The Wolf and The Red Hair Girl

Kyuhyun tidak menyangka.

Bahwa di antara lembaran hidupnya yang kelam nan hitam, ada sederet momen kebahagiaan.

Yang kesemuanya bersumber dari seorang gadis.

Gadis cantik penyakitan. Rapuh. Penderita hemofili, tapi memiliki senyum bak bidadari. Yang membuat Kyuhyun jatuh pada pandangan pertama.

Seo Joohyun—si bidadari tak bersayap, hampir sekarat, yang mencuri hati seorang Cho Kyuhyun.

seohyun-full-27433

The Wolf and The Red Hair Girl

Diambil dari akun ffn saya Shujeong ‘JunHyunie Story Version’

Anggap aja Seohyun di sini itu warna rambutnya sengaja dicat warna merah

.

.

.

Cho Kyuhyun baru berusia tujuh belas tahun, walau yah minggu depan usianya genap delapan belas tahun.

Tapi apa yang ia alami sepanjang usianya yang masih belia, bahkan takkan sebanding dengan pengalaman seorang pria dewasa.

Kyuhyun—begitu ia biasa disapa, itupun kalau masih ada yang berniat menyapanya. Mengingat pengeroyokan yang terjadi dua bulan lalu, yang mengait-ngaitkan nama Kyuhyun sebagai dalang utama, membuat orang-orang enggan untuk melirik, apalagi untuk menyapanya. Dari pertama ia masuk SMA, hanya segelintir yang berani dekat dengannya. Dan sekarang, jumlahnya nyaris tidak bersisa.

Alasannya?

Karena Kyuhyun berandalan, dan tak ada satupun yang mau berurusan dengan seorang berandal.

Guru-guru Kyuhyun juga tidak mau repot mengurusinya. Ia sudah terkenal sebagai anak nakal. Bolos tiga sampai empat hari dalam seminggu, keluar masuk kelas sesuka hati, tidur sepanjang hari, dan semua itu dilakukan Kyuhyun tanpa ada satupun yang berniat menegurnya. Mereka hanya membiarkannya, sampai Kyuhyun tidak naik kelas dan akan pindah sekolah dengan sendirinya.

Bukan tanpa alasan perilaku Kyuhyun jadi sampai seperti ini. Seperti apa yang orang-orang bilang, bahwa perangai anak berasal dari asuhan dalam rumah. Maka perangai Kyuhyun yang luar biasa buruk—bagi perspektif kebanyakan orang—juga berawal dari didikan dalam rumahnya yang terbilang mengerikan.

Sejak Kyuhyun bisa mendengar, mencerna dan bicara—yang mana terhitung ketika usianya masih sangat muda—Kyuhyun terbiasa mendengar makian, sumpah serapah, suara pukulan dan barang-barang pecah yang dilemparkan. Kyuhyun kecil sering tidak tidur semalaman, karena harus mendengar pertengkaran kedua orangtuanya yang tidak hanya main mulut, tapi juga main tangan sampai adu kekerasan. Kyuhyun tidak ingin mencoba menengahi keduanya, karena pengalaman telah membantunya untuk belajar kalau hal itu adalah perbuatan sia-sia. Bukannya menengahi, yang ada Kyuhyun malah akan dipukuli. Kyuhyun kecil sudah cukup menerima pukulan batin, jadi ia tidak ingin menambah pukulan fisik dari kedua orangtuanya.

Setelah remaja, Kyuhyun tumbuh seperti sebagaimana anak broken home lainnya. Ia menderita insomnia parah, enggan pulang sekolah, dan selalu keluyuran sampai tengah malam. Setiap pukul dua dini hari, Kyuhyun pulang sambil mengendap-endap ke kamarnya di lantai dua, tidak pernah sekalipun ia berusaha melirik ke celah pintu ruang tengah yang sepi bagai tak berpenghuni. Karena jika ia nekat menengok, maka ia akan disuguhi pemandangan yang mengiris nurani, di mana sang Ibu tersungkur dengan lebam di pipi, dan sang Ayah terbaring telungkup di atas sofa dengan luka cakaran di mana-mana.

