“That Sin” (Oneshoot)

Credit cover: https://www.lightlogy.wordpress.com

untitled-1

“Pernahkah kau jatuh dalam kubangan dosa bernama cinta?”

(Seohyun & Kyuhyun)

A SeoKyu fanficton for Seohyun Birthday. :*

.

.

.

.

Disclaimer: “I don’t own all characters, they are belong to their agency and family.”

WARNING: Incest, brother x sister.

.

.

.

“That Sin” by CrimsonEmerald| romance, family, drama & little bit angst| Seohyun & Kyuhyun| PG+15|

Ini adalah kumpulan drabble yang dirangkai menjadi satu oneshoot. Setiap drabble memiliki setting waktu yang sama dan saling berhubungan.

~ ~ ~

(i) Saksi bisu pertama; ruang sastra.

 

Kami terjebak. Ya, aku dan Seohyun. Dalam ruang klub sastra yang hanya diisi oleh kami berdua. Jika kau bertanya mengapa? Jawabannya adalah karena klub sastra hanya beranggotakan dua orang; yaitu aku dan Seohyun. Dan sepertinya klub ini akan segera dihapuskan tahun depan. Sebab aku dan Seohyun akan lulus setelah ujian, yang artinya klub sastra akan kehilangan semua anggotanya. Sayang sekali, padahal kami dan klub ini punya banyak kenangan.

 

Seohyun sesaat menggulirkan tatapannya ke arah jendela, selama sepersekian detik kemudian ia mengabaikan novel di tangannya. Setelah mengamati hujan belum juga reda, Seohyun kembali menekuni novelnya. Sementara aku, yang duduk tepat di sebrang bangkunya tersenyum saat memperhatikannya.

 

Tak ada yang kulakukan. Hanya duduk diam memperhatikannya, kemudian terpesona. Pada setiap gerakan kecil apapun yang dibuatnya.

 

“Aku tidak ingin pulang ….” Seohyun bergumam usai menutup novelnya pelan. Kemudian meletakkannya di sudut meja. Sebelum menatapku tepat di mata. Manik cantiknya mengerling ke arahku.

 

“Aku juga.” jawabku kemudan tersenyum kecil. Aku bersandar pada meja, dengan dagu ditahan oleh tangan kananku. Sementara tangan kiriku dengan asal memutar-mutar ujung pulpen berwarna biru milikku.

 

“Kalau begitu bagaimana kalau kita bermalam di ruang klub saja?” Ia melirik hujan lebat, yang berderu bersama angin kencang di luar jendela. Di gedung kegiatan ekstrakurikuler ini, kurasa hanya ada aku dan Seohyun. Terjebak di ruang klub sastra karena hujan yang belum juga reda. Berdua saja.

 

“Dan membuat Ayah dan Ibu khawatir di rumah? Jangan bercanda.” Aku mendengus menatapnya. Seohyun terdengar mendengus juga. Sepertinya kami sedang memikirkan hal yang sama, betapa khawatirnya Ayah dan Ibu jika kami tidak pulang semalaman. Pasti mereka akan cemas, dan masalah akan jadi lebih panjang. Usul Seohyun sepertinya bukan opsi terbaik untuk saat ini.

 

“Aku lelah, oppa,” Seohyun menahan dagunya di atas tangan kanan, menatapku dengan sebersit senyuman. “Entah sampai kapan kita harus menyembunyikan hubungan ini, pada Ayah dan Ibu. Pada semua dan pada dunia.” Manik Seohyun tampak kelabu, nampak lebih sendu. Terlihat jelas batinnya yang lelah akan semua beban yang selama bertahun-tahun ini kami simpan.

 

Kami berdua, telah jatuh dalam kubangan dosa bernama cinta.

 

Hatiku terasa tercubit jika mengingat lagi dosa-dosa apa yang telah kami lakukan bersama. Tapi ketika melihatnya, menatap matanya, merasakan sentuhannya. Aku kembali terlupa dan terlena. Rasanya aku sanggup melupakan apa saja. Melakukan apapun untuknya. Demi Tuhan aku tak ingin kehilangannya! Seohyun adalah harta paling berharga yang pernah kupunya. Dan aku tak bisa bayangkan hidup tanpanya.

 

Tapi kami bersaudara. Tidakkah takdir berlaku kejam pada kami berdua?

 

“Pernahkan kau berpikir jika kita nanti mati, kita akan masuk neraka?” Seohyun tiba-tiba bertanya. Aku memberi jeda sebelum menjawab pertanyaannya.

