“Tak Seindah Dongeng” (Oneshoot)

A strange story by CrimsonEmerald.

tumblr_luhz7zc9BU1qza7yjo1_500_large

.

.

.

“ I don’t own all caharacters and I haven’t any profit from this story.”

~ ~ ~

 

[Seohyun point of preview]

 

Aku menghela napas bosan. Sudah sejak setengah jam yang lalu, aku kehilangan minat untuk belajar. Di depan kelas, Sooman soengsaenim terus menjelaskan sejarah bangsa Dravida. Bisa kau tebak sendiri, aku tidak suka pelajaran sejarah. Menurutku sejarah cukup membosankan. Oh, ayolah. Setiap orang punya selera yang berbeda. Mungkin aku adalah tipe gadis yang suka berkutat dengan angka dan perhitungan. Ah, sudah kuputuskan. Tahun depan aku akan mengambil kelas IPA.

“Ayolah, tinggal lima menit lagi…, ” gumamku sembari melirik jam dinding di depan. Tanpa sadar aku menggigit bibir bawahku, gemas pada Sooman soengsaenim yang selalu keluar tepat waktu. Aku yakin, tidak ada seorangpun yang protes jika Beliau keluar lebih cepat.

Sekali lagi aku menghela napas dengan kasar. Aku bersandar pada meja, kemudian menoleh ke kiri. Ke arah jendela kelas yang menghadap langsung ke lapangan. Aku melihat kakak-kakak kelas sedang berolahraga. Sepertinya mereka dari kelas XI-IPA 2. Karena aku mengenali beberapa dari mereka, seperti dia misalnya.

Apa kau bertanya-tanya siapa itu dia? Dia adalah kakak kelas yang kutaksir sejak upacara tahun ajaran baru 3 bulan yang lalu. Namanya Kyuhyun oppa. Sekretaris OSIS yang terkenal ramah dan tampan. Jangan bertanya dari mana aku mengetahuinya. Ayolah, semua orang mengenal Kyuhyun oppa. Dia adalah kakak kelas pujaan, dari yang aku dengar. Banyak sekali adik kelas sampai kakak kelas yang mengincarnya, termasuk aku. Tapi aku, tentu tidak mengincarnya secara terang-terangan.

Maksudku, aku hanya bisa mengaguminya dari kejauhan. Seperti saat ini misalnya, lagi-lagi aku hanya bisa mengamatinya. Kyuhyun oppa nampak bermain sepak bola, ia memang bukan bintang olahraga. Tapi beberapa kali kulihat Kyuhyun oppa memberikan umpan matang yang membuahkan gol.

“GOOLLLLLL!”Aku mendengar seruan Kyuhyun oppa dan kawan-kawan dari arah lapangan. Kulihat mereka tertawa lebar dan saling berpelukan. Tanpa sadar aku ikut tersenyum saat memperhatikan.

‘Ah, beruntung sekali mereka semua bisa memeluk Kyuhyun oppa’. Aku bergumam iri dalam hati. Kemudian tertawa kecil saat melihat Kyuhyun oppa yang mengomel, karena beberapa temannya menyenggol kepalanya. Tentu saja Kyuhyun oppa tidak marah betulan, semua orang tahu Kyuhyun oppa hanya main-main. Maka dari itu, teman-temannya sama sekali tak terpengaruh oleh omelannya. Kasian.

Kringggg~

Bel berdering keras melalui speaker kelas. Tak lama kemudian, Sooman soengsaenim keluar dari ruangan. Seketika kelas menjadi riuh, anak-anak tampak senang karena sudah tiba waktu istirahat. Untuk sementara, kualihkan perhatian dari Kyuhyun oppa. Cepat-cepat kubereskan meja dan memasukkan semua peralatannya. Dua sahabatku, Yuri dan Sunny menghampiri mejaku.

“Hyunie, bagaimana kalau kita ke kantin?” ajak Sunny padaku yang sedang mengeluarkan sebuah buku.

