“Night Accident” (Chapter 5)

“Malam itu memang terjadi kesalahan, tapi cinta hari ini bukan sebuah kebetulan.”

Chapter 5~

11050173_441067059382812_2656362094117753438_n

“Malam itu memang terjadi kesalahan, tapi cinta hari ini bukan sebuah kebetulan.”
.
.
.
(Seohyun POV)

“Beritahu aku alasannya….”—begitu katanya.

Ah, pada akhirnya aku memang harus menceritakannya, bukan? Kyuhyun berhak tahu—alasan dibalik mengapa aku memilih untuk menikahinya di saat aku justru tidak mencintainya bahkan membencinya.

Ia harus tahu.

“Kau pasti tahu kalau aku saat ini sedang mengandung anakmu.” Kyuhyun mengangguk di hadapanku. “Dan suatu hari, ia akan lahir ke dunia ini.” Tanpa sadar aku menahan nafas saat mengucapkan kata ‘lahir’, kulihat raut wajah Kyuhyun semakin serius begitu mendengar tiap detil penjelasanku.

“Karena itu, aku tidak ingin anak ini tumbuh tanpa seorang Ayah.” Kyuhyun bermaksud membuka mulutnya seperti akan menyela, namun aku siap menghentikannya dengan penjelasan lainnya. “Aku ingin anakku hidup bahagia bersama Ayah kandungnya. Ya, ayah kandungnya—dan itu adalah kau Cho Kyuhyun.” Aku berhenti sejenak untuk melihat ekspresi Kyuhyun. Ia tampak tertegun mendengarnya, matanya tak berhenti menatapku, tak sekalipun ia memutus pandangannya padaku.

“Bagaimanapun juga anak ini tidak bersalah, ia berhak hidup dengan limpahan kasih sayang orang tuanya—dan itu adalah kita. Kau dan aku. Aku tak ingin dia tahu dosa kedua orang tuanya, dosa kita. Karena itu aku ingin menghapus semua itu—“ aku tersenyum di sela-sela penjelasanku. Perasaanku tiba-tiba melunak saat akan melanjutkan kalimat.

“Aku memilih untuk menikahimu. Ya, kamu. Bukannya kau sudah berjanji untuk membuatku bahagia?” Tanpa sadar senyumku melebar, entah karena apa sedikit- demi sedikit kebencianku pada pemuda ini mulai memudar. Kata-kata janjinya terasa berputar, membuat dadaku sejenak terasa hangat saat membayangkannya.

“Karena itu, penuhi janjimu. Dan buat aku dan anakmu bahagia, itu adalah kewajibanmu, Cho Kyuhyun. Sekarang kau adalah suamiku.” Aku bisa bayangkan pipiku merona saat mengucapkannya, bukan karena malu atau marah. Tapi itu adalah rona bahagia. Janjinya malam itu, setelah aku berulang kali memikirkannya. Berhasil menepis ragu dan benci yang sempat menghampiri.

Aku ingin percaya—dan kuberikan satu kesempatan padanya untuk bisa percaya.

Aku yakin suatu hari nanti dia bisa membuat hidupku benar-benar bahagia—‘bahagia’ bukan hanya janji semata.

Kyuhyun berdiri, kemudian mendekat. Derit ranjang terdengar ketika ia beringsut ke hadapanku. Aku tak bisa melihat ekspresi wajah yang terbayang oleh poni rambutnya. Kamar kami sudah gelap, hanya tersisa kerlip lampu kota dari kaca jendela. Ia berhenti ketika jarak wajah kami hanya tinggal sejengkal, aku bisa mendengar suara nafasnya yang ditarik dalam—mengisinya dengan berbagai kepercayaan. Aku tahu ia sedang mengumpulkan keberanian.

Pasti bukan hal mudah untuk bersikap dewasa sepertinya. Memilih bertanggung jawab setelah apa yang dilakukannya padaku, bersedia menikahiku, bahkan berjanji untuk membahagiakanku. Aku tak bisa temukan alasan apapun lagi untuk menolak atau membencinya. Aku bisa temukan ketulusan tiap mata kami bertatapan, matanya berbinar. Dan tak sekalipun aku mendengarnya berkata kebohongan.