 

“Aku sanggup memasukinya jika itu bersamamu, chagi.” jawabku plus dengan seringai khasku.

 

Seohyun menggembungkan pipinya, menarik novelnya ke atas dengan gerakan bersiap akan menimpukku.

 

“Menyebalkan.” ucapnya main-main. Aku tahu ia tak bersungguh-sungguh akan memukulku, Seohyun hanya terlalu malu.

 

Aku menangkap tangannya, yang terasa kecil dan hangat dalam genggamanku. Sensasi menyenangkan menyebar ke seluruh tubuhku saat aku menyentuhnya. Saat-saat bersama Seohyun adalah waktu yang istimewa, dan aku sangat menghargai dan mencintainya.

 

Meski kami bersaudara.

 

Aku menarik tubuhnya agar mendekat. Wajahku pun tergerak untuk berhadapan langsung dengan paras cantiknya. Dahi kami saling bersentuhan. Aku bisa rasakan nafasnya yang hangat dan harum. Aku menyukai semua tentangnya. Aku sudah tergila-gila padanya. Dan tak ada siapapun yang bisa halangi rasa cintaku padanya.

 

Sejujurnya aku juga lelah. Menyembunyikan hubungan ini tidaklah mudah. Selama bertahun-tahun kami dibuntuti oleh perasaan bersalah. Bukan satu atau dua kali aku hampir berkaca-kaca saat bertemu dengan tatapan teduh Ayah dan Ibu. Seohyun bahkan sering menangis tanpa sebab. Dan saat hal itu datang, aku dengan senang hati menawarkan sebuah sandaran dan mungkin sebuah pelukan untuk menenangkannya sepanjang malam. Dan kami terus seperti ini, melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

 

“Tolong bersabarlah sebentar lagi,” bisikku padanya, begitu lirih dan pasrah. Kepalaku terasa kosong saat berhadapan dengannya. Seohyun selalu berhasil membuatku tak berdaya. Wanita ini sudah menyihirku dengan mantra cinta.

 

“Jika saat itu tiba. Aku akan menikahimu dengan restu Ayah dan Ibu.” Janjiku untuk yang kesekian kali padanya. Seohyun tersenyum kala memejamkan mata. Wajahnya cantik sekali. Dan aku ingin terus memilikinya.

 

Aku memiringkan wajah. Ujung hidung kami bersentuhan. Dengan perlahan aku menghapus jarak yang ada. Aku mencium aroma manis dari napasnya. Dan aku tergoda untuk mengecap bibir ranumnya.

 

Rasanya begitu sempurna. Ketika aku bergerak untuk menyapu bibirnya, kemudian mengecupnya. Menerobos celah di antara keduanya lalu mencicipi sendiri rasa manis itu dari sumbernya. Aku menciumnya dengan mesra. Kutuangkan seluruh perasaanku di sana; senang, sedih, sesal, berdosa, dan cinta. Seohyun membalas ciumanku dengan rasa yang sama besarnya. Kami memejamkan mata, namun aku sesekali membuka mata untuk mencuri pandang pada paras cantiknya. Aku sudah menciumnya ribuan kali, namun rasa manis itu tak pernah pudar dari bibir ranumnya. Membuatku ingin terus menciumnya dan melupakan dunia.

 

Hari itu, di tengah kepungan suara hujan, kami berpagutan.

 

 

 

(ii) Saksi bisu kedua; jendela

 

“Seharusnya kita ambil jalan memutar, oppa. Aku sedang tak ingin cepat pulang.”

 

Kami bergandengan sepanjang jalan. Tak ada seorangpun yang memperhatikan, karena ini sudah larut malam. Lagipula, saat-saat tak ada orang adalah berharga bagi kami untuk bisa bersama. Di sekolah, kami berada di kelas yang berbeda meski berada di tingkat yang sama. Hanya saat berada di klub sastra dan pulang sekolah, kami bisa bermesraan dengan leluasa. Tak seorangpun yang curiga pada kedekatan kami berdua.

 

Kami bersaudara, kau ingat? Tentu saja orang-orang mengira kami dekat. Sebagai kakak adik tepatnya. Tapi sayang, kami sudah lama melewati batas itu. Batas yang seharusnya menjaga hubungan kami tak lebih dari sekadar keluarga.

