“SELFISH” /chapter 3A/

Ada kalanya apa yang kita harapkan, bertentangan dengan apa yang takdir putuskan.

 

Seohyun mungkin menyerah. Baginya, sekeras apapun ia dan kakaknya berusaha; cinta mereka akan sia-sia.

 

Tapi Kyuhyun berbeda, ia takkan berpasrah diri begitu saja. Jika takdir memang tak dapat menyatukan cintanya, maka Kyuhyun akan memaksa.

 

Mereka sudah sejauh ini, dan ia takkan pernah kembali—bagaimanapun juga, lelaki itu punya ego yang tinggi.

 

“SELFISH”

CrimsonEmerald

“Ego buatku kehilangan segalanya..”

.

.

.

Cho Kyuhyun point of preview

selfish

Credit cover: https://www.lightlogy.wordpress.com

That Sin/Selfish (1)/Selfish (2)/Selfish (Bonus)

 

Akhir tahun ajaran.

 

Seperti biasa, libur panjang saat ini dimanfaatkan oleh para mahasiwa untuk mengadakan acara pentas seni. Mahasiswa dari berbagai jurusan perkuliahan, berkerja sama untuk menyelenggarakan pentas ini. Semua orang sibuk, mempersiapkan rangkaian acara yang diadakan secara besar-besaran.

 

Kecuali kami—aku dan adikku, Seohyun.

 

“Ne oppa, apa ini tidak apa-apa? Semua orang bekerja keras di luar sana, sementara kita bersembunyi seperti ini.” bisik Seohyun sepelan mungkin sembari bersandar di ambang jendela. Diam-diam diamatinya keramaian di lapangan yang sesak oleh kesibukan.

 

Aku tersenyum geli. Kuakui Seohyun memang orang yang tidak tegaan. Pasti ia merasa bersalah karena mengikutiku untuk mangkir dari tugas persiapan acara pentas.

 

Tapi mau bagaimana lagi, aku benar-benar malas untuk bekerja sekarang. Lagipula, ini adalah salah satu waktu di mana orang-orang tidak memperhatikan keadaan di sekitar mereka—waktu ketika orang-orang tidak menyadari kami.

 

Saat inilah kami bisa duduk berduaan, dan berdiri sambil bermesraan. Dan tidak ada seorangpun yang akan menyadari karena tertutupi oleh hiruk-pikuk kesibukan persiapan acara di luar sana. Kami berada di salah satu gudang penyimpanan arsip perpustakaan. Tidak sembarang orang yang bisa memasuki ruangan ini selain anggota komite perpustakaan.

 

Peraturan yang sangat menguntungkan. Karena dengan begitu, aku dan Seohyun yang notabene adalah salah satu anggota komite perpustakaan, bisa dengan bebas memasuki tempat ini dan bersembunyi di sini.

 

“Tidak apa-apa.” bisikku di telinga Seohyun sembari menghimpitnya dari belakang. Yang membuat tubuh Seohyun menegang, sontak saja reaksi itu membuatku tertawa tertahan.

 

“Oppa, jangan tertawa!”

 

Seohyun tampak kesal, sementara aku masih mengikik geli mendapati reaksinya tadi.

 

“Aku akan pergi dari sini jika oppa masih menertawaiku!”

 

Dan yeah ancamannya berhasil. Aku berhenti tertawa karena tak ingin Seohyun meninggalkanku. Acara mangkirku tentu tidak akan seru jika tidak ada Seohyun di sisiku. Dan lagi, ini adalah saatnya untuk balas dendam, setelah menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk menghadapi ujian, aku akan membalasnya dengan menghabiskan waktu sepuasnya dengan Seohyun.

 

Seohyun adalah pusat kehidupanku.

 

Baiklah, jangan tertawa. Kalimat tadi bukan hanya gombalanku semata. Karena yang kukatakan memang benar adanya.

 

Ya, Seo Joo Hyun adalah matahari, bulan, bintang, langit dan bumi bagiku—ialah poros kehidupanku. Wanita yang membuatku nyaman dengan kehangatannya, terang karena cahayanya, terpesona karena keindahannya, aman dalam pelukannya, dan tenang karena kuberpijak di sisinya.

 

Ia adik yang kusayangi, sekaligus wanita yang teramat kucintai.

 

“Ayolah, jangan merajuk seperti itu.” Kutarik pelan tangan Seohyun dan membawa tubuhnya mendekat. Memerangkapnya dalam pelukanku dan segera saja aroma tubuhnya yang harum tercium olehku. Tanpa sadar aku meletakkan hidungku di perpotongan lehernya, mengendus aroma tubuhnya yang sangat kurindukan.

 

Oppa—ah!”

 

Seohyun mendesah, tampaknya ia merasa geli dengan endusanku yang kini berubah menjadi kecupan-kecupan kecil di sepanjang bahu mungilnya. Kutarik kerah bajunya untuk memudahkanku mengecup hingga ke lekukan bahunya.