Tangannya perlahan merengkuhku, menarik tubuhku ke dalam tubuhnya. Tangannya bersentuhan dengan punggungku. Aku diam, membiarkannya untuk terus memelukku semakin dalam. Tubuhnya kemudian mendorongku pelan, hingga aku terbaring di atas ranjang dengan posisi tubuhnya masih memelukku. Aku tenggelam dalam rengkuhannya, Gerakannya lembut dan hangat, penuh perasaan. Aku tak bisa menolak dan mendorong tubuhnya untuk menjauh. Mataku bergulir untuk menatap pintu kaca dari balik bahunya. Perlahan-lahan mendung tersingkap, langit Paris berhias satu atau dua titik bintang. Kyuhyun masih terus memelukku, dengan tubuh kami terbaring di atas ranjang. Siku dan lututnya menopang berat badannya agar tak menindih tubuhku yang berada di bawah tubuhnya.

Kami sudah pernah melewati hal-hal yang menyedihkan, dan sama-sama pernah ditinggalkan. Sekarang saatnya untuk saling berbagi kepercayaan, melewati hal-hal yang menyedihkan. Bersama-sama menuju kebahagiaan. Sekaranglah saatnya aku akan memberinya sebuah ‘kesempatan’.

Tanganku perlahan bergerak naik untuk mencapai bahunya, sedikit-demi sedikit aku balas merengkuhnya. Meletakkan wajahku di perpotongan lehernya, aku bisa melihat malam yang semakin larut melalui atas bahunya. Cahaya merayap masuk melalui kaca jendela, menerangi kami yang saat ini tengah mendalami perasaan masing-masing berdua.

‘Aku akan mencoba percaya padanya.’—tanpa sadar aku memejamkan mata dalam rengkuhannya. Kyuhyun terus menjagaku dalam kehangatan pelukannya.

Sebelumnya, hubungan kami seperti dua orang yang saling memunggungi. Namun malam ini, jam ini, menit ini dan pada detik ini. Aku tahu jarak yang sebelumnya memisahkan kami mulai mendekat—dan perlahan-lahan akan terhapus seiring berjalannya waktu.

Ah, wangi tubuh Kyuhyun mampu menenangkan hatiku—ini aroma citrus yang maskulin.
.
.
.
.
Author: CrimsonEmerald
Title: “Night Accident”
Genre: Drama, Marriage Life, Romance.
Cover Credit: Genevra Design @CF
.11050173_441067059382812_2656362094117753438_n
.
.
.
.
Ch. 5

(Kyuhyun POV)

Ceklek~

Pukul 08.00 pagi waktu Paris. Aku terbangun tepat 30 menit yang lalu. Setelah menutup pintu, sebelah tanganku tergerak untuk menggosok-gosok rambutku. Seperti biasa, ritual pagi yang pertama kali kulakukan adalah mandi.

Aku menghampiri pintu kaca. Kota Paris tampak sibuk di bawah sana. Ada banyak pejalan kaki, yang masing-masing berjalan cepat melintasi trotoar-trotoar di kota. Beberapa orang terlihat mengendarai sepeda, sementara jalanan dipadati oleh mobil, taksi dan bus umum. Tak mengherankan, pagi senin memang pembuka hari kerja. Setelah semalaman orang-orang berpesta-pora, sekaranglah saatnya untuk bekerja.

Aku mendongak, mengawasi langit pagi Kota Paris yang tampak cerah. Cakrawala biru berhias awan-awan tipis seputih kapas. Sekawanan merpati bertengger di sepanjang tali listrik yang membentang di antara gedung-gedung kota. Beberapa dari mereka terbang rendah dan mendarat di tanah, mematuk biji-bijian untuk sarapan. Aku tersenyum tipis, cuaca hari ini sempurna untuk rencanaku membawa Seohyun keliling kota.

“Eungh.”