Kyuhyun lelah.

Melihat itu semua hanya membuat batinnya semakin resah. Hidupnya sudah dibebani banyak masalah. Dan pertengkaran mereka—orang tua Kyuhyun—bukanlah urusan Kyuhyun. Biarlah mereka menyelesaikannya dengan sendirinya—entah dengan cara apapun itu, Kyuhyun tidak peduli. Mengurusi mereka hanya membuat Kyuhyun merasa semakin gundah.

Jadi, Kyuhyun mencoba untuk tidak peduli.

Jika orang tuanya berkelahi di rumah, maka Kyuhyun berkelahi di jalanan. Di gang-gang sempit yang penuh kotoran dan jalan tikus bercahaya temaram. Kyuhyun seperti magnet, bagi anak-anak nakal, berandal dan kawanan preman murahan. Yang ia lakukan hanya diam, sementara para brengsek dan bajingan mendatanginya berbondong-bondong seperti anak kecil yang berebut permen dan mainan. Kyuhyun tidak pernah coba cari masalah, tapi masalahlah yang selalu datang mencarinya. Menjebaknya dalam persoalan-persoalan yang tidak pernah jauh dari perkelahian dan pengeroyokan.

Ia sering babak belur, berdarah-darah, sampai pulang dengan kaki agak pincang, tapi satu yang pasti, Kyuhyun selalu keluar sebagai pemenang.

Ia tidak pernah kalah, dan hal itu sebenarnya malah menambah daftar masalah Kyuhyun dengan para bajingan tersebut.

Mereka menyerang, Kyuhyun menang, mereka kalah, lalu kembali menyerang dan Kyuhyun lagi-lagi menang; persis seperti lingkaran setan, yang tidak berujung dan tidak pernah berakhir.

Membuat Kyuhyun merasa dua kali lipat lebih lelah terhadap hidupnya yang menyesakkan, tak ubahnya seperti saat kau menghisap debu atau asap kendaraan; kejadiannya terjadi begitu cepat, dan tiba-tiba dadamu terasa sesak.

Kyuhyun mengenal banyak orang. Mereka datang lalu pergi secara silih berganti. Membuat Kyuhyun terbiasa merasa didekati, lalu sedetik kemudian dijauhi. Ia juga sering diludahi—terutama oleh para bajingan—sebanyak Kyuhyun juga sering meludahi orang. Terlebih ketika ia selesai menghajar orang dengan tangannya yang berdarah. Orang-orang menatapnya dengan berbagai pandangan. Tapi yang pasti, pandangan ramah dan menyenangkan tidak pernah masuk di dalamnya. Bahkan oleh orangtuanya, yang selalu memandang Kyuhyun dengan tatapan skeptis dan menuduh. Seolah-olah Kyuhyun adalah penyebab semua masalah mereka—atau memang benar seperti itu kenyataannya.

Tapi entahlah.

Kyuhyun merasa seperti ia bermimpi. Saat di satu malam minggu yang kelabu, Kyuhyun berjalan tertatih dengan darah mengucur di bahu. Lebam di pipi dan luka robek di sudut bibir tidak menghalangi langkah Kyuhyun untuk menjauh dari lapangan tempat ia dikeroyok sepuluh atau lima belas menit yang lalu. Kyuhyun masih belum tahu ke mana tujuannya, saat kakinya tiba-tiba sampai di pekarangan gedung bercat putih sambil bersandar di atas tembok yang dingin dan menjulang tinggi.

Kyuhyun terengah, berdarah-darah, dan sebentar lagi ia akan tertidur di tempat antah berantah ini sepanjang malam—jika memang tidak ada orang yang benar-benar berkenan untuk menolongnya. Tapi toh, tak mengapa. Kyuhyun sudah terbiasa. Orang-orang memang selalu menghindarinya, mereka enggan untuk terlibat dalam masalah Kyuhyun. Apalagi Kyuhyun adalah magnet dari masalah itu sendiri.

Karena itu, Kyuhyun merasa sangat luar biasa ketika seseorang menyapanya.

“Oh, astaga! Kau berdarah!”