 

O-Oppa tunggu dulu!”

 

Aku berhenti.

 

Seohyun menahan wajahku dengan kedua tangannya, memaksaku untuk menatap lurus ke dalam matanya. Aku sama sekali tidak bisa menebak apa yang saat ini ia pikirkan. Matanya hitam, dalam dan dipenuhi rahasia—namun tetap saja aku terpesona ketika bertatapan dengannya.

 

Oppa aku takut.” lirih Seohyun pelan hampir menyerupai bisikan. Kesepuluh jarinya yang memegangi wajahku gemetaran dan bayang ketakutan menari-nari di matanya.

 

“Hei, hei. Apa yang kau takutkan, eoh? Kau bisa ceritakan semuanya padaku.” ucapku mencoba menenangkannya kemudian balas meletakkan tanganku di pipinya. Kuusap lembut kulit pipinya hingga sejenak ia memejamkan mata.

 

“Tidak, hanya saja—“ Seohyun membuka matanya, menurunkan kedua tangannya yang tadi menahan wajahku. “sampai kapan kita akan begini, oppa?”

 

Ah, lagi-lagi pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang bahkan tidak kuketahui jawabannya. Saat ia bertanya, yang bisa kulakukan hanyalah tersenyum dan mengecup punggung tangannya. Menyalurkan sebuah bisikan tanpa suara yang kuharap mampu didengar olehnya—bersabarlah. Aku ingin Seohyun mengerti apa yang coba kusampaikan.

 

“Apa oppa tahu, tiap kali aku menyentuh oppa, memeluk oppa atau mencium oppa, aku merasa telah melakukan hal yang salah. Aku takut, aku takut semua yang kita jalani sekarang ini akan berakhir sia-sia, oppa.” Seohyun menarik tangannya, beralih untuk menutupi kedua wajahnya yang kini tertunduk dalam. “Tuhan sedang melihat kita, dan kita justru berbuat dosa.”

 

Sekujur tubuh Seohyun gemetar dan aku dengan cepat memeluk tubuhnya, mendekapnya kencang untuk memastikan padanya bahwa aku takkan meninggalkannya, bahwa seberat apapun masalah yang akan kami hadapi selanjutnya aku akan terus berada di sisinya.

 

Aku mengerti.

 

Mengerti sekali dengan apa yang dirasakan Seohyun saat ini. Ia benar. Tuhan sedang melihat apa yang aku dan Seohyun lakukan dan kami tercebur dalam sumur dosa yang dalam. Ah, kurasa tercebur saja takkan bisa menggambarkan seluruh kesalahan yang sudah kami buat bersama-sama, kata yang lebih cocok untuk kami adalah—terjebak dalam sumur dosa yang dalam. Yang bahkan tak bisa kulihat secercah cahaya apapun di atasnya.

 

Tuhan pasti marah.

 

Tapi, aku sudah terlanjur menutup mata dan telinga. Menganggap bahwa apapun yang akan menghalangi kami berdua sama sekali tak berarti apa-apa. Dan kini, aku dengan kejamnya ikut menutup mata dan telinganya. Menyegel satu-satunya cahaya Seohyun agar gadis itu tetap di sisiku.

 

Karena sejauh yang kulihat, jalan cinta kami begitu gelap—tanpa setitikpun cahaya.

 

“Hush, tidak apa-apa. Kita sama sekali tidak salah, Seohyun-ah. Karena, tidak ada cinta yang diciptakan karena kesalahan. Semua cinta itu baik, pasti selalu baik.”

 

Bohong.

 

Lagi-lagi aku membisikkan kata-kata kebohongan. Meyakinkannya dengan kalimat palsu manis yang terlalu indah untuk dibayangkan.

 

Tidak bersalah, heh?

 

Jelas sekali kebohongan yang terselip di sana, namun Seohyun seakan menelan bulat-bulat kebohongan yang kubisikkan. Entah ia tidak mengerti, atau justru tidak peduli—atau bahkan ia punya rencana tersendiri yang tak kuketahui.

 

“Kumohon bersabarlah sebentar lagi,” dan dengan begitu kucium bibirnya. Aku menciumnya lama sebelum membisikkan namanya.

 

“—hyunie.”

 

Lagi, kucium sekali lagi bibirnya. Tapi, entah kenapa Seohyun sama sekali tidak membalas ciumanku.

 

Ini seperti bukan dirinya yang biasa.

 

 

 

 

“Kudengar kalian berdua mendapat beasiswa. Apa itu benar?”

 

Ne, appa. Aku dan Seohyun terpilih mengikuti beasiswa magister ke Denmark.”

 

Ahahaha. Kalian berdua memang hebat. Oemma-mu pasti senang sekali jika mendengar hal ini. Apa dia sudah kau beritahu?”

 

“Belum, appa. Tapi, aku berencana akan menelponnya setelah ini.”

 

“Ah, lupakan saja. Biar appa yang memberitahunya.”