“Kalian duluan saja. Aku akan ke perpustakaan sebentar. Aku harus mengembalikan buku ini.” tolakku halus kemudian menunjuk buku fisika yang kumaksud. Mereka mengangguk kemudian tersenyum penuh pengertian, aku balas tersenyum. Memandangi kedua punggung sahabatku yang kemudian menghilang di balik daun pintu. Setelah itu, aku baru keluar kelas menuju perpustakaan.

Menuju perpustakaan berarti melalui lapangan. Aku melirik sekilas, pada serombongan kakak kelas.

‘Ada Kyuhyun oppa!’ pekikku dalam hati. Aku mengerling pada Kyuhyun oppa yang tengah istirahat di pinggir lapangan. Seperti biasa, Kyuhyun oppa yang populer selalu dikelilingi oleh kawan-kawannya.

Tidak sulit untuk mengenali Kyuhyun oppa. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih dengan hidung mancung dan wajah oval. Ketika aku melengos melewati mereka, aku sempat mendengar Kyuhyun oppa berbicara.

Ya, Kyuhyun oppa memang termasuk yang paling berisik di antara teman-temannya. Ia adalah pihak yang paling sering bercerita.

Tanpa sadar aku menutupi separuh wajahku dengan buku fisika dalam genggamanku. Aku mencuri pandang pada Kyuhyun oppa untuk yang kesekian kali. Beruntung, tak seorangpun yang tampaknya menyadari.

Tiba-tiba aku merasa malu sendiri. Aku hanya bisa menatap Kyuhyun oppa secara sembunyi-sembunyi, sembari mengaguminya dalam hati. Jangankan untuk bersama, menyapanya saja aku tak berani. Ah, kusadari aku pengecut sekali.

Aku takut jika aku tiba-tiba menyapa, Kyuhyun oppa akan mengabaikannya. Jika aku terlalu berharap untuk dapat bersamanya, aku justru akan kehilangannya. Aku takut patah hati, maka kuputuskan lebih baik untuk menyendiri. Mengaguminya secara sembunyi-sembunyi. Menunggunya untuk menyapa terlebih dahulu, meski rasanya mustahil sama sekali.

Sejak dulu, aku suka membaca. Termasuk membaca dongeng dan novel-novel yang berbau romansa. Kupikir laki-laki lah yang seharusnya mendekati wanita. Seperti pangeran-pangeran dalam dongeng yang pernah kubaca.

Seorang puteri hanya akan duduk menunggu pujaan hatinya. Dan seorang pangeran akan menjemputnya. Lalu mereka hidup bahagia bersama-sama.

Ah, rasanya naif sekali jika aku menginginkan kisah hidup yang sama.

Ini dunia nyata, bukan seperti kisah dongeng di sana. Semuanya berjalan sesuai realita, bukan hanya khayalan semata. Jika kau hanya duduk diam menunggu, maka selamanya kau akan termangu. Di dunia nyata, aku juga perlu melakukan tindakan nyata.

Tapi sekali lagi aku malu padanya. Aku juga takut pada semua resiko yang akan kuterima.

Terlalu takut menyapa, takut untuk berbicara, bahkan aku takut untuk menatap kedua matanya. Aku adalah orang yang penuh perhitungan, bertindak berdasar logika bukan hanya kata hati semata.

Aku memang takkan bisa hidup bahagia seperti putri-putri dongeng dalam cerita.

Tinggal berbelok ke kiri, aku akan segera sampai di perpustakaan. Itu berarti aku akan segera keluar dari pinggir lapangan. Karena itu, aku mengerling ke belakang. Kyuhyun oppa masih duduk bersama kawan-kawan. Mereka mengobrol bersama, kemudian tertawa-tawa. Lagi. Aku tersenyum saat memperhatikannya.

Dari belakang sini, aku hanya bisa memperhatikan punggung Kyuhyun oppa. Kaos olahraganya basah di bagian belakang. Rambutnya yang pendek tampak sedikit acak-acakkan. Tapi sekali lagi, aku tetap menyukainya apa adanya.

Setiap kali memperhatikan belakang tubuhnya, aku merasa seperti menemukan sisi lain darinya. Punggungnya akan menampilkan pemandangan yang berbeda. Dari belakang, aku tahu Kyuhyun oppa suka mengacak-acak rambut belakangnya. Dari belakang pula, kadang-kadang aku menemukan Kyuhyun oppa berkacak pinggang. Suaranya pun terdengar berbeda jika kudengarkan dengan seksama dari belakang tubuhnya.