Kyuhyun sebenarnya enggan membuka mata. Orang ini paling akan kaget selama beberapa detik lalu meninggalkannya seperti biasa. Para warga sudah mengenalnya, sebagai remaja tanggung paling bermasalah di kota. Hanya segelintir yang nekat membantu Kyuhyun. Itupun, biasanya mereka hanya memanggilkan ambulans lalu pergi begitu saja.

Dan di antara segelintir orang nekat itu adalah gadis ini.

Gadis dengan rambut merah menyala. Yang tampak semakin menyala dan bercahaya di bawah sorotan lampu jalan.

“Aku akan panggilkan ambulans untukmu.”

Kyuhyun hanya tidak tahu, kalau sejak hari itu, ada semacam benang merah tak kasat mata yang menghubungkan mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jika hidup seorang Cho Kyuhyun diibaratkan dengan sebuah kanvas, maka kanvas kehidupan Kyuhyun hanya diisi oleh warna-warna gelap nan kelam. Namun sejak bertemu Seohyun, kanvas Kyuhyun seolah dihiasi warna-warni yang belum pernah Kyuhyun rasakan sebelumnya. Warna-warna yang dibawa oleh seorang Seo Joohyun tidaklah cerah atau mencolok seperti warna kuning dan jingga.

Justru, warna-warna yang cocok untuk mengkonotasikan seorang Seo Joohyun, adalah warna-warna pastel yang tampak kalem, tenang, damai dan menghangatkan. Seohyun seperti selimut. Yang menghangatkan Kyuhyun di tengah dinginnya rasa kesepian.

Kyuhyun seolah membeku, sampai datang seorang Seohyun yang secara perlahan memberi warna dalam kehidupannya yang kelam. Seohyun mungkin tidak sehebat api unggun, yang bisa mencairkan jari-jari beku Kyuhyun dengan sangat cepat. Tapi Seohyun sang ‘selimut’ mampu menyentuh titik terbeku dalam diri seorang Kyuhyun. Lalu mencairkannya secara perlahan-lahan, sangan pelan, lamban, namun pasti.

Sampai Seohyun berhasil mengetuk pintu hati Kyuhyun yang berdebu dan terlalu lama tidak pernah terbuka—Kyuhyun bahkan mengira ia tidak pernah punya pintu hati lagi sampai gadis itu menemukannya sendiri.

Dalam kurun waktu tiga bulan tiga belas hari, Kyuhyun sadar bahwa Seohyun telah menawan hatinya, membuatnya terpesona dan jatuh cinta untuk kali pertama.

Padahal Seo Joohyun bukan pahlawan wanita. Ia cuma gadis biasa—yang secara kebetulan berhasil mencairkan hati beku Cho Kyuhyun.

Sehari-hari, Seohyun menghabiskan waktunya di rumah sakit. Tempat berbau steril yang menjadi tempat pertemuan pertamanya dengan Kyuhyun, yang sudah dianggapnya seperti rumah sendiri. Ia tumbuh dan hidup di tempat itu. Semua dokter, perawat, bahkan tukang kebun rumah sakit sudah mengenalnya sebagai bagian dari rumah sakit yang tak terpisahkan.

Bukan tanpa alasan.

Rasanya tidak ada seorangpun di dunia ini yang senang tinggal di rumah sakit—tapi Seohyun mencoba menikmatinya.

Seohyun adalah wanita penderita hemofili dengan usia terpanjang di dunia.

Umurnya sudah mencapai enam belas tahun, dan ia termasuk gadis hemofili paling beruntung. Karena gadis-gadis lain sesama penderita semuanya meninggal di usia muda, kebanyakan tidak bisa bertahan dan meregang nyawa karena kehabisan darah saat mengalami menstruasi pertama mereka.

Hemofili—penyakit darah sukar membeku.

Penderitanya tidak boleh terluka, karena sekali terluka maka tidak akan bisa menutup dengan sempurna. Hal ini berpotensi pada kematian karena kehabisan darah. Tapi Seohyun divonis mandul sehingga ia tidak pernah mendapatkan masa menstruasinya.

Sebab itu, Seohyun masih bertahan sampai saat ini.

