“Night Accident” (Chapter 6)

|“Night Accident” CrimsonEmerald does|PG +15|romance, drama, hurt/comfort|

PicsArt_1435278683783

….

“Really, all characters belong to their family and agency.”

.

.

.

|ch. 6|

“Thank you very much for my readers who always support me to write this story …”

 

[Kyuhyun point of preview]

 

Setelah berdoa di Notre Dame Chatedral, dan meminta keberkatan untuk bayi dalam kandungan Seohyun. Kami segera menyebrangi Sungai Seine dengan kapal pesiar yang sama. Kepadatan tidak berkurang sedikitpun, aku harus ekstra hati-hati saat menuntun Seohyun menyebrang ke dermaga kecil di bawah Jembatan Pont den Arts. Bagaimanapun juga Seohyun tengah hamil buah hati kami berdua. Meski berawal dari kesalahan di satu malam yang panjang, anak ini adalah anugerah terbaik yang pernah kami dapatkan bersama-sama.

 

Kami berdua naik untuk melintasi Jembatan Pont den Arts, jembatan gembok cinta yang paling terkenal di Paris. Ada banyak pasangan di sekeliling kami; remaja, dewasa dan tua. Beberapa dari mereka tampak memasang sepasang gembok cinta yang bertuliskan nama masing-masing, sebelum memejamkan mata dan mengharapkan keabadian cinta. Jika saja aku tak mengalami berbagai hal selama ini, mungkin aku akan tertawa keras melihat mereka.

 

Mengharapkan keabadian cinta pada sepasang gembok besi tak berguna?

 

Rasanya konyol sekali. Namun, setelah berbagai peristiwa yang selama ini kualami. Mengharapkan keajaiban rasanya tidak mengherankan lagi. Karena aku juga mengharapkan hal yang sama, bersama Seohyun. Aku ingin Tuhan melindungi kami berdua. Ah, maksudku kami bertiga. Agar selalu terlindungi dari semua masalah yang selama ini kami hadapi.

 

Kami beristirahat sejenak di pinggir jembatan, menikmati semilir angin sore dan mengamati kapal pesiar yang melintasi Sungai Seine. Itu kapal sama yang kami tumpangi tadi. Tampaknya semakin sore, volume pengunjung justru semakin bertambah. Pulau Île de la Cité—pulau kecil di tengah Sungai Seine. Berhiaskan ribuan titik warna-warni—itu baju turis yang memadati pulau menuju Notre Dame Chatedral.

 

Jembatan Pont den Arts terletak di antara dua landmark di kota Paris. Jembatan ini menghubungkan Institute de France dan Louvre Museum. Karena itu, setiap hari. Ada jutaan orang yang melintasi jembatan khusus pejalan kaki ini. Mahasiswa, turis, sampai warga kota. Bahkan saat sore seperti ini, serombongan mahasiswa dari Institute de France menyebrangi jembatan ini dan menuju Place de la Concorde. Alun-alun kota Paris yang dikelilingi oleh cafe-cafe paling terkenal di seluruh penjuru kota.

 

Cafe adalah tempat nongkorong favorit anak muda. Selain itu, cafe juga sudah menjadi kebudayaan Parisian—warga Paris. Cafe-cafe Paris menawarkan desain klasik dengan perabot-perabot kayu mengkilat.

 

“Kyuhyun-sshi, lihat!” Lamunanku terbuyar seketika, oleh Seohyun yang memanggil namaku. Sontak, aku menoleh ke arah yang ditunjuk jarinya. “Itu sunset!”

 

Aku melihatnya. Di ujung cakrawala, yang telah men-jingga dengan bias-bias kuning dan pink. Matahari perlahan-lahan tampak tertelan, oleh gedung-gedung klasik kota Paris yang memantulkan cahaya kekuningan. Matahari besar berwarna kemerahan itu mulai tenggelam, semua mata terpacang. Mengawasi sang surya yang mulai meninggalkan tahtanya. Aku terpana saat melihatnya, dan sebersit angin sore menabrak wajahku dengan kesejukan luar biasa. Menghapuskan sisa-sisa keletihan akibat perjalanan seharian.

 

“Cantik sekali~” gumam Seohyun melewati pendengaranku, aku menoleh untuk melihat ekspresinya.

 

Dan kuputuskan, sunset sore ini memanglah cantik. Tapi yang tercantik, adalah Seohyun yang tersenyum dan memandang lurus ke depan. Matanya berkilauan, dan kulit wajahnya memantulkan cahaya keemasan.