Setiap berpapasan dengannya, aku pura-pura mengabaikannya. Tapi aku pasti akan melirik ke belakang dan memperhatikan punggungnya.

Kulihat Kyuhyun oppa menerima botol minum dari seseorang. Ia tersenyum tampan. Aku terpesona, dan segera menyadarkan diri dengan menepuk-nepuk pipi. Aku berlindung di balik tembok di belokan menuju perpustakaan. Hanya untuk memperhatikan Kyuhyun oppa yang tengah meneguk minuman.

Demi Tuhan dia mempesona sekali! Rasa suka ini hampir membuatku berteriak frustasi. Aku tidak tahu harus bagaimana untuk melampiaskannya. Kyuhyun oppa persis seperti pangeran tampan dalam dongeng yang sering kutemukan.

Ia tampan, baik, ramah dan populer. Kulihat Kyuhyun oppa berterima kasih pada seseorang yang memberinya minuman. Sekali lagi, Kyuhyun oppa tersenyum.

Pemilik botol minuman itu adalah seorang gadis. Teman sekelas Kyuhyun oppa. Dia gadis yang cantik dan baik. Mungkin bisa disebut versi perempuan dari Kyuhyun oppa.

Keduanya sama-sama sempurna. Semua orang mengatakan mereka cocok sekali, bahkan aku sendiri tak bisa pungkiri. Mereka nampak serasi.

Kyuhyun oppa seperti pangeran, yang dalam dongeng-dongeng biasanya akan berjodoh dengan seorang putri yang cantik dan baik hati. Mereka akan hidup bahagia bersama, selamanya.

Namun, sayangnya. Putri cantik yang berjodoh dengan sang pangeran bukan aku. Sama seperti Kyuhyun oppa yang tersenyum bukan karenaku.

Tapi, pada seorang gadis manis yang sempurna untuknya. Bersama-sama, mungkin mereka akan bisa menjalani hidup seindah dongeng di dunia nyata.

Hanya dengan membayangkannya saja, aku merasa pahat hati seketika. Aku terluka. Hatiku tiba-tiba terasa sesak dibuatnya. Aku harus segera lari dari sini, atau aku takkan sanggup berdiri lagi. Karena itu, kuputuskan untuk segera meninggalkan tempat itu. Cepat-cepat aku menuju perpustakaan dan tak melirik sedikitpun lagi ke belakang. Aku pergi. Aku perlu menenangkan hati ini.

Setelah sampai di perpustakaan, aku bersandar ke salah satu rak dan menghela napas panjang. Aku merasa kosong seketika. Kusadari pula, hidupku takkan seindah novel romansa, ataupun seperti di dongeng-dongeng yang berakhir hidup bahagia selamanya. Ini dunia nyata, dan semua itu takkan pernah bisa.

Tiba-tiba aku merasa merana—menyedihkan sekali rasanya.

~Selesai~

 

Ini cerpen yang tiba-tiba ingin kuposting dengan cast SeoKyu. Aku tahu ceritanya anti klimaks, gak jelas, aneh, jelek, dan gantung.

Karena itu, jika tidak suka ceritanya silakan klik ‘back’ secepatnya.

Terima kasih.

Iklan

5 respons untuk ‘“Tak Seindah Dongeng” (Oneshoot)

  1. ceritanya nabok(?) bangeeeet…. kek realita serius, kalo ga selamanya kisah cinta itu bakal berjalan mulus gitu aja. pasti ada yg namanya gagal, ada yg namanya cinta dlm diam. pokoknya ini greget banget critanya. sukaaa~ tp iyasih rada gantung yaa. hhehe tp gapapa deh baguus, ditunggu karya2 yg lainnya yaa^^

  2. ceritanya sma kaya aku, hahahah feel dpat bngt lah ngerasain jdi seo itu sesak ngga ketulungan tapi aku bersyukur setidak nya kk kelas yg ku taksir smpat dkat walau hanya menganggap kakak adik -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s