Seohyun benci pada takdirnya. Seperti gadis-gadis remaja lainnya, ia juga ingin bersekolah di sekolah umum biasa tanpa khawatir terluka dan mati kehabisan darah. Siapapun pasti tidak ingin menderita penyakit ini, tidak terkecuali Seohyun. Tapi apa yang dialami Seohyun tidak sebanding dengan apa yang dirasakan orangtuanya. Mereka sudah mengucurkan banyak air mata, keringat dan darah agar Seohyun bisa tetap hidup hingga detik ini.

Satu-satunya hal yang lebih mengerikan daripada menjadi penderita hemofili, adalah memiliki anak yang mengidap hemofili.

Maka Seohyun tidak ingin menambah beban seberat dua buah gunung yang sudah ditanggung orangtuanya. Ia tidak ingin terlihat sedih. Maka ia menjadi gadis yang periang. Ia tidak ingin terlihat murung. Maka Seohyun menutupinya dengan tawa dan senyuman.

Walaupun orangtuanya sangat penyayang, ada kalanya Seohyun merasa sesak dengan topeng kepura-puraan yang ia kenakan.

Ada kalanya Seohyun ingin menangis dan merutuki nasibnya.

Lalu Cho Kyuhyun datang dengan dua buah pundak yang selalu siap untuk dipinjam sebagai sebuah sandaran.

Seohyun dan Kyuhyun sangat berkebalikan. Kontras. Berlawanan. Sangat berbeda satu sama lainnya.

Tapi saling mengisi dan melengkapi—seperti sepasang keping puzzle yang sempurna ketika bersama.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sejak mengenal Seohyun. Kyuhyun banyak berubah.

Ia tidak pernah lagi bolos sekolah, selalu memperhatikan pelajaran dan semakin jarang terlibat dalam aksi perkelahian. Walau sekali dua kali, ia masih tetap dicegat oleh beberapa preman dan dengan sangat terpaksa harus beradu jotos dengan mereka semua.

Setiap pulang sekolah, Kyuhyun selalu mampir ke rumah sakit untuk menengok Seohyun. Gadis dengan rambut semerah apel itu senang sekali setiap Kyuhyun mampir untuk berkunjung. Karena setidaknya, ia tidak lagi merasa terlalu kesepian. Kyuhyun selalu menemaninya sampai jam besuk malam di rumah sakit berakhir. Terkadang mereka menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di sekitar lingkungan rumah sakit, bermain permainan yang tidak membahayakan, membaca buku, menonton atau mengerjakan tugas sekolah Kyuhyun yang banyaknya minta ampun karena bertumpuk tidak pernah dikerjakan, tapi yang paling sering, Kyuhyun dan Seohyun mengobrol di kamar sampai mulut mereka terasa kering. Kyuhyun senang tiap mendengar Seohyun bicara. Aksennya yang khas dan lucu membuat Kyuhyun betah berlama-lama mendengarkan Seohyun bercerita. Namun karena keterbatasan pengalaman hidup, maka Seohyun-lah yang sering meminta Kyuhyun bercerita tentang kehidupannya.

Kyuhyun berusaha sebisa mungkin untuk meninggalkan kisah-kisah hidupnya yang kelam, dan mengangkat cerita-cerita yang lebih umum dan terdengar lebih normal bagi Seohyun—karena bagaimanapun, kebanyakan dari kisah hidup Kyuhyun sangat tidak bermoral.

Ada kalanya Seohyun menunggu kedatangan Kyuhyun sepanjang hari, tapi batang hidung mancung milik Kyuhyun sama sekali tak tampak secuil pun. Maka Seohyun harus menghabiskan harinya seorang diri tenggelam dalam kebosanan yang semakin lama terasa semakin membunuh.

Sekali lagi bukan tanpa alasan.

Melainkan karena Kyuhyun tidak ingin membesuk Seohyun dengan wajah babak belur bekas perkelahian tidak diundang yang ia terima di jalanan. Selama beberapa hari, Kyuhyun dengan frustasi mencoba berbagai macam varian salep untuk mengobati lebam-lebam yang ia derita. Agar keesokan hari wajahnya bisa kembali seperti sedia kala dan ia bisa menemui Seohyun lagi seperti biasa.