 

Genggamanku mengendur, seiring dengan langkah kami yang semakin dekat dengan pagar rumah. Aku melirik papan nama almunium bertuliskan ‘Keluarga Cho’. Rumah kami, tempat kami bersandiwara sehari-hari. Rasanya kami bisa jadi artis terbaik di dunia ini. Terlalu banyak rahasia yang kami sembunyikan dari dunia. Dari Ayah dan Ibu yang tak pernah tahu hubungan kami.

 

Genggaman kami benar-benar terlepas saat Seohyun membuka daun pintu, kami masuk bersama. Wajah cemas Ibu dan hembusan napas lega Ayah menyambut kami berdua.

 

“Oh, Tuhan. Syukurlah kalian pulang dengan selamat.” Ibu menghampiri kami, kemudian memeluk kami. Ayah dari kejauhan tersenyum, bersandar di dinding memperhatikan kami.

 

“Masuklah dan hangatkan diri kalian, aku tak ingin kalian berdua sakit karena berhujan.” Aku melihat Seohyun mengangguk. Ibu tersenyum menatapnya, Seohyun kemudian naik ke atas lantai dua menuju kamarnya. Aku akan mengikutinya, kamarku juga berada di lantai dua. Sebelum Ibu menahan langkahku.

 

“Terima kasih sudah menjaga adikmu.” ujar Ibu tersenyum lembut padaku. Aku diam saja. Lidahku terlalu kelu untuk menjawabnya. Jika Ibu tahu yang sebenarnya, entah bagaimana reaksinya. Aku sendiri yang sudah menodai Seohyun, itu aku. Aku yang sudah menyeret Seohyun dalam kubangan dosa.

 

Aku tidak layak menjadi kakaknya. Aku inginkan hal yang lebih, lebih dari sekadar keluarga. Aku mencintainya sebagai wanita, bukan sebagai adik semata.

 

Aku naik ke lantai dua dengan pikiran berkecamuk. Rasanya bahuku akan patah dengan semua beban dan rahasia yang kutanggung bersama Seohyun. Setiap bertatapan dengan Ayah atau Ibu, aku selalu merasa berdosa. Aku merasa tak layak menjadi anak mereka.

 

Bisa kubayangkan hancurnya hati mereka jika mengetahui kebenaran kami berdua.

 

Di lantai atas, aku bertemu dengan Seohyun yang bersandar di pintu kamarku. Wanita itu menoleh dan tersenyum manis saat melihatku. Ah, biar kulupakan masalah tadi untuk hal yang lebih nyata. Seohyun milikku dan ia mencintaiku, adalah sebuah fakta yang kurasa mampu menghapuskan semua beban di pundakku. Aku perlahan melangkah mendekatinya. Aku melirik pada jendela kaca yang memisahkan antara kamarku dan kamar Seohyun. Dari sana nampak hujan kembali turun dan mulai lebat.

 

Aku menghapus jarak, bergerak mendekat. Sebelah tanganku melingkar di pinggang rampingnya, membawa tubuhnya agar merapat. Kukecup mesra perpotongan lehernya. Aku menyesap aromanya. Aroma manis strawberry yang tercium dari sana. Setelah itu aku menatap wajahnya, hidung kami bersentuhan. Sementara tangan Seohyun menarik seragam depanku, meremasnya seakan menarik tubuhku agar lebih merapat dengan tubuhnya.

 

Sentuhannya membuatku gila, aku kembali tergerak untuk menciumnya. Tapi kemudian aku memilih untuk mengecup lembut keningnya.

 

Aku memejamkan mata, meski sederhana. Kecupan di kening bermakna rasa sayang yang luar biasa.

 

Ya, aku menyayanginya. Aku mencintainya. Lebih dari sekadar sayang di antara sesama keluarga. Aku jatuh cinta padanya sebagai seorang pria. Dan aku selalu memandangnya sebagai seorang wanita, wanita yang berhasil menawan hatiku dan membuatku terpesona.

 

Aku menatap wajahnya yang berseri-seri usai kukecup keningnya. Senyum Seohyun selalu berhasil mengalihkanku dari apa saja. Aku tak sanggup melepasnya, aku sudah terlanjur sangat mencintainya.

 

“Bukankah Ibu menyuruhmu untuk masuk ke kamar?” bisikku dengan suara berat.

 

“Hm, tapi aku belum ingin berpisah denganmu, oppa.” lirihnya lembut di telingaku. Aku menarik napas dengan tercekat.

 

“Bodoh. Jika kau memohon seperti itu aku bisa gila.” Aku bersungguh-sungguh saat mengucapkannya. Jika dia terus memohon dan menahanku, aku mungkin kehilangan kewarasanku. Segala tentang wanita itu berhasil merenggut sisi rasionalku.