 

“Eung, apa tidak apa-apa?”

 

“Eoh, gwaenchana. Kau tidak perlu khawatir, lagipula appa yang akan menjemput oemma setelah shift malam kami berakhir.”

 

“Ah, kalau begitu berhati-hatilah.”

 

“Ne, dan kau jaga rumah dan adikmu dengan baik.”

 

“Ne, appa.”

 

Tut… tut… tut…

 

Dan percakapan kami berakhir.

 

Kumatikan andorid-ku tepat ketika kudengar suara sambungan telpon Ayah yang terputus. Aku menghela napas. Sepertinya malam ini hanya ada aku dan Seohyun lagi. Karena Ayah dan Ibu ada shift malam yang baru selesai hingga menjelang pagi.

 

Ini bukan kali pertama atau kedua. Pekerjaan orangtuaku memang tak mengenal waktu. Terkadang mereka harus pergi bekerja seharian atau semalaman. Dan hal itu sudah menjadi hal yang biasa bagiku dan Seohyun.

 

Aku berguling, kemudian telentang di atas ranjang. Aku masih belum mengantuk, bahkan meski jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Termenung, aku tanpa sadar mengamati langit-langit kamarku yang temaram. Cahaya lampu tidur yang redup, tidak mampu menyentuh sudut langit-langit tergelap.

 

Ah, mengenai beasiswa yang tadi kubicarakan dengan Ayah, semua itu memang benar adanya.

 

Sudah sejak tiga hari yang lalu, aku dan Seohyun diberitahu kalau kami mendapat undangan beasiswa magister ke Denmark. Sepertinya, keputusanku untuk memilih jurusan yang berbeda dengan Seohyun adalah keputusan yang tepat. Karena dengan begitu, kami berdua bisa mendapat beasiswa yang sebenarnya ditujukan untuk mahasiswa dengan nilai tertinggi per jurusan. Jika saja kami berada di jurusan yang sama, kemungkinan hanya aku atau hanya Seohyun yang mendapat beasiswa, yang berarti kami berdua akan terpisah. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi.

 

Membayangkan aku dan Seohyun melanjutkan kuliah ke Denmark—ke negara yang tak seorangpun mengetahui status kami berdua, entah mengapa membuatku merasa sedikit lega.

 

Karena itu artinya aku bisa dengan bebas menggandeng tangannya, memeluk pinggangnya, atau bahkan bercumbu dengannya tanpa khawatir seorangpun akan memergoki kami berdua.

 

Denmark adalah negara asing yang bebas, yang bahkan para warganya tidak peduli dengan pasangan sedarah sekalipun.

 

“Denmark, eoh?” Aku tanpa sadar tersenyum, membayangkan hari-hari mesra yang bisa kulewati bersama Seohyun di sana.

 

Satu jam kemudian, aku jatuh tertidur dalam posisi yang sama.

 

Bayang-bayang hari bahagia di Denmark terus berlanjut hingga ke alam mimpi, membuatku tanpa sadar tersenyum sendiri.

 

 
“Jadi, apa sudah kau putuskan?”

 

Ayah meyeruput kopi hitamnya dengan perlahan. Aku mengawasinya sejenak, sebelum menjawab.

 

Ne, Appa. Aku akan menyelesaikan proses administrasi beasiswa sore ini juga. Aku tidak mungkin melewatkan kesempatan tinggal di Denmark, bukan?” Aku menyeringai. Ayah balas menaikkan sudut bibirnya, tersenyum tipis. Tampaknya ia puas mendengar jawabanku. Sudah sedari awal, ia sangat mendukungku sejak aku baru mencoba tes beasiswa. Dan ketika aku berhasil menerimanya, Ayah jelas merasa sangat bangga.

 

“Ya ampun, yeobo. Apa kau tidak merindukannya nanti, eoh?” Ibu datang membawa sarapan. Wanita yang hampir mendekati usia kepala lima itu mengelus punggung Ayah dengan lembut dan mereka bertukar pandangan penuh arti.

 

Aku tidak tahu pasti apa yang tengah mereka pikirkan. Ayah dan Ibu seperti punya bahasa tersendiri saat mereka melakukan kontak mata. Mereka saling berbicara, tanpa suara dan hanya mereka berdualah yang mengerti apa maksudnya. Aku mungkin memang tidak tahu, tapi aku mengerti.

 

Bahwa dua orang yang saling mencintai terkadang mampu berkomunikasi layaknya bertelapati—mereka bicara, tapi tak ada suara. Mereka saling bertukar tatap, seperti bahasa yang penuh makna, yang hanya dimengerti oleh mereka.

 

Kuharap, aku dan Seohyun kelak bisa seperti itu—mampu memiliki tatapan yang bisa berbicara, layaknya dua orang yang saling mencinta.

 

“Ah, bagaimana denganmu Seohyun?”