Kyuhyun tidak ingin terluka apalagi sampai mengucurkan darah di hadapan orang yang tidak boleh meneteskan darah seperti Seohyun.

Walaupun Kyuhyun seorang berandal—atau mungkin bisa disebut mantan berandal, ia termasuk orang yang sangat peka. Tidak terkecuali terhadap pandangan orangtua Seohyun setiap berpapasan dengan Kyuhyun yang sedang mendekati anak gadis mereka.

Kyuhyun terkenal seantero kota akan sikap kurang baiknya, ia tidak bisa menyalahkan sikap Tuan dan Nyonya Seo seandainya mereka mencoba memisahkan Kyuhyun dan Seohyun. Karena orangtua manapun pasti mengingkan yang terbaik untuk anak mereka. Dan Kyuhyun sadar, ia bukan pemuda yang cukup baik untuk seorang Seo Joohyun.

Sore hari minggu itu, Kyuhyun yang sedang terburu-buru menuju rumah sakit berpapasan dengan sekelompok bajingan yang menjadi musuh bebuyutannya. Kyuhyun lagi-lagi dikeroyok dan balas mengeroyok mereka semua sampai lari pontang-panting meninggalkan Kyuhyun.

Ia menderita luka robek di pelipis dan sudut bibir, dan kedua buku tangan yang terus meneteskan darah. Kyuhyun tidak mungkin menemui Seohyun dalam keadaan bonyok seperti ini, tapi insting seorang pemuda jatuh cinta miliknya justru membawa Kyuhyun melangkah ke sekitar lingkungan rumah sakit. Ia bersembunyi, mengintip di balik tembok tinggi hanya untuk melihat sekilas wajah cantik Seo Joohyun dan rambutnya yang mencolok bak apel merah yang ranum.

Kyuhyun berencana pulang setelah memuaskan instingnya dengan mengintipi senyum Seohyun. Tapi sebuah suara dewasa yang familiar menginterupsinya.

“Cho Kyuhyun?!”

Kyuhyun menoleh sebentar untuk menemukan Tuan Seo yang perlahan menghampirinya

“Eh, Paman Seo? Ah, ne, annyeong haseyo.”

Kyuhyun membungkuk sopan, tapi orangtua Seohyun tampak memberikan tatapan menilai yang terasa menuduh. Orangtua Seohyun mengawasi satu persatu luka yang diderita Kyuhyun lalu mendesah.

“Cho Kyuhyun.”

“Ya, Paman?”

“Tolong jauhi Seo Joohyun.”

“Ya, Pa—A-apa?! Jauhi Seohyun? Tidak Paman, aku tidak bisa.”

Tuan Seo tampak memijat pelan batang hidungnya. Kelihatannya sedikit kesal dengan jawaban Kyuhyun.

“Ayolah, Kyuhyun. Aku tahu kau menyukai anakku. Tapi tolong pikirkan juga masa depannya. Aku ingin yang terbaik untuk dirinya. Bisa hidup lebih lama saja sudah sebuah anugerah baginya. Aku tidak bisa biarkan dia berdekatan dengan orang sembarangan. Sewaktu-waktu kau bisa saja membawa pengaruh buruk baginya.”

“Tapi, Paman—“

“Cukup, Kyuhyun. Tolong turuti permintaan Paman, sekali ini saja. Demi kebaikan Seohyun, Kyuhyun. Seo Joohyun.”

Kyuhyun dilema. Di satu sisi ia mengerti dengan keinginan Tuan Seo. Tapi di sisi lain ia punya ego yang tinggi untuk tidak pernah melepaskan Seohyun yang selama ini menjadi satu-satunya cahaya dalam kehidupan Kyuhyun.

“Paman.” Kyuhyun mencoba melompati tembok rumah sakit dengan dua telapak tangan yang terluka dan masih terus mengucurkan darah. Tuan Seo mundur dua langkah, saat Kyuhyun berlutut di atas rerumputan yang basah.