 

“Kalau begitu aku siap untuk menghadapi kegilaanmu.” bisiknya menarik kerah seragamku, kemudian mengedipkan mata dengan senyum menggoda. Ah, aku bisa benar-benar gila jika tak segera menyentuhnya.

 

“Buka jendelamu. Aku akan masuk ke kamarmu setengah jam lagi.” balasku berbisik ditelinganya. Kemudian mengecup pipinya. Seohyun tersenyum, dan kami saling melepaskan pelukan namun masih tetap bergandengan. Rasanya berat sekali melepas tautan tangan ini.

 

“Aku akan menunggumu, oppa.” gumamnya sebelum benar-benar melepaskan tanganku dan masuk ke kamarnya.

 

Jendela—adalah saksi bisu di rumah ini, yang mengetahui rahasia kami.

 

Jika saja jendela bisa bicara, mungkin ia akan menyumpah serapahi hubungan kami berdua.

 

Tapi aku tak peduli—sama sekali tak peduli.

 

 

(iii) Ketika ku pertama kali jatuh cinta padamu, di masa lalu.

 

Saat aku berumur 10 tahun, Ibuku meninggal karena sakit keras. Tak lama kemudian, Ayah memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang wanita. Aku tak senang pada awalnya. Wanita itu juga memiliki seorang putri yang seumuran denganku. Dan aku sama tak senangnya dengan gadis kecil itu.

 

Saat kami kemudian tinggal bersama, aku mengabaikannya. Aku selalu bersikap dingin padanya. Seohyun namanya. Walaupun seumuranku, dia dua bulan lebih muda dariku. Jadi ia adikku, dan aku kakaknya. Tapi aku tak pernah menganggapnya begitu karena aku membencinya.

 

Aku masih terlalu kecil untuk menerima kepergian Ibu dan pernikahan Ayah dengan wanita baru. Aku juga belum siap untuk bertemu keluarga baru. Aku sendiri benci jika mengingat lagi egoisnya aku saat itu.

 

Pada satu malam di musim panas, Ayah membawa keluarga barunya ke taman hiburan. Termasuk aku, padahal aku sudah menolaknya tapi Ayah membentakku dan menyuruhku untuk tetap ikut bersama mereka. Aku marah sekali saat itu, aku kecewa pada Ayah yang kurasa mulai berubah. Ia jadi lebih tegas, dan agak pemarah setiap berhadapan denganku. Padahal aku hanya tak tahu, kalau Ayah ingin aku berhenti bermanja-manja dan memperbaiki sikap burukku. Saat itu aku masih tidak menerima Ibu dan adik baruku.

 

Aku duduk di salah satu bangku taman hiburan. Wahana-wahana di sekelilingku nampak menyenangkan. Tapi tak satupun yang berhasil menarik perhatianku. Aku masih marah pada Ayah yang membentakku waktu itu.

 

Kemudian dari kejauhan, muncul dari lampu-lampu wahana hiburan yang tampak temaram. Seorang gadis kecil seumuranku berlari tergopoh-gopoh mendatangiku. Itu adikku, dengan membawa banyak permen dalam pelukannya. Wajahnya berkeringat dan matanya terus menatapku. Mencoba menyampaikan pesan isyarat untukku, agar aku tetap duduk di bangkuku.

 

Aku diam, memperhatikannya. Aku mengerti maksud pesannya, dan aku berniat akan meninggalkannya ketika dia tiba.

 

Tapi kemudian ia tersandung dan terjatuh dengan keras. Permen-permen dalam pelukannya jatuh berhamburan. Aku bisa bayangkan sakitnya terjatuh di atas tanah seperti itu. Tapi, aku tetap diam di bangkuku. Berusaha untuk tak peduli dan mengabaikannya. Kubiarkan saja Seohyun memunguti permen-permen itu dengan mata berkaca-kaca. Aneh sekali melihatnya tidak menangis saat itu juga. Gadis-gadis lain seumurannya mungkin akan menangis manja pada orang tua atau kakaknya jika tersandung seperti itu. Tapi Seohyun menahan air matanya, matanya memang berkaca-kaca. Tapi tak ada suara isakan dan ia kembali bangkit dengan sisa permen yang bisa dipungutinya.

 

Ketika ia akan mencapai tempatku, aku bersiap untuk berbalik dan meninggalkannya. Biar dia tahu betapa aku membencinya. Tapi, Seohyun kemudian berteriak memanggilku.