 

Seohyun tampak sedikit kaget saat Ayah menanyainya, namun dengan cepat ia menguasai diri dan bersikap tenang seperti sedia kala.

 

“Aku sudah menyelesaikan proses administrasi-nya sejak dua hari yang lalu, Appa.”

 

Aku terkejut. Seohyun tidak pernah bilang bahwa dia sudah menyelesaikan urusan administrasi beasiswa-nya. Kupikir kami bisa mengurusnya bersama dan setelah itu bisa menikmati waktu berdua saja. Karena Seohyun memang tak pernah sekalipun melewatkan waktu-waktu kami bersama.

 

Ini aneh, kenapa Seohyun tidak bicara padaku seperti ia yang biasa.

 

“Oh, benarkah? Appa tidak pernah tahu hal itu. Apa dia sudah memberitahumu sebelumnya, Kyuhyun?” Ayah bertanya dan aku menggeleng untuk menjawab pertanyaannya. Maafkan aku, Ayah. Tapi Seohyun juga tidak pernah membicarakan hal ini padaku. Padahal biasanya ia selalu mengatakan apapun yang akan ia lakukan. Kami sudah berjanji untuk selalu saling terbuka, tapi entah kenapa Seohyun justru menyembunyikan hal ini dariku.

 

“Kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya. Kenapa Seohyun?”

 

“Tidak ada alasan apapun.” Suara Seohyun setenang air danau. Ia seperti sudah mempersiapkan dirinya untuk menjawab pertanyaan ini.

 

“Tapi bukankah kita bisa mengurusnya bersama-sama? Kau bukan orang yang suka pergi-pergi sendirian, kan?”

 

“Lalu kenapa kalau aku sesekali pergi mengurus masalahku sendiri, oppa? Apa kau tidak suka?” Nada suara Seohyun menajam. Aku bisa merasakan ketegangan tak menyenangkan di antara kami berdua. Aku kebingungan. Seohyun tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Dia tentu mengerti kalau aku sedikit marah dengan keputusannya. Jika saja kami mengurus proses itu bersama, maka kami punya waktu luang untuk berdua.

 

Bukankah selama ini Seohyun selalu menantikan waktu-waktu yang bisa kami habiskan bersama? Lalu kenapa sekarang ia bertingkah seakan-akan tidak peduli apapun lagi.

 

Aish, sudah-sudah. Jangan bertengkar lagi, kalian berdua sudah bersar, kan?” Ibu mencoba melerai. Naluri keibuannya mampu mendeteksi gelombang ketegangan di antara kami berdua—maafkan aku Ibu, tapi ini bukan ketegangan di antara sesama saudara.

 

Aku dan Seohyun sudah lama melewati batas keluarga yang tabu itu—sekarang kami adalah pasangan antara pria dan wanita.

 

“Biarkan saja mereka, yeobo. Kurasa ini adalah pertengkaran pertama mereka setelah sekian lama. Mereka sudah besar dan bisa mendiskusikannya sendiri.” Ayah tampak tenang. Ia berjalan dengan santai meninggalkan ruang makan, diikuti oleh Ibu yang geleng-geleng kepala menatap kami dengan pandangan tak percaya. Aku bisa merasakan kekhawatirannya ketika meninggalkan kami untuk berdiskusi.

 

Hening selama beberapa saat. Ayah dan Ibu sudah berada di luar jangkauan dengar. Namun, ketegangan di antara kami belum mencair. Aku menatap tajam Seohyun yang kini menegakkan punggungnya di kursi makan.

 

“Aku tidak ingin firasat ini benar, Seohyun. Tapi, kurasa kau sengaja menjauhiku.” Aku merasa sedikit frustasi ketika mengatakan ini.

 

“Aku tidak pernah berniat menjauhimu, oppa.” Seohyun tersenyum. Meski begitu, kedua tangannya saling meremas dengan gelisah dan aku menatapnya semakin tajam. “Hanya saja… kurasa akhir-akhir ini kita memang semakin jarang bersama.” Suaranya memelan di akhir kalimat dan ia menunduk, menghindari tatapanku.

 

“Lalu, apa sekarang kau berniat meninggalkanku, eoh?” Aku tidak percaya akan mengatakan ini. Kepercayaan yang kami jaga selama bertahun-tahun seperti memudar seiring dengan sikap menghindarnya akhir-akhir ini.

 

Seohyun bungkam, wajahnya masih menunduk dan aku tidak bisa memastikan bagaimana ekspresinya.

 

Aku berdiri dan menghampirinya. Membungkukkan badan dan aku bisa mencium wangi rambutnya yang tiba-tiba membuatku merindukan pelukan hangatnya. Sudah beberapa bulan ini sikap Seohyun mendadak berubah. Ia secara mengejutkan menolak setiap ciuman, pelukan bahkan gandengan tangan yang kuberikan.Aku sudah tidak pernah meyentuh tubuhnya selama setahun. Karena kupikir, hanya dengan berada di sisinya, aku akan baik-baik saja. Selama Seohyun akan terus bersamaku, aku pasti akan baik-baik saja.