Lenguhan terdengar dari arah belakangku, aku menoleh. Menemukan raut wajah mengantuk Seohyun yang baru terbangun. Wanita itu duduk di atas ranjang, rambutnya tergerai halus di atas kedua bahunya. Aku mengamati wajahnya, tak ada lagi kerut frustasi dan raut depresi yang akhir-akhir ini menghias wajahnya. Seohyun tampak cantik sempurna. Meski ia baru bangun dan terlihat berantakan, meski ia belum mandi dan sarapan, tak ada yang bisa menggantikan wajah damai Seohyun yang tersenyum menenangkan—sesuatu berdesir dalam tubuhku saat melihatnya.

“Pagi….” Seohyun bergumam pelan, ia menyibak rambut dari bahu sebelah kanannya. Ranjang berderit pelan, ketika ia memutuskan turun dari ranjang. Ia kemudian berjalan ke arahku. Berhenti ketika berdiri tepat di sampingku. Tubuh indahnya menghadap pintu kaca, mengawasi pemandangan kota Paris di bawah sana.

“Pagi yang cerah, ne?” Seohyun lanjut bergumam, kedua tangannya terangkat untuk mengelus perut ratanya. Aku tak bisa menahan senyum saat melihatnya. Seperti yang sudah kukatakan. Meski ia baru bangun dan tampak berantakan, meski ia belum mandi dan sarapan. Ia tetap terlihat cantik di mataku.

Bayangan Ibu muda yang tengah berbicara pada jabang bayi di perut ratanya—Seohyun tak pernah tampak sesempurna ini di mataku.

“Seohyun-sshi?” Ia menoleh ke arahku, sejenak aku memberi jeda pada kalimatku. “Bolehkah aku umm—ano… bisakah aku bicara padanya juga?” Aku tak bisa menahannya. Melihat Seohyun menyapa jabang bayi di dalam perutnya, membangkitkan sebuah naluri dalam diriku. Aku masih belum mengerti, tapi aku sadar naluri itu semakin lama tumbuh semakin kuat. Aku juga ingin melakukannya, aku juga ingin menyapa dan mengelusnya.

Aku bisa bayangkan wajahku yang pasti sudah memerah sempurna—ini memang terdengar memalukan.

“Tentu saja.” Aku mendongak menatap Seohyun dengan cepat. Wanita itu tersenyum lembut padaku, kemudian terkekeh kecil ketika mengamati ekspresiku. “Tentu saja boleh, kau Ayahnya, bukan?”

Tanpa sadar aku tersenyum lebar, kulihat Seohyun mengangguk ke arahku. Aku tahu itu tandanya ia memperbolehkanku. Aku kemudian berlutut di hadapannya, tanganku tergerak untuk mengelus perut ratanya.

“Umm—selamat pagi…?” Seohyun tertawa kecil mendengar kalimat sapaan pertamaku—aku tahu itu terdengar kaku. Aku juga tak pandai melakukannya, tapi aku tetap ingin melakukannya. “Halo, namaku Cho Kyuhyun. Dan aku adalah Ayahmu.” Kuelus sekali lagi permukaan perut Seohyun, bibirku tertarik sekali lagi untuk membentuk sebuah senyum.

“Aku tahu aku sudah banyak menyakiti Ibumu.” Aku melirik Seohyun yang tiba-tiba berwajah sedih mendengarku. “Tapi kali ini, aku berjanji akan membahagiakanmu dan Ibumu. Karena kalian—“ sebelah tanganku menarik tangan Seohyun, mengenggamnya lembut, kami saling melempar senyum. “adalah orang yang sangat berharga bagiku.” Hatiku terasa hangat saat mengucapkannya, seperti ribuan kupu-kupu terbebas dari jiwa. Desiran hebat lagi-lagi menerpa tubuhku, tangan Seohyun terasa sangat halus dalam genggamanku.

“Ne, Seohyun.” Aku kemudian berdiri. “Cuaca hari ini sedang cerah.” Aku menarik sebelah tangan Seohyun lagi, menangkupnya dalam genggamanku. “Bagaimana jika kita keliling kota?” Aku masih tersenyum, sementara Seohyun tampak tertegun. Sebelum kemudian tersenyum dan mengagguk sebagai jawaban.