 

Sinar mentari di penghujung hari ini, seakan memberkatinya dalam lirihan cahaya yang menakjubkan.

 

Diriku telah tertawan pesona cantiknya.

.

.

.

Kami memutuskan untuk makan malam di Cafe deFlore. Salah satu cafe terkenal, yang berada di pinggiran alun-alun Place de la Concorde. Malam ini, cafe tampak sangat padat. Beruntung, cafe yang terletak di tepi jalan ini termasuk pavement cafe yang menyediakan outdoor setting di luar. Artinya, kami mendapat meja di luar ruangan—tepatnya di trotoar jalan. Lagipula, Cafe de Flore terletak di Jalan Champs-Élysées yang hanya terbuka untuk pejalan kaki. Tidak untuk kendaraan bermotor. Dengan begitu, meskipun kami mendapat meja di luar. Tidak akan ada polusi yang dapat mengganggu makan malam kami.

Seorang pelayan menanyakan pesanan. Selama beberapa detik, aku sibuk membolak-balik halaman menu. Tak ada satupun makanan yang kukenal, kecuali spagetti dan parfait. Akhirnya, dengan acak aku memesan menu makanan pembuk abernama escargot à la Bourguignonn. Dan ratatouille dengan lada hitam sebagai hidangan pembangkit selera-nya. Sementara untuk hidangan utama dan makanan penutup, aku memesan bouillabaisse dan éclair dengan krim custard dan fla pistachio. Aku memesan semua hidangan sebanyak dua porsi. Sebab Seohyun, tampaknya tidak mengerti sama sekali dengan nama-nama makanan yang ada di menu.

Setidaknya, aku masih bisa membaca nama makanan yang tertera di sana.

Oui, Monsieur.” ucap sang pelayan padaku dengan aksen Perancis yang kental. Aku menjawabnya dengan senyuman. Kalimat-kalimat sederhana seperti tadi masih bisa kumengerti, pelayan itu mengatakan ‘ya, Tuan,’ padaku. Pertanda menu akan siap dalam beberapa menit. Meski ramai, setidaknya cafe terkenal ini cukup profesional. Dalam hati aku bertanya-tanya, mengapa tempat sebesar ini masih disebut cafe. Padahal jika diKorea, tempat ini lebih dari memenuhi standar untuk menjadi restoran bintang tiga.

“Kyuhyun-sshi.” Seohyun memanggilku dan aku menoleh padanya. Ia tak menatapku, melainkan melempar jauh pandangannya pada alun-alun kota di sebrang kami, Place dela Concorde. Entahlah, kurasa seharian ini ia sering sekali memanggilku. Meski masih kaku, setidaknya ia tidak canggung lagi untuk berbicara denganku.

“Hm?”

“Bisakah setelah ini kita ke sana?” tanyanya dan aku paham sekali tempat apa yang dimaksudkannya.

“Baiklah,” jawabku tanpa berpikir. Aku tersenyum, entah bagaimana aku belum belajar cara untuk menolak keinginannya.

Seohyun terlihat senang, ia menatapku dengan sepasang mata bulat yang menyipit dan tersenyum lebar.

Sepanjang hari ini, rasanya Seohyun terlihat sangat cantik dan aku tak bisa berkutik.

.

.

.

Kami selesai makan dan menyebrang ke Place de la Concorde, tepat pukul 8 malam waktu Paris. Alun-alun kota berbentuk oktagonal ini memang tidak seramai sore hari. Namun, di malam hari. Jika kau cukup jeli, kau mungkin bisa melihat beberapa pasangan yang saling merapat di pojokan dan berciuman. Suara kecapan yang datang dari kegelapan, bisa jadi berasal dari pasangan-pasangan muda yang tengah bermesraan. Aku dan Seohyun bahkan tak sengaja melihat sepasang kekasihyang saling berpagutan di balik sebuah batang pohon.

Aku menggeleng-gelengkan kepala, sementara Seohyun merona. Dalam hati aku bergumam ‘dasar remaja jaman sekarang.’ Entah apa yang dilakukan oleh orangtua mereka, sampai anak-anak ini bebas keluyuran di waktu malam.

Aku hampir saja menepuk jidat karena lupa kami berada di Eropa. Ini Paris, bukan Korea.Tentu saja hal seperti ini sudah biasa terjadi di kalangan masyarakat barat.