 

Oppa, jangan pergi!” Aku masih mengabaikannya, berbalik dan pergi meninggalkannya.

 

“Oppa, tolong jangan—“

 

Bruk

 

Seohyun kembali tersandung dan jatuh dengan keras di atas tanah. Aku menoleh ke belakang, melihat Seohyun masih belum menangis dan memunguti permen-permen sisa dengan mata berkaca-kaca. Jarak kami hanya sekitar 3 kaki. Dan aku bisa mendengar suara rintihan tertahannya. Sekilas aku melihat darah di kedua lututnya.

 

Oppa, tolong jangan membenciku.” Aku mendengar Seohyun berbicara. Gadis itu berdiri dan menghampiriku dengan sudut mata dipenuhi air mata. Perlahan-lahan tetesan air mata meleleh di pipi berdebunya. Ia menangis, namun tak bersuara.

 

“Untuk apa kau mendatangiku dengan permen-permen bodoh itu?!” tanyaku membentak di hadapannya. Aku merasa sangat jahat saat itu, tapi rasa benci telah menutup kedua mataku.

 

“I-Ini untuk, oppa.” Seohyun menyodorkan sebuah lollipop ke hadapanku. Aku tidak langsung menerimanya, rasa benci dan gengsi masih berkecamuk dalam kepalaku. Tapi kalimat yang ia lontarkan selanjutnya, berhasil meruntuhkan egoku seketika.

 

“Aku ingin oppa menerimaku. Aku tidak ingin kita saling membenci.”

 

Dengung wahana bermain di kejauhan, suara keramaian, dan desahan angin yang menggoyang daun-daun pohon dengan perlahan. Semua menjadi tidak berarti lagi.

 

Seohyun yang tersenyum, dengan air mata mengalir di kedua pipinya, serta sebuah lollipop dengan plastik berdebu. Adalah semua hal yang kubutuhkan untuk melupakan kebencianku. Saat aku menatap matanya yang berkaca-kaca, rasanya hanya ada aku dan dia. Berdua saja.

 

Dari awal, aku memang tak pernah menganggapnya sebagai adikku. Baik itu saat aku membencinya, ataupun saat kini aku berbalik sangat mencintainya.

 

Bagiku, Seohyun adalah seorang wanita yang berhasil membuatku terpesona.

 

Sederhananya, aku jatuh cinta padanya.

 

 

 

(iv) Sebuah bayangan, tentang masa depan.

 

Sudah bertahun-tahun lamanya kami tidak pernah makan bersama. Aku, Seohyun, Ayah dan Ibu. Kami berempat duduk menikmati makan malam, mengelilingi meja makan persegi panjang yang di atasnya telah tertata beraneka macam hidangan.

 

Di usiaku yang mencapai 23 tahun ini, aku berhasil menjadi seorang arsitek untuk sebuah perusahaan. Sementara Seohyun menjadi seorang novelis. Ia menulis novel best seller berjudul ‘That Sin’ yang diangkat berdasarkan kisah kami. Tentang dua orang kakak adik yang saling mencintai.

 

Jika kau bertanya-tanya bagaimana hubungan kami sekarang? Jawabannya adalah baik-baik saja dan bahkan lebih mesra di banding sebelumnya.

 

Aku tinggal di sebuah apartemen bersama Seohyun. Ayah dan Ibu hanya tahu aku dan Seohyun menyewa di apartemen yang sama namun di kamar yang berbeda. Padahal sudah sejak 3 tahun yang lalu kami tinggal bersama, berdua saja. Tetangga-tetangga kami di apartemen pun tidak pernah menaruh curiga. Seperti kehidupan perkotaan biasanya, semua orang tidak saling peduli.

 

“Kyuhyun.” Ibu memanggil namaku, aku bergumam pelan menyahutnya.

 

“Bukankah kau sudah berusia 23 tahun? Kapan kau akan menikah?” Seketika aku berhenti mengunyah makanan di mulutku. Aku kehilangan selera. Dan Seohyun tampak menyadarinya, wanita itu mengerling ke arahku.

 

“Aku tidak tahu, Ibu ….” jawabku pelan. Ibu menghela napas panjang. Sejujurnya ini bukan kali pertama Ibu dan Ayah menanyaiku dan Seohyun. Sudah sejak sebulan yang lalu orangtua kami gencar menanyakan perihal pernikahan. Apalagi semingguan ini Ibu mengirimkan banyak foto perempuan. Hal ini sebenarnya mengusikku dan tentu saja Seohyun. Tapi kami tak berdaya untuk melawan orangtua.