Ah, hari ini akan jadi hari yang menyenangkan.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah sarapan di kafe hotel, aku dan Seohyun memutuskan untuk menelusuri sungai Seine. Seluruh panorama Paris yang menarik berada di tepian sungai ini. Dari kapal pesiar yang kami naiki, kami bisa menikmati daya tarik kota Paris. Jejeran cafe-cafe klasik, bangunan-bangunan kuno yang artistik, hingga lapak-lapak pedagang jalanan yang menawarkan berbagai barang antik. Seine Cruise adalah cara menyenangkan untuk berkeliling kota Paris. Setelah lebih dari 15 menit kami menelusuri sungai Seine, kapal berhenti di tepi jembatan Pont des Arts. Ada banyak penumpang yang turun. Penumpang-penumpang kapal yang kebanyakan berpostur tinggi besar mengapit Seohyun yang notabene bertubuh mungil khas wanita-wanita Asia.

“Hati-hati.” kataku sembari menarik pinggangnya, hampir saja tubuhnya akan didesak oleh seorang penumpang pria berbadan besar. Beruntung aku sempat memeluknya dari belakang, dengan begitu aku bisa menuntunnya turun dengan aman. Bagaimanapun juga Seohyun tengah mengandung, aku tak ingin bayi kami mengalami bahaya. Sebagai seorang Ayah, sudah menjadi tugasku untuk melindungi istri dan anakku, bukan?

Ah, sepertinya aku sudah menemukan jawabannya. Naluri yang sempat berkecamuk kuat dalam diriku adalah—naluri seorang Ayah.

“Kyuhyun-sshi.” Aku menoleh ke arah Seohyun yang wajahnya sudah memerah sempurna entah karena apa. “Terima kasih.” cicitnya pelan sembari menunduk dalam. Aku mengernyit heran, dan detik berikutnya baru kusadari aku sama sekali belum melepas pelukan.

“Mian!”

Saat itulah aku baru mengerang.

Aku dan Seohyun kemudian menuju Île de la Cité, sebuah pulau kecil yang berada tepat di tengah sungai Seine. Sebelumnya kami sengaja melewati Pont den Arts dan memilih untuk mengunjungi Notre Dame Cathedral terlebih dahulu. Gereja katedral bergaya gothic ini tak terlalu padat seperti di hari libur. Volume pengunjung jauh menurun terlebih di hari kerja seperti hari ini. Aku dan Seohyun masuk ke dalam gereja untuk melihat interiornya yang indah. Ukiran-ukiran bergaya gothic, perabot-perabot bernuansa klasik, hingga patung-patung berbahan keramik menyambut kami ketika masuk ke dalamnya. Bangku-bangku panjang yang dipelitur berjejer rapi di sisi karpet merah yang akan dijalani oleh pengunjung.

Kami terus berjalan, tanpa sadar bergandengan. Aku menuntun Seohyun hingga sampai di depan sebuah altar. Karpet merah, bangku-bangku panjang berpelitur, dan sebuah altar. Sekelilingku terasa sunyi, telingaku menjadi tuli, ini seperti hanya ada kami. Berdua, tak ada seorapun lagi kecuali kami.

Ini aroma nostalgia—saat perlahan kueratkan genggaman, aku menoleh. Melirik Seohyun yang ternyata juga tengah menoleh padaku. Kami mengangguk bersamaan, tidak salah lagi. Semua ini, seperti baru terjadi kemarin,

-mengingatkan kami tentang pernikahan.
.
.
.
.
.
.
Night Accident~Ch.5
To Be Continue~

Sebenarnya ingin kubuat lebih panjang, tapi tiba-tiba blank di tengah jalan dan setelah seharian aku bener-bener gak bisa lanjutin ceritanya lagi. Jadi kuputuskan untuk mempost sampai sini saja. Makanya maaf kalau jadi pendek begini. >.< Makin lama fict ini jadi makin ngarang bebas ceritanya XD hhhaha Tapi sebisa mungkin akan kubuat tetap realistis kok hhhehe~