“Ayo kita menjauh,” bisikku menarik tangan Seohyun dan menuntunnya ke tengah alun-alun. Di tempat terbuka seperti ini, setidaknya tidak ada pasangan-pasangan penuh hormon, yang membuat kami merasa malu sendiri saat melihat mereka.

“Terima kasih sudah menyelamatkanku. Aku tak menyangka tempat ini bisa errr… “ Seohyun speechless, kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya.

“Mesum?” Aku tersenyum dan membantunya untuk menyelesaikan kalimatnya.

“Yeah…seperti itulah. Tapi aku tak menyalahkan mereka, sepertinya itu sudah menjadi kebiasaan di sini,” sahut Seohyun mengangkat bahunya dengan gerakan ringan.

Kami berjalan bersisian, melangkah melewati lampu-lampu jalan yang berwarna hitam. Lampu-lampu yang berjejer di sisi jalan Place de la Concorde itu tinggi dan ramping, dengan sebuah lentera berkaca sebagai puncaknya. Samar-samar terdengar suara musik yang mengalun pelan. Kami mengikutinya dengan penasaran.

Suara itu datang dari tengah alun-alun—dari tanah lapang yang dikelilingi oleh pohon-pohon berdaun kejinggan. Aku dan Seohyun saling berpandangan, untuk memastikan apa yang kami lihat bukan cuma hayalan. Aku dan Seohyun sepertinya sedang memikirkan hal yang sama.

‘Apa yang dilakukan oleh orang-orang di sana?’

 

Sekitar sepuluh kaki dari tempat kami berdiri, aku dan Seohyun mengintip dari balik sebuah batang pohon. Kami melihat beberapa pasangan yang sedang menari, atau mungkin berdansa. Aku sendiri tidak tahu tepatnya. Sebuah tape recorder di tengah tanah lapang memutar musik ceria. Dan orang-orang itu berdansa dengan riang gembira, mengikuti alunan musik yang didengarnya.

Tiba-tiba aku merasa geli, pemandangan seperti ini baru kulihat sekali. Warga Paris benar-benar unik. Aku bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa mereka menari seolah-olah sekarang adalah siang hari. Aku menoleh pada Seohyun yang memandangku dengan cengiran kecil. Aku balas menyengir, sepertinya seru juga jika ikut menari bersama mereka. Karena itu, aku menawarkan lenganku padanya. Seohyun menerimanya dengan senang hati. Dan kami berjalan ke tengah lapangan dengan senyuman lebar. Beberapa pasangan asing tersenyum dan menyapa kami dengan ramah.

“Kita sedang di tengah alun-alun. Bukan sedang di pesta porm.” Seohyun berbisik di telingaku dengan nada tak percaya. Aku tertawa mendengarnya, tapi tak menjawabnya. Kami berhenti melangkah tepat ketika tape recorder memutar musik baru, alunan melodi yang terdengar lebih slow dan lembut. Kami ikut berdansa dengan perlahan.

Kiri, kanan. Kiri, kanan. Aku dan Seohyun bergerak bersamaan. Kemudian berputar satu kali, digerakan ketiga. Aku mengamati sekeliling, setiap orang tampak sibuk dengan  pasangan masing-masing. Dan tak ada waktu untuk memperhatikan orang lain.

Kedua tanganku melingkar manis di pinggang Seohyun, sementara tangan Seohyun mengait di sekeliling leherku.

Kiri, kanan.Kiri, kanan. Kami kembali bergerak secara bersamaan. Tidak ada lagi gerakan memutar, kami hanya saling bertatapan. Musik mengalun lebih pelan dari sebelumnya. Dan tanpa sadar, sebelah tanganku tergerak untuk membawa tubuh Seohyun untuk merapat. Aku merunduk memandanginya, sementara Seohyun mendongak untuk menatapku.

Di bawah langit malam dan kerlip bintang. Dahi kami bersentuhan, napas kami saling bertabrakan. Hanya tersisa sedikit jarak bagi bibir kami untuk saling bertautan.

Dan detik selanjutnya, aku menghapus jarak itu dengan mengecup lembut bibirnya. Kecup, kecap, bergerak dengan perlahan. Tak se-inchi pun yang kulewatkan. Dan Seohyun membalasku dengan meremas rambut belakangku. Aku menarik pinggangnya, menggendongnya dengan satu tangan agar ia menyamakan tinggi kami. Sementara tanganku yang lain memegangi dagunya, mengelusnya dengan lembut kemudian menyibak rambut di bahu kanannya. Sebelum kutarik tengkuknya dengan halus.