 

Tapi, ternyata aku salah.

 

“Jawab pertanyaanku,” aku tanpa sadar mengguncang pelan bahunya. Jariku gemetar dan ketakutan besar menyerangku seketika. Inilah yang terjadi jika salah satu di antara kami tidak saling percaya.

 

“Dan tatap mataku, Seo Joo Hyun.”

 

Seohyun perlahan mengangkat wajahnya dan kami bertemu pandang.

 

“Tenang saja. Aku tidak akan pernah meninggalkan, oppa.”

 

Aku tersentak. Sepandai apapun Seohyun menyembunyikan perasaannya, aku akan selalu tahu kebenaran hatinya. Kami bukannya baru saling kenal. Kami sudah tinggal bersama sejak kami belia. Menjadi orang terdekat wanita itu, membuatku mengenalnya sebaik aku mengenal diriku sendiri.

 

Perasaannya, kejujurannya, hatinya. Aku bisa membaca itu semua sejelas kau mengintip dari balik kaca jendela yang bening.

 

Dan ketika ia berkata dan tersenyum seperti itu, aku tahu—ia sedang berbohong.

 

 

 

 

“Ini benar-benar membanggakan. Melihat salah satu mahasiswa terbaik di universitas ini menerima beasiswa magister ke Denmark. Kuharap, di sana kau bisa belajar dengan lebih baik, Kyuhyun-sshi.”

 

“Terima kasih, Professor. Saya sangat menghargainya.”

 

Kami berjabat tangan. Professor Park menyalamiku dengan senyum terbaiknya. Kurasa ini adalah senyum terlebar yang pernah kulihat darinya. Jika mengingat kesehariannya yang terkenal killer dalam setiap kelasnya.

 

“Ah, ya. Sampaikan juga pesanku pada adikmu, Seohyun. Kau tahu? Sampai saat ini aku masih kecewa dengan penolakannya. Katakan saja padanya kalau aku masih bisa memasukkannya dalam daftar beasiswa jika dia berubah pikiran.”

 

Aku mengerutkan kening, tidak mengerti dengan arah pembicaraan yang dimaksud oleh Professor Park.

 

“Aku minta maaf, Professor. Tapi, apa yang barusan Anda katakan?”

 

Mwo? Apa adikmu tidak pernah membicarakannya denganmu? Dua hari yang lalu Seohyun datang ke sini untuk menyatakan penolakannya atas beasiswa yang ia terima.” Professor Park sekali lagi menjelaskan apa maksudnya, tampak jelas nada kekecewaan dalam suaranya.

 

Aku semakin bingung. Hal ini semakin jauh dari apa yang kuperkirakan. Kupikir Seohyun akan menerima beasiswa ini. Kami juga sudah pernah membicarakan perihal ini sejak jauh-jauh hari. Dan dari yang kuketahui selama ini, Seohyun juga tidak sabar untuk kuliah dan tinggal di Denmark bersamaku. Kami pasti punya lebih banyak waktu untuk bersama. Tanpa seorangpun yang akan mengenali kami berdua.

 

Tidak bisa kupercaya kalau Seohyun menolak beasiswa ini? Apa yang akhir-akhir ini membuatnya semakin menjauhiku? Ia seperti diam-diam akan meninggalkanku. Apa ia pikir hubungan yang kami jalani sejauh ini hanyalah sebuah permainan, lelucon? Hingga ia bisa dengan mudah mencampakkannya?

 

“Sebenarnya saya belum mendengar apapun tentang penolakannya, Professor. Tapi, saya akan mencoba membujuknya kembali. Terima kasih atas informasi Anda.”

 

“Ah, sama-sama. Aku hanya tidak ingin mahasiswi terbaikku melewatkan kesempatan emas ini.”

 

Professor Park tersenyum tipis. Aku berpamitan dengan membungkukkan badan sebelum keluar dari ruangannya. Bagaimanapun juga kepalaku dipenuhi oleh berbagai pertanyaan.Terlalu banyak hal yang aneh dengan Seohyun akhir-akhir ini.

 

Aku mungkin bisa menerimanya, jika Seohyun memang menginginkan sebuah jarak di antara kami untuk sementara ini. Tapi, menolak beasiswa kali ini sama dengan dirinya hendak menempatkan sebuah jarak yang lebar untuk waktu yang lama di antara kami berdua—yang artinya, Seohyun sedang berusaha meninggalkan sisiku.

 

Dan kuharap firasatku tidak benar.

 

Karena aku takkan pernah bisa melepasnya lagi—walau itu hanya untuk sekejap mata.

 

Seohyun milikku, dan aku miliknya—kami sudah berjanji dan akan kubuat Seohyun mengingatnya sekali lagi.

 

Apapun caranya.