Iklan

54 thoughts on ““Night Accident” (Chapter 5)

  1. gft saengie cuma agak bingung
    kemarin di chap 4 terakhir kan seo
    lagi pegang ponsel dan si terrence choi
    telepon kok di sini gak ada ya? jadi
    berasa ada part yang hilang disini ‘-‘
    apa itu di hidden dulu kah?… syukurlah
    seo sudah mulai nerima kyu semoga
    mereka gini terus sampe ending xD
    Like · Reply · Edit · Just now

  2. Sweet bgtt…….. walopun kurang pjg, tapi SKMnya menurutku udh cukup. Aniway, pertama kali komen di wp. Sblmnya komen di postingan SFW ajaa. Maaf ya, thor 😁
    Fighting!

  3. part ini manisss bgt~~~
    apalagi pas kyu berinteraksi sama anaknya itu loh~
    aduh ….. kakak di panjangin sedikit boleh kak? biar lebih seru bacanya hehe….
    next ya kak ^^

  4. Akhirnya nongol juga nih part 5 nya.. kependekan sih tapi gpplah yg penting dilanjut nih ff, kya nya aku lebih baik baca di WP ini aja deh, soalnya di SFW lama bngt dipostnya.. cepet dinext eonnie fighting ↖(^▽^)↗

  5. ini coment pertamaku di sini,.biasanya d sfw.
    suka sama seokyunya…
    so sweet sekali, smoga terrence choi gag ketemu seokyu, kan sama2 lagi d pariss…
    next ya…

    1. kan mereka baru akur, jadi masih kaku. kalau dibuat langsung akrab ntar hubungan mereka rasanya ngeganjel 🙂 aku juga udah bilang loh kalau chapt ini pendek karena emang blank seharian dan gak tau mau lanjutin apa lagi~ jadi tolong bersabar ^^

  6. Gapapa lah meskipun singkat tp berkesan kok ^_^
    Syukur bgt akhirnya mereka berdua bisa saling menerima dan.. Yg terpenting udah bisa ngasih moment so sweet buat para shipper kyk aku 😀

  7. ini q lgsung coment d part 5 ya. sblumx koment d Sfw jadi lgsg loncat.
    kurang pnjang thor. next dtgu ya. .seokyu tmbin skm y yua. .hh

  8. Annyeong chingu 😊 ga sengaja baca ni ff di SFW dan ff nya emang bener2 keren walau pendek 😁 manggilnya eonnie aja ya biar ga terlalu formal hehehe XD Semangat ya eon buat UAS nya smoga dapet nilai yang memuaskan 😃 Fighting 💪

  9. suka bgt baca part ini,akhirnya seo udah gak dingin lagi sama kyuhyun. harapanku semoga aja sampe ntar end kek gini,,,,amin 😀 dari kemaren2 adik aku udah nyuruh aku cepet baca ih tapi aku aja yg masih bandel gak cept dibaca eh bener bgt katanya kalo udah baca gak nyesel :v habis pas tau part 4 seo bener2 benci sama kyu, jaadinya bener2 gak mood baca. kok aku malah curhat ya thor kekkeke ya udah cepet next aja thor, jan lama2 😀 faighting

  10. Kok pendek syekalii aku baru baca lah tiba2 udh tbc aja -,-
    Duh ileeeh kyuhyun so sweet abis sih. Akhirnya seohyun luluh huaaaa pokoknya mereka sama2 belajar dari kesalahan dah hehe

  11. Kok pendek syekalii aku baru baca lah tiba2 udh tbc aja -,-
    Duh ileeeh kyuhyun so sweet abis sih. Akhirnya seohyun luluh huaaaa pokoknya mereka sama2 belajar dari kesalahan dah hehehe

  12. Ff-nya keren unnie , maaf aku baru nemu ff ini dan baru bisa coment di part 5. Part 6-nya masih lama ya? pengen tahu mereka punya dedek bayi hihi , penasaran nih , next chap jangan terlalu pendek ya un^^ mianhaeyo dan khamsahamnida 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s