 

Aku bukannya ingin melawan mereka atau menolak pilihan mereka. Hanya saja aku sudah mencintai seorang wanita. Dan itu adalah Seohyun. Sejak bertahun-tahun yang lalu. Dan kami sudah berhubungan sejak itu, tanpa seorangpun yang tahu. Kami masih menyembunyikan hubungan ini.

 

Sejujurnya, aku tak takut apa kata orang tentang kami berdua. Seandainya dunia membenciku pun, aku akan tetap mencintai Seohyun. Dan Seohyun agak berbeda dariku. Ia adalah wanita yang sangat peka. Sedikit kesalahpahaman dapat melukai perasaannya. Seohyun punya kelembutan hati yang tak kumiliki. Wanita itu melengkapi diriku, dan aku tak mungkin sanggup berpisah darinya.

 

“Apa tak ada satupun wanta yang menarik perhatianmu? Bukankah Ibu sudah mengirimimu banyak foto wanita?”

 

Aku melihat Seohyun berhenti makan. Wajahnya tertunduk dalam. Tak ada yang menyadari hal ini, baik Ayah ataupun Ibu. Hanya aku, yang bisa rasakan gelombang kekecewaan yang datang darinya. Aku paham sekali jika Seohyun tiba-tiba merasa terluka.

 

Kami terjebak dalam sandiwara dan tak mampu mengakhirinya.

 

Aku ingin mengatakan yang sebenarnya. Bahwa aku mencintai seorang wanita. Dan wanita itu adalah Seohyun, adik tiriku. Aku tak membutuhkan wanita yang lain. Dan Ibu tak perlu menjodoh-jodohkanku dengan yang lainnya.

 

“Ibu …” Ibu menatapku dengan pandangan bertanya.

 

“Sebenarnya,” kukepalkan kedua tangan, menguatkan tekad agar tak tergoyahkan. Aku sudah yakin, inilah waktu yang tepat untuk memberi tahu mereka. Mengatakan yang sebenarnya tentang aku, Seohyun dan rahasia kami selama bertahun-tahun ini.

 

“Aku siap menikahi seorang wanita. Dan wanita itu adalah Seohyun, Ibu.”

 

Keheningan yang terjadi setelahnya seakan mencekikku, memerangkapku dalam ruang hampa udara yang berhasil menyesakkan paru-paruku.

 

Seohyun menatapku dengan mata berkaca-kaca, aku balas tersenyum tipis padanya. Aku sudah memutuskan, dan aku sudah menunggu saat-saat ini sejak lama. Saat-saat aku mengatakan hal yang sebenarnya pada Ayah dan Ibu, aku sudah menyiapkannya sejak bertahun-tahun yang lalu.

 

Dan aku siap dengan segala resiko yang akan kuhadapi selanjutnya. Yang pasti, aku takkan pernah melepaskannya.

 

(v) Mimpi belaka …

 

Aku terbangun oleh suara ketukan pelan di kaca jendela. Usai mengerjapkan mata, aku menoleh sekilas pada hujan yang semakin lebat di luar jendela. Suara hujan benar-benar nyaring dan hampir menulikanku. Sepertinya aku terbangun tepat di tengah malam. Aku menoleh pada seorang wanita yang tidur berbagi selimut denganku.

 

Seohyun, adik tiriku itu memeluk tubuhku dengan erat. Aku suka memandangi wajah damainya saat terpejam. Tidak ada gurat penyesalan ataupun beban yang selama ini kami tanggung bersama. Saat tidur, Seohyun kembali menjadi wanita polos yang tak ternoda.

 

Ah, terkutuklah aku yang sudah membawanya masuk ke dalam kubangan dosa. Bagaimana aku bisa terus-terusan bersamanya dan menodainya?

 

Aku mengacak-acak rambutku dengan frustasi. Aku akan segera bangkit dan meninggalkan kamar Seohyun untuk menenangkan diri. Sebelum Seohyun yang bergumam dalam tidurnya menahanku seketika.

 

Oppa, jangan pergi ….” lirih Seohyun pastilah sedang bermimpi.

 

Aku terenyuh melihatnya. Kusadari kerutan samar menghias di keningnya. Jika sudah seperti ini, aku tak berdaya untuk meninggalkannya. Aku mengecup keningnya, kemudian balas memeluknya. Melihat hujan di luar tampaknya takkan reda sampai esok pagi, aku memilih untuk memejamkan mata lagi.