“Dengan segala hormat aku memohon padamu untuk tidak memintaku menjauhi Seohyun. Aku tahu aku sangat tidak berguna dan tidak bisa diandalkan. Aku adalah berandalan. Aku bahkan tidak mengerti kenapa aku bisa tertarik pada Seohyun. Ini baru pertama kali kurasakan. Seohyun sudah memberiku cahaya yang tidak bisa kutemukan sebelumnya. Demi Seohyun, aku akan berubah. Aku siap untuk menjaga dan melindunginya. Bahkan saat ini pun, aku terpikir untuk menikahi Seohyun walau itu hal yang mustahil, Paman.”

Tuan Seo tercenung. Menatap ke arah Kyuhyun yang terus menunduk sambil berlutut.

“Apa yang kau katakan tadi benar, Kyuhyun-oppa?”

Lalu gadis berambut apel yang sangat Kyuhyun rindukan itu muncul dengan sepasang mata yang tampak berkaca-kaca. Seumur hidupnya, belum pernah ada laki-laki yang mengatakan hal semanis itu padanya. Kyuhyun sangat perhatian dan menjaganya. Tidak ada alasan bagi Seohyun untuk menolak lelaki itu di saat ia juga merasakan hal yang sama.

“S-Seohyun?”

“Kyuhyun-oppa. Aku bertanya sekali lagi apa yang tadi itu benar-benar perasaanmu yang sesungguhnya?”

Seohyun sebenarnya tidak ingin terdengar terlalu berharap, namun apa daya ia hanya seorang wanita biasa. Baru kali ini ada laki-laki yang secara terang-terangan mengatakan suka bahkan siap untuk melamarnya sekarang juga.

Seohyun bahagia—sangat bahagia.

“Ya, Hyunie. Oppa jatuh cinta pada Hyunie, bahkan bermimpi untuk menikahi Hyunie saat kita sama-sama dewasa nanti.”

Seohyun menutup mulutnya, tidak kuasa menahan air mata yang menetes di pipi tanpa suara. Tuan Seo lalu menghampiri putri tercintanya.

“Tapi Hyunie tidak bisa hamil. Hyunie tidak bisa punya anak. Hyunie penyakitan. Tidak boleh terluka dan tidak boleh memasak. Setiap hari hanya di rumah sakit dan Hyunie tidak tahu sampai kapan Hyunie masih bisa bernapas. Apa oppa yakin?”

Oppa sangat yakin. Bahkan meski nanti kau tidak bisa berjalan dan tidak bisa punya anak. Oppa sendiri yang akan menggendongmu ke manapun Hyunie inginkan. Kita bisa mengadopsi anak dan merawatnya bersama-sama. Apapun oppa akan lakukan asal itu bersama Hyunie.

Seohyun semakin menangis terharu di bahu Tuan Seo. Terlebih ketika Kyuhyun yang berlutut beringsut di depan kakinya dan memohon.

“Kyuhyun-oppa.”

“Ya?”

“Tolong tunggu Hyunie sepuluh tahun lagi, bisa?”

Lalu Kyuhyun tersenyum secerah warna merah rambut Seohyun yang tertimpa cahaya mentari sore. Luka robek di pelipis dan sudut bibirnya tidak bisa mencegah Kyuhyun untuk tertawa bahagia bersama Seohyun yang masih tersedu haru.

“Sepuluh atau dua puluh tahun sekalipun. Oppa pasti akan menunggumu. Dan perasaan oppa tidak akan berubah sedikitpun, Hyunie.”

END

(1) ending asli maksa banget.

(2) anggap aja seo itu punya rambut yang sengaja dia cat warna merah

(3) bayangin kyu jadi berandal itu aduh seksinya

(4) sekali lagi ini bukan plagiat, karena ini ff saya di akun ffn shujeong dengan cast junHyunie. Kalau tidak percaya ya tidak apa-apa

(5) saya minta maaf kalau ada typo dan kesalahan teknis lainnya, malas edit dan baca lagi. cuman ganti cast doang :”3

(5) asli judul ngambil dari plesetannya "The Wolf and The Red Riding Hood Girl" wkwk

 

Iklan

2 thoughts on “The Wolf and The Red Hair Girl

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s