~

Terima kasih sudah membaca, jika berkenan tolong tinggalkan komentar kalian setelah membaca~ ^^

Iklan

19 thoughts on “Night Accident (Chapter 3)

  1. keren, bagus banget. aku udah baca chapter sebelumnya. untung aja kyu mau tanggung jawab, semoga seo cepet pulih dari traumanya. next, ditunggu 🙂

  2. tuh kan seohyun desperate abissss disitu. akhirnya kyu sadar kalau dia jarus tanggung jawab juga. mskpun sama2 accidant but you are MAN kyuuu. ditunggu kelanjutannya

  3. scene paling fav ini, kyupil so sweet banget kyaaa~ >w<
    jadi seohyun hamil?udah ketebak sih secara mereka gak pake pengaman waktu itu -.-
    ahh~ pernikahan seokyu kayanya bakal jadi scandal terbesar daripada rumor dating mereka u,u
    semoga mereka baik2 aja ^-^

  4. Cepet banget kyuhyun merasa jatuh cinta sm seohyunnya padahal mereka jarang ketemukan . Hffftt.. berarti udh pasti kalo seohyun hamil anak kyuhyun.
    Dan baiknya kyuhyun mau tanggung jawab

  5. “Aku akan menjaga dan membahagiankan
    mereka berdua—Seohyun dan buah hati kami
    yang tengah dikandungnya”

    berjanjilah pada dirimu sendiri kyu,
    bujtikan jika kau benar2 serius ingin melindungi dan membahagiakan mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s