“Kyuhyun-sshi… “ Seohyun membisikkan namaku dengan nafas terengah. Aku menarik napas panjang, mencoba mempertahankan kewarasanku. Wanta ini memanggil namaku dengan nada yang membuatku hampir sinting. “Jika… aku mengatakan saat ini kau berhasil membuatku mencintaimu. Apa kau akan percaya?”

“ Kalau begitu jangan pernah menolakku lagi,” sahutku dengan napas berat. “Dan jangan pernah tinggalkan aku.”

Dengan begitu, cahaya bulan yang mengintip di balik rimbun dedaunan. Angin yang mendesau pelan, bahkan musik yang telah terganti menjadi melodi yang menghentak. Aku sama sekali tidak peduli, kecuali tentang ciuman kami.

Di bawah lampu jalan yang temaram, untuk kedua kalinya bibir kami kembali bertautan.

Sementara itu, berdiri di pojokan, tersembunyi dalam bayangan. Bi tersenyum licik sembari membidik.

Klik!—satu foto terabadikan.

.

.

.

To Be Continue~

 

Aku gak tau mau nulis apa di author note ini~ :”) Yang pasti makasih banyak buat dukungannya selama berbulan-bulan ini~ Sejak fict ini pertama kali dibuat, ampe terlantarkan dan kembali dilanjutkan. Dukungan kalian sangat berarti, dengan ini Insya Allah tinggal dua atau tiga chapter lagi sebelum “Night Acc” bener-bener tamat. Gak terasa ya~ X””D

.

.

.

.

Thank you very much for you all my readers~ :* /cium satu-satu/

 

Iklan

31 thoughts on ““Night Accident” (Chapter 6)

  1. wiih, keren un,, unni kok bisa si jabarin detail gitu setting tmptnya, trus nama2 makanan aneh2 itu kok unni bs tau, daebakk unn, lanjutkan

  2. salam kenal, mhon izin bca ff nya 🙂
    sebelum nya dah baca ini di SFW, tpi kok lma gax d lnjut. akhir nya nemu ini wp seneng deh bisa bca lgi ni ff..

    wahh jdi gax sabar nunggu kelanjutannya.. 🙂

  3. I love this fanfict so much ❤ . Ceritanya bagus sekali, aku benar benar bisa ngerasain emosi mereka. Entahlah, akunya yang baper, atau ff ini kelewat bagus sampe sampe aku ngerasa larut banget. Bagaimanapun caranya, jangan ada yang ngerasain sakit ya diantara mereka bertiga, entah kenapa aku ngerasain tiga orang itu semuanya punya perasaan yang tulus 🙂 . Semangat ya chingu untuk lanjutin ceritanya.

  4. Lanjut pelissssss ~
    Aku menunggu , sumpah chap ini so sweetnya gak ketulungan oh god!!
    Bi edan tenan , udh kabur ke paris si duo magnae dan mereka juga udh nikah masih aja dibuntutin dan di jepret kayak gak punya mangsa lain ya haha
    Padahal artis SM masih banyak dikorea ckck
    Lanjut yaaaaaaa ditunggu ^^

  5. So Sweet. Kyuhyun Oppa, Hueee ToT, jaga Seohyunnie aku. hahaha.
    Eh, eonn. si terence Choi, Eottokhae? jangan mengacau ya eonn? tendang aja terence Choi, atau kasih ke Alma aja. aku siap mnerima pria tampan, hahaha :’v *Kidding*
    Oke, eonn. next

  6. Baru nemu wp ini..seru ceritanya.. Bi itu siapa ya? Eh, harusnya baca part sblmnya dulu ya, hehe.. Smg bi ga bikin seokyu susah, palagi seo kan hamil.. Fighting ya bikin part lanjutannya 🙂

  7. haiii salam kenal maaf aku baru komen hehehe . thor ff mu keren bgt deh alurnya juga gx berbelit belit suka deh ceritanya oh ya semangat ya aku tunggu next chap nya pai pai

  8. Apa lagi yang mau bi publikasikan…..????semoga aja itu hal yang positif,mbok ya klo cari berita itu yang baik2 aja biar dapet pahala…..!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s