 

 

 

 

Satu jam kuhabiskan dengan berbaring di atas ranjang dengan kelopak mata terbuka. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun tubuhku tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengantuk. Aku masih terjaga dan kepalaku dipenuhi oleh berbagai prasangka. Tubuhku terasa lelah, tapi sikap menjauh Seohyun akhir-akhir ini membuatku gelisah.

 

Benakku berdebat. Antara ingin menemui Seohyun sekarang juga, atau melupakan masalah sejenak dengan menutup mata. Aku perlu tidur, tapi aku tidak bisa.

 

Dan pada akhirnya, di sinilah aku—berakhir di kamar Seohyun, sisi benakku yang ingin bertemu dengan Seohyun menang.

 

Seohyun ada di sana ketika aku ke kamarnya. Wanita itu tengah bersandar di kepala ranjang. Tampaknya ia belum tidur juga, entah itu hal apa yang mengganggu kantuknya. Ia segera menengadahkan wajahnya ketika melihatku datang. Seohyun tersenyum tipis, senyum kecil yang tak mencapai mata.

 

Oppa, apa yang kau lakukan di sini?”

 

Aku enggan menjawabnya. Kubiarkan saja pertanyaan itu menggantung di udara, sementara aku berjalan mendekatinya, kemudian duduk di sisi ranjang yang bersebrangan dengan tempat duduknya.

 

Oppa.”

 

Sekali lagi Seohyun memanggilku dan aku sengaja tidak menjawab pertanyaannya. Pikiranku kosong dan aku tidak punya rencana. Suaraku seperti tertelan ke tenggorakan. Tiba-tiba, ide untuk menemui Seohyun tadi terasa konyol. Aku tidak mengerti apa yang mendorongku untuk melakukan hal ini. Rasanya seperti berubah menjadi pemuda canggung yang bodoh.

 

Seohyun mendesah panjang, ia mengusap wajahnya dengan lelah.

 

“Baiklah, jika oppa tidak punya sesuatu untuk dikatakan. Bisakah oppa pergi dari kamarku? Aku merasa agak lelah, aku ingin tidur sekarang.”

 

Ne, kenapa kau berbohong lagi, Seohyun?

 

Aku tahu betul kalau kau sama sekali belum mengantuk. Kedatanganku mungkin sedikit mengusiknya dan sekarang ia sedang berusaha untuk menghindariku dengan cara sehalus mungkin.

 

“Bohong. Aku tahu kau berbohong, Seo Joo Hyun.”

 

Aku ingin kecewa, sedih dan frustasi melihat tingkah Seohyun yang menghindariku seperti ini. Aku ingin marah dan meneriakinya. Memberitahunya betapa sekarang aku membenci sikapnya—tapi aku tidak bisa.

 

Yang bisa kulakukan hanyalah memandanginya dengan senyum menyedihkan.

 

Aku merindukannya. Aromanya, bibirnya, ciumannya, tubuhnya, bahkan tangan halusnya. Aku rindu segala tentangnya. Aku ingin menyentuhnya dengan segala cara, tapi lagi dan lagi setiap dorongan yang kuterima seakan menguap ke udara. Aku tidak bisa memaksanya. Karena aku masih begitu mencintai dan menghargainya.

 

Oppa.”

 

“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Aku mengerti jika kau ingin sedikit jarak di antara kita. Tapi ada satu hal yang perlu kau ketahui,” tanganku menjangkau wajah Seohyun, kemudian dengan lembut jemariku perlahan-lahan menyisir rambut halusnya. “Kau boleh menjauhiku selama yang kau mau, tapi ingatlah selalu untuk kembali ke sisiku, karena aku takkan bisa hidup tanpamu.”

 

Aku tersenyum. Mungkin, karena sudah terlalu merindukan wanita ini. Aku sudah merasa begitu bahagia hanya dengan menyentuh wajahnya seperti ini—hanya sebuah sentuhan sederhana dan aku merasa hangat seketika.

 

“Oppa, a—aku,” Seohyun tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Karena detik berikutnya, gadis itu balas menekankan wajahnya ke telapak tanganku. Bibirnya menyentuh kulitku dan kupikir aku perlu pengendalian diri ekstra agar tidak menyerangnya detik itu juga.

 

Pipinya perlahan-lahan mulai lembab dan air matanya membasahi tanganku. Ia terisak tepat di telapak tanganku. Bahunya gemetar, hal itu kemudian mendorongku untuk naik lebih jauh ke atas ranjang dan bergerak untuk memeluknya.

 

Untuk pertama kalinya di tahun ini, Seohyun membiarkanku untuk terus memeluknya—dadaku terasa penuh olehnya.

 

“Aku tidak benar-benar ingin menjauhimu, oppa.” Seohyun masih sesenggukan. Ia menurunkan tanganku dari wajahnya kemudian menengadah agar kami bisa bertemu pandang. Untuk sesaat, aku yakin bahwa kali ini Seohyun sama sekali tidak berbohong.