 

Dan kusadari, bayangan masa depan yang terasa nyata tadi—hanyalah sebuah mimpi.

.

.

.

.

.

“Pernahkah kau jatuh dalam kubangan dosa bernama cinta?”

(Seohyun & Kyuhyun)

That Sin (Dosa itu)

~SELESAI~

Aku sudah kasih peringatan kalau cerita ini agak menyimpang, jadi buat yang nekat baca wajib berkomentar :v

Dan walaupun ini temanya agak dewasa, aku rasa ini masih aman-aman saja. Kecuali kalau kalian bayangin hal yang lebih dan bikin kalian batal puasa :3

Yang terpenting, fict ini didedikasikan untuk ultah Seomma kita yang tercinta~ :* Saengil chukkae~ Moga cepet bagi undangan pernikahanmu dengan abang Kyu ya~ wkwkwk XD

#HappyBirthdaySeohyun

#HappySeororoDay

#HappyBirthdayNyCho

.

.

.

.

Aku pengen tanya, drabble nomor berapakah yang kalian suka? :3 Dan apa alasannya?

Iklan

51 thoughts on ““That Sin” (Oneshoot)

  1. Ohh.. Jadi hubungan Seohyun sama Kyuhyun itu saudara tiri, Aku kira mereka saudara kandung.-. Aku suka sama drabble ini.. Cuma pas pertama-tama baca agak sdkt bingung hehehe
    aku suka bgt sama drabble yg ke-4 disitu Kyuhyunnya bnr-bnr berani ngungkapin perasaannya ke orangtuanya

  2. aaaaaakkkkkk baguuuus bangeeeeet~ suka suka sukaaa.. kalau ditanya jujur suka semua tp paling aku suka pas drabble nomor 3&4 alasannya suka pas pertama kali hati kyu akhirnya luluh oleh adik tiri yg dibencinya dan kilasan masa depan. sekalipun cuman kilasan, aku berharapnya kyu bakal lakuin kilasan tersebut di masa depan. jelas, mau tdk mau mereka berdua hrs jujur akan kenyataan yg mereka sembunyiin selama ini. mustahil jg kan hidup seperti itu terus. dan ttg brotherxsister itu menurutku kamu udah pas banget kok bikinnya. toh mereka saudara bukan ikatan darah kan. semua pure tiri karna seo dibawa dr Ibu dan kyu dr pihak Ayah.. ahhh sukaa deeehh~ lanjutkan kreasimu yaa. ditunggu pasti hasil2 nya^^ fighting! fighting!

  3. oh seokyu saudara tiri aku suka yang je 3 dan 4 alasanya karena kyu luluh juga sama seo dan mencintai seo dan saat kyu terus terang ke orang tuanya soal hubungan mereka

  4. cerita yg rumit bgttt complicated
    knapa seokyu harus saudara tp mereka beda ayah ibu
    suka semua adegan hihihi
    kerenn daebakk bagus lanjut nee gomawooo hwaitingg neee

  5. heuheu annyeong aku reader baru^^
    speechless eh bacanya .-.
    semua drabblenya keren, bahasanya enak dibaca :3
    gak niat bikin sequel kah? hehe
    anyway, keep writing ya~

  6. uwoooo kerennn plng
    suka yg ke tiga disana
    mulai wal kyu repect sm seo
    ya ampunn untung mreka
    cm saudara tiri ann jd
    msh ada kmngkinan kalo
    mreka brsama cmn cqra
    ngungkapin itu nya dan
    entah apa sikap dr ortu
    mereka kalo trnyata mereka
    slng mncntai

  7. huaaa semua drabble nya bagusssss tapi aku paling suka yang ke 3 awal mula kyuhyun melembut uuuhhh palinh nge feel :3 keren keren kerennn

  8. Biasanya ff buat birthday seohyun ttng seo ultah tapi ini beda wkwk gak papa yg penting seru!!
    Sayang bgt mereka sodara ya walaupun bukan sodara kandung tapi ttp aja susah bersatu, pdhl mereka so sweet bgt terus saling mencintai
    kenapa dibikin gantung sih thor?? Plss ini butuh sequel :v
    Btw suka drabble yg ke 2&3

  9. Cinta mereka rumit bgt,
    semoga mereka bisa jujur dan orang tua setuju dgn hubungan mereka dan jgn sampe di pisahkan.
    Mungkin nanti slah satu ada yg bukan anak kandung dr orang tua mereka.

  10. Saudara tiri aja kan… Sah2 aja deh kalo mereka punya hubungan… Secara kan ga ada hubungan sedarah atau sepersusuan(?) kenapa jadi dilema banget…. Oh atau dosa nya yg dimaksud entar mereka bakal berhubungan tanpa ikatan gitu kali ya…

  11. Akhirnya bisa baca ni ff, tdi keduluan baca sequelnya karena nemu sequelnya lebih dulu .-. Agak ribet ya kisah cintanya seokyu? Semoga kyu nanti biaa beneran jujur sama orang tua mereka. Pernah juga nonton drama yg hampir mirip kaya kisah mereka, dan di drama ntu kisah cinta mereka juga sama ribetnya ditambah ada orang ks 3 dan 4.-. Nanti di ff ini moga” orng ke 3/4 gk ada ya?

  12. helooo author ^^. aku readers baruu. seruuu banget ceritaanya bagusss bgt laah. ga kebayang gimana mrk bisa bersandiwara didepan ortu mrk. aku suka bgt lah sama drabble ke 3. ituu pas mrk msh kecil. yg seohyun brusaha ngasih permen tp dia jatuh dan ga nangiss. aku jd terharu bacanya pas seo ngasih lolipop sm kyu. aaahh. aku tunggu next chapternyaaa. author hwaitttinggg ^^

  13. nangis hati adek baca ini ff 😥 kenapa harus seperti itu takdir mereka? kenapa? kenapa? #lebaymodeon#plaaakk
    binguung mau kasih komen apa, terlalu bagus bagus banget ceritanya thor. baru kali ini baca ff yang bener2 bisa sampe kebawa mimpi 😀
    cuma bisa kasih semangaat terus ke author, semoga sehat selalu trus idenya lancar selalu, amiiinn 😀 semangaaatt author 😀

  14. ceritanya seru dan ok memang menyimpang. seokyu saling jatu cinta tpi masalahnya mereka kakak adik tanpa ada ikatan darah. ya ampun ngak kebaya sama orang tua seokyu klau seokyu pacaran apalagi eommanya tau seokyu pacaran setelah diberi tahu kyu oppa. chingu di tunggu ff slnjutnya.

  15. jadi seokyu saudara tirikah? jadi orang tuanya seokyu menikah. kasian seokyunya lebih baik orangtuanya aja yg cerai biarin seokyu bersatu. ditunggu part selanjutnya fighting

  16. yuhuuuuu waaah banget ceritanya,,,,
    gak tau mau komen apa ini bagus banget looh,,,,seokyu sodara tiri ternyata kirain sodara kandung,,,,mikirin gimana kisah seokyu dimasa depan jelas banget rumitnya,,,

    hmmm yg pasti aku suka drabbel 3&4 yaaa,,,,nice pokoknya

  17. Liat Selfish di MCLS katanya sequel dari That Sin yaudah gua cari fict ini dulu, dan nemunya disini bukan di MCLS..
    Gua suka kata katanya, jadi ceritanya Seo ama Kyu itu kakak adik tapi tiri.. Gua suka genre gini dari dulu dan gua kira si Kyu udah berani ngomong tapi ternyata cuman mimpi doank

  18. cerita bikin nyesak.deh

    seokyu jatuh cinta tapi mereka itu adik kakak hmm pasti rumit ni kisah cinta mereka

    ff nya bagus , apalagi ceritanyaa yang mudah dimengerti

    aku paling suka drabbel ke berapa tadi itu, yang seo hyun dan kyuhyun nya masih kecil itu … karna aku ngerasa kalau saat drabbel itu cerita nya sedih amat hmm

    hehehe

    lanjutkan karya mu FIGHTING

  19. ceritanya keren,beda dr yg lain..suka kok sm genre yg kya gni..bner2 menarik,tp ksian jg sm seokyu..saling cinta tp mlah status mereka kakak-adek tiri gni..bakalan rumit nih ya kedepannya..btw suka sm drabble 3 dmn kyu udh mulai respect ke seo..

  20. Kisah cinta yang rumit banget yahh,,,, untung bukan saudara kandung jadi ada kesempatan buat mereka bersama ya walaupun kemungkinannya kecil… Masalahnya cuma ada di orang tua mereka kyanya yah

  21. dudu cinta yg rumit..
    ff nya keren thor beda dari ff yg sering aku baca..
    semoga gk sad ending pas baca sequel.nya .hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s