 

“Hanya saja, semua ketakutanku semakin menjadi-jadi, oppa. Semakin aku memikirkannya, semakin pula aku menyadari betapa hubungan kita ini sangat salah. Aku… hanya tahu bahwa kita seharusnya tidak melanjutkan hubungan ini, oppa.” Seohyun meringkuk dalam pelukanku. Ia meremas baju depanku dan tubuhnya telah disandarkan sepenuhnya padaku.

 

“Tapi kurasa, semua usaha ini sia-sia, oppa. Selama kau masih berada di dekatku, aku tidak akan bisa meninggalkanmu. Karena itu—“

 

Seohyun mendorong tubuhku. Secara otomatis, aku terbaring di atas ranjangnya dan Seohyun duduk di atas tubuhku. Ia memandangiku yang berada tepat di bawahnya, setiap helai rambutnya terjatuh dengan halus di antara kedua bahunya. Aku tercengang, sama sekali tidak berkutik ketika gadis itu menarik baju depanku dengan kencang. Lebih tepatnya aku membeku, ini posisi yang membahayakan. Posisi ini seakan memberi kesan bahwa Seohyun juga menginginkanku sebesar aku menginginkannya.

 

Sekalipun aku tidak pernah berakhir di bawah tubuhnya. Dan ini adalah kali pertama Seohyun mendominasi di antara kami berdua.

 

Seohyun mendekatkan wajahnya. Aku harus membangun benteng pertahanan diri yang tinggi, ketika napas kami bertabrakan dan saling menyentuh kulit satu sama lainnya. Ujung hidung kami sudah bersentuhan. Sensasinya membuatku hampir membalikkan posisi sehingga aku bisa berada di atas tubuhnya. Lama-kelamaan, posisi ini bisa menguras kewarasanku yang menipis dengan cepat. Kupikir aku tidak punya cukup pertahanan diri lagi, untuk tidak menerkam wanita yang sudah kurindukan selama berbulan-bulan.

 

Belum lagi remasan tangannya di depan dadaku, seakan menarik tubuhku agar mendatanginya. Ia seperti mengumpankan dirinya dan aku tidak mengerti kenapa Seohyun melakukan ini secara tiba-tiba.

 

“Bercintalah denganku, oppa. Kau bisa melakukan apapun sesukamu dan sepuasmu. Asal setelah itu, kau akan melepaskanku dan aku akan melepaskanmu. Kita akan mengakhiri hubungan ini jika kau merasa puas dan sudah selesai.”

 

Aku tersentak. Permintaan Seohyun membuatku merasa lemas mendadak. Daripada tidak bisa menyentuhnya, aku merasa lebih kehilangan jika Seohyun tidak berada di sisiku, bersamaku.

 

Oppa, tolong~” Seohyun memohon-mohon. Wanita itu bagai mangsa empuk yang siap untuk diserang. Ia sudah menyerahkan diri sepenuhnya. Tapi, aku tidak sedikitpun ingin menerimanya. Karena itu berarti, aku siap untuk meninggalkannya selamanya.

 

“Tidak! Tidak! Aku tidak akan—“

 

Seohyun menyumpal bibirku dengan cepat. Ia menurunkan wajahnya dan mencium bibirku untuk mencegah penolakan yang akan kulontarkan. Mataku masih terbuka sepenuhnya dan tubuhku membeku seketika. Benakku berdebat. Antara ingin balas melumat bibirnya atau mendorong jauh tubuhnya. Ini keputusan yang sulit. Aku sudah tidak menyentuhnya selama setahun, dan tiba-tiba saja Seohyun mengumpankan dirinya dengan konsekuensi terberat bahwa aku harus melepaskannya setelah semua ini berakhir.

 

Aku tidak bisa melakukannya—tentu saja.

 

“Kau keras kepala, Seo Joo Hyun. Kau tahu betul kalau aku tidak akan bisa menolakmu di saat-saat seperti ini.” lirihku dengan napas yang terasa semakin berat. Suhu tubuhku meningkat dan badanku mulai berkeringat. Aku tidak menyangka, lama tidak menyentuh tubuhnya membuat tubuhku dengan cepat terangsang hanya dengan sedikit ciuman.

 

Kudorong tubuh Seohyun hingga membalikkan posisi kami dengan cepat. Aku berada di atas tubuhnya yang terbaring pasrah di bawahku. Pinggulnya berada di antara kedua lututku, sementara kepalanya terperangkap di antara kedua sanggaan tanganku.

 

“Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan, Hyunie…” bisikku dengan perlahan.

 

Kurendahkan wajahku hingga ujung hidungku menyusuri sepanjang garis wajahnya. Napasku menggelitik kulitnya, hingga Seohyun tanpa sadar bergerak-gerak gelisah. Ia memejamkan matanya. Sementara aku menjauhkan lagi wajahku agar bisa memandangi tubuh pasrahnya dengan seringai kecil di bibir.

 

“Kau sengaja menyiapkan rencana ini agar bisa meninggalkanku, eoh?” Kedua tanganku meremas kuat kuat kedua tangan Seohyun. Gadis itu segera membuka matanya dan kami bertemu pandang. Keringatku mengucur deras, seiring dengan ledakan-ledakan hasrat dalam tubuhku yang berteriak meminta dipuaskan oleh tubuh pasrah gadis cantik di bawahku ini. Seohyun terus mengigit bibir bawahnya, tidak mengatakan apa-apa. Tapi perlahan-lahan tarikan napasnya semakin pendek dan berat. Dadanya naik turun, disesaki oleh dorongan nafsu yang membludak di antara kami berdua.

 

Nappeun yeoja.”

 

Seohyun tersentak ketika aku membisikinya seperti itu. Aku menciumnya dengan cepat, sebelum menjauhkan bibirku sekali lagi hingga hanya ujung hidung kami yang bersentuhan. Dalam jarak sedekat itu, kami bertatapan.

 

“Tapi aku pria yang lebih jahat. Karena aku akan menyentuhmu sepuas hatiku, tapi setelah itu, aku tidak akan melepaskanmu. Karena kau adalah milikku.” Dan dengan begitu, sekali lagi aku mencium bibir Seohyun, melumatnya dengan cepat. Aku memuaskan diriku dan dirinya. Seperti yang ia minta. Tapi setelah ini, bahkan jika aku merasa puas sekalipun. Aku tidak akan pernah melepaskannya.

 

“Oppa, kau benar-benar jahat, eungh.”

 

Seohyun berbisik di sela-sela kegiatan kami berdua. Matanya terbuka, dan air mata menggantung di sudutnya. Tapi aku terus melanjutkan kegiatan kami berdua.

 

Aku sudah menulikan telinga dan membutakan mata—karena aku terlalu mencintainya.

 

Ne, aku benar-benar jahat, ya?

 

 

SELFISH

/CHAPTER 3A/

~to be continue~

 

 

Ps: aku tahu fict ini sudah terlalu lama hingga mungkin tidak ada lagi readers yang mengingat ceritanya :”) Chapter depan adalah ending dengan sedikit campuran Seohyun POV.

 

Mind to review?

Iklan

23 respons untuk ‘“SELFISH” /chapter 3A/

  1. hai aku juga reader setia yg nunggu ff ini ..
    kamu berhasil bikin aku hanyut sama ceirta ini TT
    tapi apa kmu tega kalau ini bakal sad end ?*puppy eyes
    yah aku tau ga semua cerita harus happy ending tapi semoga pengorbanan mereka berbuah manis ^^
    fighting

  2. ahhh senangnya ff ini udah dilanjut lagi. Kira2 apakah Seo benar2 ingin mengakhiri hubungan terlarangnya dg Kyu. Dan apakah Kyu akan mengabulkan permohonan Seo dg memberinya jarak dg pergi ke Denmark??? dtunggu next partnya Imouto-chan 🙂 😉 😀 ❤ ❤ ❤

  3. ahhhh akhirnya ff ini dilanjut.. Kenapa Seohyun tiba-tiba berubah kyk gitu sih??? ahh seharusnya Kyuhyun bertindak lebih cepat. Entah kenapa aku suka sama karakter Kyuhyun di part ini… semoga gak sad ending T______T

    1. untuk ending sudah kutentukan akan seperti apa, percaya aja deh sama pilihan author ya~~~ X””D karakter kyuhyun emang selalu manly kok, tapi nanti akan keliatan ke-egoisannya yang bikin hubungan seokyu retak-retak gimana gituh. yah, pokoknya kilmaks dan end chapt depan deh :3

  4. Wow!! Kyu beneran udah jatoh terlalu dalam sm pesona seohyun yaa.. sampe sampe dia bilang sendiri dia itu pria jahat yg gak akan lepasin seohyun.
    Sedih sih sama keputusan seohyun yg gak ambil beasiswa itu dan menghindar dr kyuhyun. Tapi ngerti juga biar gimana wanita pasti lbh punya perasaan sensitif ketimbang mereka yg laki2..
    Semoga mereka bisa nyelesain masalah pelik ini ><

  5. Aku ga sabar tggu part 2 nya di fb, Jadinya baca disini deh xD hoho…
    Omo! Ternyata itu rencana seoo…
    Ahhh… Ternyata next part udh ending… Jangan sampe sad ending yah unn… 😀

  6. akhirx ff ne keluar juga,
    kyu bnr2 terpesona dgn seo smpe ga peduli lw mereka sdra..
    moga z bisa melewati prmslahan yg ada..
    lnjut ne..

  7. habis baca yg “Dua sisi” tapi ga bisa komen di wattpad…
    intinya mah ff ini paling favoriteeeee… paling ditungguuuuu jugaaaaa
    lanjutin secepatnya ya thorrrr, aku ga kuat ngeliat mereka sedih2an gituuu… pengennya hepi2an aja :v
    fighting author sayangggg :*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s